Arina.id - Beberapa hari ini video TikTok diramaikan dengan tren Setor Hafalan Tob Tobi Tob yakni menyanyikan peggalan syair legendaris yang berjudul Shautu Shafiril Bulbuli karya penyair Islam klasik yang sangat fenomenal yaitu Abdul Malik bin Quraib al-Ashma’i.
Para pengguna TikTok tersebut menyanyikan penggalan syair itu sesuai dengan lantunan Ahmed El Qatane dan menjadikannya sebagai latar suara (backsound) video.
Syair ini terbilang rumit dan sulit dihafalkan di samping kisah di balik penyusunannya antara al-Ashma’i dan Khalifah al-Manshur yang telah penulis paparkan sebelumnya, syair ini juga mempunyai arti dan makna yang unik.
Berikut teks syair tersebut sesuai dalam catatan kitab I’lamun Naas bi ma Waqa’a lil Baramikah Ma’a Bani Abbas karya Syek Muhammad Diyab al-Atlidi [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2004. Hal. 85], dan terjemahnya:
صَوْتُ صَفيرِ البُلْبُلِ # هَيَّجَ قَلْبِيَ الثَمِلِ
Suara burung Bul bul menggugah hatiku yang sedang mabuk asmara
المَاءُ وَالزَّهْرُ مَعَاً # مَعَ زَهرِ لَحْظِ المُقَلِ
Wajahnya bagai mawar menteskan air di antara mawar-mawar yang indah
وَأَنْتَ يَاسَيِّدَ لِي # وَسَيِّدِي وَمَوْلَى لِي
Dan engkau wahai tuanku pemimpinku dan penguasaku
فَكَمْ فَكَمْ تَيَّمَنِي # غُزَيِّلٌ عَقَيْقَلي
Berkali-kali pesona cantiknya bagai rusa kecil dan batu merah merona membuatku jatuh hati
قَطَّفْتُ مِنْ وَجْنَتِهِ # مِنْ لَثْمِ وَرْدِ الخَجَلِ
Ku petik mawar dari pipi merahnya yang tersipu malu
فَقَالَ بَسْ بَسْبَسْتَنِي # فَلَمْ يَجُد بالقُبَلِ
Dia berkata “cukup, jangan lakukan” mawar itu malu untuk dicium
فَقَالَ لاَ لاَ لاَ ثم لاَ لاَ لاَ # وَقَدْ غَدَا مُهَرْوِلِ
Dia berkata “tidak, tidak” dengan malu dia berlari kecil
وَالخُودُ مَالَتْ طَرَبَاً # مِنْ فِعْلِ هَذَا الرَّجُلِ
Wanita cantik itu tertunduk senang melihat prilaku pria ini
فَوَلْوَلَتْ وَوَلْوَلَتُ # وَلي وَلي يَاوَيْلَ لِي
Dia berserapah dan aku takut akan tertimpa celaka
فَقُلْتُ لا تُوَلْوِلِي # وَبَيِّنِي اللُؤْلُؤَ لَي
Aku berkata “jangan berteriak, tunjukkan aku senyum gigi indahmu bagai mutiara”
لَمَّا رَأَتْهُ أَشْمَطَا # يُرِيدُ غَيْرَ القُبَلِ
Ketika dia melihat pria tua beruban itu, pria itu ingin merubah penampilannya
وَبَعْدَهُ لاَيَكْتَفِي # إلاَّ بِطِيْبِ الوَصْلَ لِي
Setelah itu tidak cukup kecuali hanya dengan hubungan baik bagiku
قَالَتْ لَهُ حِيْنَ كَذَا # انْهَضْ وَجِدْ بِالنَّقَلِ
Ketika itu dia berkata “bangkitlah dan cari minuman sampai dapat”
وَفِتْيَةٍ سَقَوْنَنِي # قَهْوَةً كَالعَسَلَ لِي
Pemuda datang padaku membawa arak rasanya bagai madu bagiku
شَمَمْتُهَا بِأَنْفِي # أَزْكَى مِنَ القَرَنْفُلِ
Aku menghirup wangi madu itu lebih harum dari bunga anyelir
فِي وَسْطِ بُسْتَانٍ حُلِي # بالزَّهْرِ وَالسُرُورُ لِي
Ku terima madu itu di taman indah penuh mawar yang membuatku bahagia
وَالعُودُ دَنْ دَنْدَنَ لِي # وَالطَّبْلُ طَبْ طَبَّلَ لِي
Kecapi berdendang, genderang berbunyi mendekatiku
طَب طَبِ طَب طَبِ # طَب طَب طَبَ لي
Tab tabi tab tabi tab tabi bunyi itu menggembirakanku
وَالسَّقْفُ قَدْ سَقْسَقَ لِي # وَالرَّقْصُ قَدْ طَبْطَبَ لِي
Langit-langit rumah diterpa angin bagai suara burung pipit, tari-tarian membuatku senang
شَوَى شَوَى وَشَاهِشُ # عَلَى وَرَقْ سَفَرجَلِ
Daging-daging panggang tersaji di atas daun buah pir
وَغَرَّدَ القَمْرُ يَصِيحُ # مِنْ مَلَلٍ فِي مَلَلِ
Burung tekukur bernyanyi di tengah alunan musik dan tarian membuatku senang
فَلَوْ تَرَانِي رَاكِباً # عَلَى حِمَارٍ أَهْزَلِ
Andai kalian melihatku menaiki himar yang lemah
يَمْشِي عَلَى ثَلاثَةٍ # كَمَشْيَةِ العَرَنْجِلِ
Himar itu berjalan dengan tiga kaki bagai lelaki pincang
وَالنَّاسُ تَرْجِمْ جَمَلِي # فِي السُوقِ بالقُلْقُلَلِ
Orang-orang di pasar melempari himarku yang bagaikan unta dengan guci
وَالكُلُّ كَعْكَعْ كَعِكَعْ # خَلْفِي وَمِنْ حُوَيْلَلِي
Mereka semua menakut-nakutiku dari belakang dan sampingku
لكِنْ مَشَيتُ هَارِبا # مِنْ خَشْيَةِ العَقَنْقِلِي
Aku kabur berlari takut mati seperti mereka yang di gundukan pasir dekat sumur Badar
إِلَى لِقَاءِ مَلِكٍ # مُعَظَّمٍ مُبَجَّلِ
Menuju raja agung yang mulia
يَأْمُرُلِي بِخِلْعَةٍ # حَمْرَاءُ كَالدَّمْ دَمَلِي
Dia memberiku jubah kerajaan berwarna merah bagai darah
أَجُرُّ فِيهَا مَاشِياً # مُبَغْدِدَاً للذيَّلِ
Kupakai jubah itu, aku berjalan dengan terhormat bangga diri
أَنَا الأَدِيْبُ الأَلْمَعِي # مِنْ حَيِّ أَرْضِ المُوْصِلِ
Aku sastrawan cerdas yang tinggal di Mosul
نَظَمْتُ قِطَعاً زُخْرِفَتْ # يَعْجَزُ عَنْهَا الأَدْبُ لِي
Ku untaikan syair indah bagai kalung mahal yang tidak bisa ditulis oleh sastrawan lain
أَقُولُ فِي مَطْلَعِهَا # صَوْتُ صَفيرِ البُلْبُلِ
Aku ucapkan dipermulaannya “Shautu Shafiril Bulbuli”
Editor: Muhammad Faizin
