Arina.id - Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) dan alumni pondok pesantren se-Jabodetabek hari ini, Rabu 14 Oktober 2025, menepati janji menggelar unjuk rasa bertajuk: silaturahim & meruwat Trans7 di Jalan Pejaten Jakarta. Mereka menggelar unjuk rasa imbas dari tayangan program Xpose Uncensored yang dinilai merendahkan marwah dan martabat pesantren.
Dalam surat pemberitahuan koordinator acara, unjuk rasa ini diikuti kurang lebih seribu orang yang terdiri dari Pengurus Wilayah NU (PWNU), Pengurus Cabang NU (PCNU), kemudian perwakilan seluruh alumni pondok pesantren yang ada di DKI Jakarta: Lirboyo, Tebuireng, DR, Babakan Ciwaringin, Ploso, dan perwakilan berbagai elemen masyarakat.
Mereka berkumpul dan berorasi di depan gedung Trans Corporation, perusahaan milik Chairul Tanjung yang mengelola sejumlah vertikal perusahaan media, mulai dari TransTV, Trans7, CNN Indonesia, Detik.com dan sejumlah media lainnya.
Dalam surat seruan aksi solidaritas yang dikeluarkan PWNU DKI Jakarta kemarin, Selasa 13 Oktober 2025, Aksi tersebut masih terkait dengan pemberitaan tentang pondok pesantren Lirboyo dan kianya yang tayang dalam program Xpose Uncensored Trans7 pada 13 Oktober 2025 yang dinilai telah merendahkan marwah dan martabat pondok pesantren.
Dalam aksinya kali ini, ribuan massa tersebut membawa berbagai atribut, mulai dari bendera NU sampai poster berisi tuntutan aksi.
Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf lebih dulu sudah merespons tayangan tersebut dengan menuntut Trans7 dan induk perusahaannya, Trans Corporation mengambil langkah konkret dalam memperbaiki dampak negatif yang ditimbulkan.
"PBNU menuntut pihak Trans7 dan induk perusahaannya, Trans Corporation, untuk mengambil langkah nyata dan bertanggung jawab atas kerusakan sosial yang ditimbulkan akibat tayangan tersebut," ujar Gus Yahya di Jakarta Pusat, pada Selasa 14 Oktober 2025.
Gus Yahya menyebut tayangan tersebut telah melampaui batas etika penyiaran dan mencederai nilai-nilai luhur pesantren. "Tayangan Trans7 itu isinya secara terang-terangan melecehkan bahkan menghina pesantren, menghina tokoh-tokoh pesantren. Menghina hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai mulia yang dipegang teguh oleh dunia pesantren," katanya.
Menurut dia, program itu tidak hanya menampilkan narasi yang tendensius, tetapi juga berpotensi mengganggu harmoni sosial di masyarakat. "Karena jelas penghinaan-penghinaan yang dilakukan dalam tayangan Trans7 tersebut sangat menyinggung dan membangkitkan amarah bagi kalangan pesantren dan warga NU pada umumnya," katanya menambahkan.
Gus Yahya mengatakan telah menginstruksikan Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU untuk menempuh langkah hukum terkait kasus ini. "Masalah ini harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya," katanya.
KPI memberi sanksi menyetop tayangan Xpose
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menjatuhkan sanksi penghentian sementara izin siar kepada program Xpose Uncensored yang ditayangkan oleh Trans7, buntut dari konten yang dinilai melecehkan kehidupan pesantren. Keputusan tersebut disampaikan Ketua KPI Pusat Ubaidillah usai Rapat Pleno Penjatuhan Sanksi yang digelar di Jakarta, Senin malam (14/10/2025).
"Atas tayangan tersebut, KPI telah menerima banyak pengaduan dari masyarakat, khususnya kelompok yang merasa kehidupan pesantren, santri, dan para kiai digambarkan secara keliru," ujar Ubaidillah dalam keterangan pers yang diterima Arina.id.
KPI menilai, tayangan tersebut melanggar Pasal 6 Peraturan Perilaku Penyiaran (P3) KPI 2012, serta Pasal 6 ayat (1) dan (2), Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) huruf (a) dalam Standar Program Siaran (SPS) KPI 2012.
Dalam P3 disebutkan bahwa lembaga penyiaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan, termasuk keberagaman budaya, usia, gender, dan kehidupan sosial ekonomi. Sementara dalam SPS diatur bahwa program siaran dilarang melecehkan, menghina, atau membatasi lembaga pendidikan, termasuk tidak boleh memperolok pendidik atau pengajar sebagaimana tertuang dalam Pasal 16 ayat (2) huruf (a).
KPI juga telah memanggil pihak Trans7 untuk memberikan klarifikasi terkait tayangan tersebut. Menurut Ubaidillah, kehadiran program yang menyudutkan kehidupan pesantren jelas merugikan banyak pihak, khususnya kaum santri.
"Kiai dan pesantren bukanlah objek olok-olok. Di pesantren terdapat adab, kasih, dan kepedulian, juga ilmu dan sejarah panjang perjuangan, termasuk dalam kemerdekaan bangsa ini," katanya.
Tayangan Xpose Uncensored telah mencederai nilai-nilai luhur penyiaran yang seharusnya berfungsi memperkuat integrasi nasional. "Kami berharap Trans7 melakukan koreksi menyeluruh terkait tayangan yang melibatkan kehidupan pesantren, termasuk kelompok atau komunitas lainnya," imbuh Ubaidillah.
Editor:


