Waspadai 6 Sesat Pikir dan Bias dalam Mengambil Keputusan

Waspadai 6 Sesat Pikir dan Bias dalam Mengambil Keputusan

Hidup kerap kali bergandengan dengan masalah. Manusia secara tidak langsung dituntut untuk bisa membangun peta realitas maupun membuat keputusan yang tepat agar tidak larut dalam persoalan. Sayangnya bias-bias atau kesalahan berpikir kerap membuat seseorang mengambil keputusan yang tidak tepat. 

Buku berjudul Makanya, Mikir! susunan Abigail Limuria dan Cania Citta pada chapter 6 menjelaskan sesat pikir dan bias yang sering terjadi.

Dua penulis perempuan ini memasukkan persoalan sesat pikir dalam bukunya karena menjadi pondasi pengetahuan agar terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam proses berpikir dan membuat keputusan.

Berikut ulasannya 

1. Survivorship bias
Survivorship bias adalah kondisi ketika seseorang menarik kesimpulan bahwa sesuatu tidak terjadi karena ada sampel yang tidak mengalami hal tersebut. Kesalahan logika yang muncul ketika fokus hanya pada “yang selamat” atau “yang berhasil,” sehingga kegagalan tidak masuk dalam analisis. 

Misalnya ada seseorang yang memiliki pandangan, “Untuk apa capek-capek kuliah? Tuh, lihat Bill Gates & Mark Zuckerberg sukses dan mereka tidak lulus kuliah semua.” Karena ada contoh dua orang ini, orang-orang menganggap sukses besar tanpa kuliah itu sangat mungkin, padahal, dua sosok tersebut mungkin pengecualian dibandingkan statistik secara keseluruhan. 

2. Ostrich bias
Ostrich bias atau lebih dikenal sebagai Ostrich Effect adalah sebuah cognitive bias (bias kognitif) ketika seseorang cenderung menghindari informasi negatif atau tidak menyenangkan, seolah-olah “menenggelamkan kepala ke dalam pasir” seperti mitos tentang burung unta.

Seseorang memilih untuk tidak melihat atau tidak mencari informasi kanera dinilai bisa menimbulkan rasa cemas, takut, atau tidak nyaman, meskipun informasi itu penting untuk pengambilan keputusan.

Misalnya seorang pasien menghindari hasil tes kesehatan karena takut mendengar kabar buruk atau investor tidak mau mengecek portofolio saham saat pasar sedang turun. Sikap ini memang akan mengurangi kecemasan karena tidak berhadapan langsung dengan kenyataan.

Namun, untuk jangka panjang bisa memperburuk keadaan karena masalah tidak ditangani sejak dini (misalnya penyakit makin parah, kerugian investasi membesar).

3. Hasty Generalisation
Hasty Generalisation adalah sebuah logical fallacy (kesalahan logika) yang terjadi ketika seseorang membuat kesimpulan luas berdasarkan bukti yang terlalu sedikit atau tidak representatif. Kesimpulan yang diambil tidak sebanding dengan bukti yang tersedia; data terlalu sempit untuk mewakili keseluruhan populasi.

Misalnya dalam lingkup sosial: “Saya bertemu dua orang dari kota X yang tidak ramah, berarti semua orang dari kota X tidak ramah.” Lingkup politik: “Satu pejabat korup, berarti semua pejabat korup.” Keseharian: “Saya makan sekali di restoran itu dan tidak enak, berarti restoran itu selalu buruk.”

Hasty Generalisation bisa melahirkan misinformasi karena kesimpulan tidak berbasis data representatif, munculnya stereotip dan prasangka, juga menghambat pemikiran kritis karena orang berhenti mencari bukti tambahan. 

4. Causation Fallacy
Causation Fallacy adalah kesalahan logika ketika seseorang menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara keliru antara dua peristiwa atau fenomena. Dengan kata lain, hanya karena dua hal terjadi bersamaan atau berurutan, orang langsung menganggap yang satu menyebabkan yang lain, padahal bukti kausalitasnya tidak cukup.

Misalnya muncul sebuah penarikan kesimpulan: “Setiap kali saya bawa payung, hujan turun. Jadi payung menyebabkan hujan.” “Mahasiswa yang mendengarkan musik klasik mendapat nilai tinggi. Jadi musik klasik menyebabkan nilai tinggi.” Padahal bisa jadi faktor lain seperti motivasi, latar belakang sosial, dan lainnya. 

Causation fallacy bisa menyebabkan kesalahpahaman dalam kebijakan publik, penelitian, maupun kehidupan sehari-hari. Bahkan bisa melahirkan stereotip atau narasi salah. Ini berdampak pada terhambatnya pemecahan masalah karena akar persoalan tidak benar-benar diidentifikasi. 

5. False Dichotomy
False Dichotomy adalah sebuah logical fallacy (kesalahan logika) yang terjadi ketika seseorang menyajikan suatu masalah seolah-olah hanya ada dua pilihan atau dua kemungkinan, padahal sebenarnya ada lebih banyak alternatif. Kesalahan berpikir ini membatasi opsi menjadi dua ekstrem, menutup kemungkinan solusi lain.

Misalnya yang terjadi dalam lingkup sosial, pendidikan, dan keseharian: “Kalau kamu tidak mendukung kebijakan ini, berarti kamu menentang negara.”  “Anak harus pintar matematika atau dia pasti gagal dalam hidup.” “Kamu harus memilih: tetap di pekerjaan ini atau hidup miskin.”

False dichotomy bisa membatasi cara berpikir kritis. Kesalahan logika ini bisa menyebabkan polarisasi sosial karena orang dipaksa memilih salah satu ekstrem, mengabaikan solusi alternatif yang lebih realistis atau moderat.

6. Fals Comparison
False Comparison adalah sebuah logical fallacy (kesalahan logika) yang terjadi ketika dua hal dibandingkan seolah-olah setara atau relevan, padahal sebenarnya tidak memiliki dasar perbandingan yang valid. Kesalahan berpikir dengan menyamakan dua hal yang berbeda konteks, sifat, atau relevansinya.

Contoh false comparison, sosial: “Mengkritik pemerintah sama saja dengan tidak cinta negara.” (Padahal kritik bisa lahir dari rasa peduli). Keseharian: “Memelihara kucing sama dengan memelihara anak.” (Padahal kebutuhan biologis dan sosialnya berbeda). 

Implikasi dari false comparison bisa menyebabkan distorsi logika dalam debat atau diskusi. Selain itu juga akan melahirkan narasi manipulatif yang menyesatkan publik, hingga menghambat pemahaman kompleksitas masalah karena menyederhanakan hal yang tidak sebanding.

Enam sesat pikir dan bias dalam pengambilan keputusan di atas—mulai dari hasty generalisation hingga false dichotomy—bukan sekadar kesalahan logika, melainkan jebakan psikologis yang bisa mempengaruhi cara seseorang menilai situasi, orang lain, maupun diri sendiri. 

Dengan mengenali pola-pola ini, seseorang dapat lebih kritis dalam menyaring informasi, lebih hati-hati dalam menarik kesimpulan, dan lebih bijak dalam menentukan langkah. Kesadaran akan bias bukan hanya melindungi dari keputusan yang keliru, tetapi juga membuka ruang bagi pemikiran yang lebih adil, inklusif, dan rasional dalam menghadapi kompleksitas permasalahan. 

 


Editor: Kendi Setiawan
logo