Pangku: Kelindan Kegetiran-Kejujuran

Pangku: Kelindan Kegetiran-Kejujuran

Debut penyutradaraan Reza Rahadian lewat Pangku bukan semata switch kariernya, justru terbaca sebagai pernyataan emosional yang dalam. Film Pangku lahir dan besar dari ruang personal, di mana hubungan dalam keseharian dan realitas berkelindan apik, antara ibu-anak. 

"Perjuangan seorang ibu dalam membesarkan kita, tidak bisa kita bayar sampai kapan pun,” ujar Reza dalam satu wawancara, tak sekadar bercerita tentang figur perempuan tangguh, tetapi juga menulis dan mengarahkan potret realita sosial yang kerap luput dari perhatian, yakni tentang ibu tunggal, pilihan yang tak selalu bisa dipilih.

Reza menyebut Pangku sebagai “surat cinta” untuk sang ibu. Dalam film ini, ia menyatukan kenangan sekaligus luka yang belum benar-benar sembuh. Inspirasi cerita datang dari kehidupan ibunya sendiri, seorang perempuan yang harus menanggung banyak beban tanpa pernah kehilangan martabat. 

“Ibu saya itu selalu mengingatkan bahwa judgement is allowed if you’re a judge, if you’re not a judge you don’t have the right to judge karena kita nggak ada di sepatu mereka,” katanya menjelaskan landasan moral di balik cerita. Pernyataan itu tak sebatas tutur bijak atau petuah. Lebih merupa cermin dalam film yang menempatkan empati tanpa penghakiman.

Secara teknis, Pangku dikerjakan dengan cermat dan teliti. Reza bekerja intens dengan sinematografer Teoh Gay Hian, sosok yang terkenal karena ketajamannya menangkap ruang sempit dan cahaya natural. “Kalau bahasanya Pak Teoh, ‘kamu orang pertama yang saya izinin buat mainkan viewfinder saya,’ ” kata Reza yang tak mau menyerahkan visi visual begitu saja. Pendekatan realis menjadi pilihan pokok. Kamera yang terasa intim dan pencahayaan yang hangat, selayaknya mengintip kehidupan seseorang dari jendela yang tidak benar-benar tertutup rapat.

Naskah Pangku sendiri ditulis bersama Felix K. Nesi, sastrawan asal Nusa Tenggara Timur yang dikenal lewat novel Orang-Orang Oetimu. Kombinasi Reza dan Felix menghasilkan bahasa visual yang kaya, tapi tidak sentimental. Mereka berdua, menurut beberapa laporan dan wawancara, melakukan riset sosial panjang, utamanya menelusuri cerita-cerita tentang perempuan di wilayah pantura. Felix dan Reza bersepakat, bahwa mereka tak ingin menjual kemiskinan apalagi penderitaan. Film ini, katanya, bukan tentang kesedihan yang dieksploitasi, tapi tentang keberanian untuk terus menjalani hidup.

Semua kejujuran di atas menghadirikan konsekuensi lain. Lembaga Sensor Film sempat meminta beberapa adegan dihapus agar film ini bisa masuk kategori Semua Umur. Reza tegas menolak. “Itu adegan pertama yang mau mereka hilangkan. Buat saya, adegan itu simpel, kecil, tapi saya belum siap kalau adegan itu harus saya relakan untuk dihapus,” tuturnya. Reza memilih tetap mempertahankannya dan akibatnya Pangku diklasifikasikan sebagai tontonan untuk 17 tahun ke atas. Bagi Reza, integritas artistik lebih penting daripada kompromi demi pasar yang lebih luas.

Dari sisi produksi, Gita Fara dan Arya Ibrahim, dua produser di balik film ini, menyebut prosesnya tidak mudah. Pengambilan gambar dilakukan di daerah pesisir Jawa, di tengah tantangan cuaca dan logistik yang berat. Tapi baginya, setiap kesulitan terbayar saat Pangku mendapat sambutan positif, bahkan sebelum tayang di bioskop. Film ini berhasil mencuri perhatian festival internasional dan meraih penghargaan di ajang Busan International Film Festival (BIFF). 

“Langkah kami selalu disambut positif kalangan perfilman internasional,” ujar Arya dalam satu kesempatan, menegaskan keyakinan bahwa sinema Indonesia punya tempat di panggung global.

Keberhasilan Pangku tak hanya diukur dari trofi. Penata musik Ricky Lionardi yang dikenal lewat sentuhan lembut dan atmosferik, menghidupkan ruang emosional film ini dengan pendekatan tak biasa. Reza meminta Ricky menggunakan suara lonceng bambu milik sang sutradara sendiri. 

“Saya ingin nada yang terdengar seperti napas,” kata Reza. Musik dalam Pangku pada akhirnya tersaji bukan lagi sebatas pengiring, namun mewakli gema batin para tokohnya. Terciptalah ruang sunyi yang justru paling bising dalam batin penonton.

Di depan kamera, Fedi Nuril menampilkan karakter laki-laki dengan dilema moral yang kuat. 

“Mungkin kita sepakat apa yang dilakukan Hadi itu tidak bisa dibenarkan, tapi itulah kebutuhan fisik, emosional, dan spiritual yang sulit ditahan,” ucapnya, menjelaskan cara ia memahami perannya. Ia menolak memerankan sosok yang semata hitam-putih. Baginya, manusia selalu berada di wilayah abu-abu. Penonton tak diajak menghakimi, melainkan memahami.

Christine Hakim, yang turut membintangi film ini, memberi pengakuan menarik tentang cara kerja Reza di lokasi syuting. Menurutnya, Reza “tahu apa yang dia mau” dan sangat tegas memberi arahan. Hubungan mereka sempat diwarnai perdebatan intens tentang interpretasi karakter, tapi itulah yang membuat prosesnya hidup. 

“Kami berdiskusi keras, tapi selalu berangkat dari cinta terhadap cerita,” ujar Christine. Dalam konteks ini, Pangku bukan sebatas film, tapi ruang dialog antarsineas yang belajar saling percaya.

Dalam acara gala premier, Fadli Zon turut memberi pujian, “Luar biasa, ada empat penghargaan dari BIFF. Ini membuktikan bahwa Reza Rahadian bukan hanya aktor, tapi juga sutradara yang hebat dan handal. Kita bangga.”

Komentar itu menggambarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar apresiasi individu. Pangku menjadi simbol tentang bagaimana sinema Indonesia bisa tumbuh dari pengalaman personal dan tetap bersuara universal.

Di tengah arus industri yang sering memoles realitas, Pangku hadir dengan sebagaimana adanya dalam hidup. Ia getir tapi penuh kejujuran. Terasa seakan seorang anak yang terus menerus memanggil ibunya, sekaligus berucap rasa terima kasih yang tak akan pernah selesai.


Editor: Kendi Setiawan
logo