Banjarnegara, Arina.id—Halimun tipis turun perlahan di Dusun Buntu, Desa Bakal, Batur, Banjarnegara Jawa Tengah, Minggu awal Februari 2026. Di balik kabut dingin khas Dieng itu, ada hidden gem yang belum banyak disentuh wisatawan. Warga menyebutnya ‘Bosweisen’, sebuah paduan lanskap alam dan jejak budaya misterius yang bikin penasaran.
Nama Bosweisen berasal dari istilah Belanda boswezen, yang berarti padang penggembalaan. Namun, bagi masyarakat lokal, kawasan ini bukan bentang sabana semata, namun jejak sejarah dan budaya yang memiliki nilai tinggi. Hal ini pulalah yang mendorong arina.id untuk mencoba menjajaiki sepotong syurga tersembunyi ini.
Arah tujuan
Dari kawasan obyek wisata utama Dieng, pengunjung bisa mengambil jalan lurus ke barat (arah Batur). Ikuti jalan ini hingga memasuki Dusun Buntu, Desa Bakal, Kecamatan Batur. Di pintu masuk desa, sebuah gapura akan menjadi penanda awal perjalanan. Teruslah melaju lurus hingga menjumpai Masjid Agung di dusun setempat. Masjid dengan dominasi cat warna kuning krem itu nampak megah dengan fasilitas umum yang baik. Kita bisa berdoa dan rehat sejenak sebelum mendaki.
Dari titik ini, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor. Moda ini lebih disarankan mengingat jalanan sempit dan mendaki. Jika bingung arah, kita bisa tanya penduduk di sekitar yang dikenal ramah. Setelah berkendara beberapa saat, sampailah kita di pintu gerbang Bosweisen, ditandai dengan patung (arca) di sebelah kanan.
Dari pintu masuk tangga kita harus berjalan kaki, menapaki deretan anak tangga yang menanjak perlahan. Ada ratusan anak tangga diselingi dengan jalanan paving, yang akan mengantarkan pengunjung ke sebuah pendapa di puncak kawasan. Jalanlah pelan dan hati-hati karena ada jurang di sisi jalan.
Banyak patung
Sepanjang perjalanan, kita akan menyatu dengan kabut dingin, bentang alam yang indah namun sunyi, sabana, serta ladang sayur petani khas Dieng yang hijau tertata. Bunga-bunga pun tumbuh berwarna-warni. Di beberapa titik telah disiapkan area berkemah, dan tempat rehat bagi pendaki gunung.
Satu lagi yang khas di Bosweisen adalah banyaknya patung yang bertebaran. Salah satu patung yang menonjol berada di kawasan–yang oleh warga lokal disebut sebagai—‘taman langit’. Namun perlu dicatat, ‘taman langit’ di sini adalah obyek berbeda dengan destinasi ‘Taman Langit’ yang viral dan ada di tepi jalur utama Dieng melalui kota Wonosobo.
Sanghyang Bagaswara dan konsep Sedulur Papat Lima Pancer
Setelah tuntas mendaki, sampailah kita di sebuah pendapa kecil bernama ‘Pendapa Sanghyang Bagaswara’. Terdapat patung ikonik, yakni tokoh semar dalam ukiran kayu mengkilap. Patung itu berada di atas batu bata merah, dengan selempang kain jarik dengan ornamen batik klawung hitam putih. Di sekitar patung ada sesaji berupa kopi dan sajian khas lainnya.
Konon, inilah tempat yang diyakini mitologi lokal sebagai ruang perenungan dan musyawarah Eyang Semar dalam kisah pewayangan. Tata ruang pendapa mengikuti filosofi ‘Sedulur Papat Lima Pancer’, dengan empat akses jalan yang melambangkan penjuru mata angin dan satu pusat sebagai simbol manusia.
Di sekitar pendapa, dapat dijumpai batu-batu andesit berukuran besar yang oleh warga diyakini sebagai material alami yang juga dijumpai pada bangunan candi-candi Dieng. Salah satu yang paling dikenal adalah Batu Semar, bongkahan batu yang secara alami menyerupai sosok punakawan tersebut. Selain itu, terdapat pula lumbung kuno, sisa struktur batu, serta sejumlah patung kayu yang ditempatkan di area pendapa.
Mitologi lokal kembali menyebutkan bahwa sebagian kontur alam Bosweisen bertalian dengan kisah Subali dan Sugriwa memperebutkan Cupu Manik Astagina, lagi-lagi dalam kisah wayang. Folklore ini hidup berdampingan dengan keseharian warga, tanpa glorifikasi, namun tetap dijaga sebagai bagian dari identitas lokal.
Pengembangan destinasi
Berbeda dengan kawasan Dieng yang semakin padat, Bosweisen direncanakan berkembang sebagai destinasi terbatas. Warga dan pemerintah desa memiliki gagasan membangun kawasan “Kampung Jawa” dengan arsitektur ala Majapahit. Penginapan akan dikemas dalam beberapa kategori, dari vila, cottage, hingga pondok sederhana untuk pelajar, dengan tetap mengedepankan kenyamanan dasar.
Kepala Desa Bakal, Madkhurodin, menjelaskan bahwa pengembangan Bosweisen diarahkan untuk melindungi komoditas pertanian lokal seperti carica dan terong Belanda. Ia juga berharap masyarakatnya bisa terberdayakan sebagai masyarakat pariwisata, tak cuma mengandalkan dari hasil pertanian
“Konsep agrowisata ini kami harapkan menjadi penyangga alam sekaligus sumber ekonomi baru bagi warga kami, tanpa mengorbankan lahan produktif,” ujar Madkhurodin.
Warga dan pemuda juga telah merencanakan ritual tahunan Sedekah Bumi digelar setiap 14 Agustus sebagai agenda budaya utama. Event ini diharapkan menjadi muara bertemunya tradisi dan kebersamaan warga yang juga peluang bagi penggiat ekonomi kreatif dalam menyangga kawasan utama Dieng.
Sayangnya, jalur menuju Bosweisen dari Desa Bakal, yang terhubung ke arah Kawah Sikidang masih sempit, terjal, dan rawan longsor. Menurut Madkhurodin Dana Desa tidak cukup untuk membangun akses selebar enam meter.
“Untuk itulah kami berharap ada dukungan dari pemerintah daerah, jika dibangun jalan yang bagus dari Sikidang, akan bagus sekali karena memudahkan akses dengan destinasi utama Dieng,” ujar Madkhurodin optimististis.
Bosweisen menawarkan alternatif lain wajah Dieng, sebagai salah satu destinasi utama di Jawa Tengah. Bukan ingar bingar tempat wisata, namun sebuah kawasan yang mengajak pengunjung berjalan pelan, menyimak kisah, dan meresapi alur legenda yang ada.
Bagi Anda yang butuh hening dengan aura spiritual yang kental, sempatkanlah ke Bosweisen. Nikmati sebuah nuansa alam yang berbeda, dari sebuah ketinggian. Kabutnya yang dingin serta jejak misteri yang masih diselimutinya.
Editor: Kendi Setiawan
