Mengenal Gamofobia, Ketakutan Seseorang untuk Menikah

Mengenal Gamofobia, Ketakutan Seseorang untuk Menikah

Arina.id ~ Menurut data statistik, sepanjang tahun 2022 setidaknya terdapat 1,7 juta pernikahan yang tercatat secara resmi di Indonesia. Angka ini menurun 2,1% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1,74 juta pernikahan.

Angka pernikahan nasional pada 2022 disebut terendah dalam satu dekade terakhir. Hal ini didorong dengan menurunnya tren pernikahan di Tanah Air semenjak 2012, yang merupakan angka tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.

Sebenarnya tidak sedikit orang mendambakan pernikahan dengan orang yang dicintai. Namun, beberapa orang memiliki ketakutan berlebihan terhadap pernikahan. Ketakutan akan menjalin hubungan pernikahan inilah yang kemudian disebut Gamafobia.

Gamofobia adalah ketakutan berlebih akan komitmen atau pernikahan. Sama dengan fobia lainnya, gamafobia juga bisa menyebabkan seseorang terkena serangan panik. Pengidap gamofobia biasanya akan berkeringat, pusing, hingga merasakan jantung berdegup kencang ketika sedang membicarakan perihal pernikahan atau membangun komitmen dengan seseorang.

Dilansir dari artikel Gamophobia, The Fear of Commitment and Marriage, data statistik mengenai pengidap gamafobia saat ini masih sulit ditemukan. Hal itu dikarenakan tidak banyak pengidap gamofobia yang mencari bantuan profesional untuk menangani fobianya.

Penyebab Gamafobia

Fobia spesifik seperti gamafobia tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang sejak dini. Ini tidak disebabkan oleh satu hal, melainkan berbagai hal. Bisa jadi, gamofobia merupakan respons terhadap sesuatu yang dipelajari atau diamati saat kecil dari perilaku orang-orang di sekitar, orang tua misalnya.

Ketakutan akan pernikahan atau ketakutan untuk membangun sebuah komitmen bisa muncul akibat trauma tertentu, seperti menyaksikan pertengkaran orang tua atau melihat keduanya bercerai. Memang, saat itu anak-anak belum bisa berpikir dewasa, akan tetapi mereka belajar bahwa konflik dalam pernikahan tidak memiliki jalan keluar. Sehingga, mereka akan mengikuti jejak orang tuanya ketika sudah dewasa.

Selain disebabkan oleh perilaku orang-orang di sekitar, gamofobia juga dapat disebabkan oleh hubungan di masa lalu. Kehilangan orang yang paling disayang adalah hal yang menakutkan. Agar hal serupa tidak terjadi, pengidap gamafobia enggan menjalin hubungan kembali demi menghindari rasa takut yang sebelumnya pernah mereka rasakan.

Penyebab gamofobia tidak selalu berasal dari faktor eksternal. Beberapa orang mungkin mengidap fobia, seperti gamofobia karena faktor genetik. Adapun tanda-tanda gamofobia di antaranya:

  1. Munculnya rasa takut secara berlebihan ketika memikirkan pernikahan atau hubungan dengan seseorang
  2. Mengakhiri hubungan demi "melindungi diri" dari rasa takut
  3. Merasa cemas atau tertekan ketika berada dalam suatu hubungan

Saat memikirkan pernikahan, pengidap gamofobia juga akan merasakan gejala seperti:

  1. Jantung berdegup kencang
  2. Berkeringat
  3. Sesak napas
  4. Nyeri dada
  5. Sakit kepala ringan
  6. Mual
  7. Muka memerah

Sama seperti fobia pada umumnya, gamofobia yang memberikan dampak siginifikan kepada pengidapnya. Gejala-gejala tersebut bisa berlangsung selama enam bulan atau lebih.

Cara Menangani Gamofobia

Langkah pertama menangani fobia adalah menyadari adanya rasa takut berlebihan terhadap sesuatu dan berkeinginan kuat untuk menyembukannya. Dalam kasus gamofobia, cobalah untuk menyadari rasa takut yang muncul akibat memikirkan atau membicarakan perihal pernikahan. Jika penderitanya sedang menjalin hubungan, jujur pada pasangan adalah langkah terbaik. Sebab mereka akan tahu lebih banyak dan lebih dalam tentang masa lalu pasangannya. Mereka juga tahu bahwa pasangannya sedang belajar terlepas dari masa lalunya.

Untuk menyembuhkan gamofobia, orang yang takut akan pernikahan juga perlu mencari tahu apa alasan atau penyebab yang menjadikannya takut untuk berkomitmen dengan seseorang. Pada akhirnya, penyembuhan gamofobia ada pada kesadaran pengidapnya.

Gamogobia atau ketakutan berlebihan yang disebabkan oleh fobia lainnya bisa mengubah hidup seseorang. Penelitian tahun 2016 berjudul Associations of specific phobia and its subtypes with physical diseases: an adult community study menunjukkan bahwa fobia menyebabkan pengidapnya memiliki kemungkinan lebih tinggi terkena penyakit fisik. Maka dari itu, jika seseorang mengidap suatu fobia, termasuk gamofobia, dan tidak bisa mengatasinya sendiri, berkonsultasilah dengan ahli kesehatan medis.

Pengobatan Gamofobia

Gamofobia sejatinya bisa disembuhkan tanpa bantuan ahli kesehatan mental. Namun, apabila pengidap gamofobia tidak dapat mengatasinya sendiri, pengobatan bisa dilakukan dengan mengikuti terapi-terapi yang disediakan oleh ahli medis. Adapun jenis-jenis terapi yang dapat menyembuhkan gamofobia, di antaranya:

Terapi perilaku

Teori yang diterapkan dalam terapi perilaku adalah bahwa perilaku dapat dipelajari dan dapat diubah. Melalui terapi perilaku, ahli medis akan mengidentifikasi perilaku spesifik yang merusak diri pengidap gamofobia. Setelah itu, pengidapnya akan diminta untuk mempraktikkan strategi yang telah dirancang untuk menyembuhkan perilaku yang sebelumnya sudah diidentifikasi.

Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT) adalah terapi yang bisa membantu pengidap gamofobia melihat bagaimana pikiran dapat memngaruhi perilaku. Pada terapi ini, kemungkinan besar terapis akan memberikan arahan terkait tahapan yang perlu diikuti oleh pengidap gamofobia dalam beberapa sesi. Seiring berjalannya waktu, pengidap gamofobia akan belajar bagaimana mengubah pola pikir dan perilakunya.

Terapi psikodinamik

Terapi psikodinamik dan terapi bicara lainnya, atau yang juga dikenal dengan psikoterapi adalah terapi di mana pengidap fobia dibebaskan untuk mengungkapkan perasaan terdalam mereka tanpa dihakimi. Terapi ini dapat membantu pengidap gamofobia memahami fobianya sendiri dan bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Terapi psikodinamik mencakup sesi individu, pasangan, dan kelompok.

Walaupun terapi perilaku dan CBT adalah terapi yang paling banyak digunakan untuk mengatasi berbagai fobia, terapi psikodinamik merupakan terapi yang paling dipercaya efektif menyembuhkan gamofobia. Hal ini dikarenakan gamofobia mungkin merupakan respons terhadap hubungan pengidap dengan diri sendiri atau dengan orang di sekitar.

Mengonsumsi obat
Selain terapi, meminum obat juga bisa membantu menyembuhkan gamofobia. Mintalah ahli medis untuk meresepkan antidepresan, obat untuk mengatasi gangguan kecemasan dan gangguan serangan panik.
 


Editor: Muhammad Zunus
logo