Kediri, Arina – Puluhan kiai sepuh berkumpul di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (21/10/2026), untuk bersilaturahmi dan mendoakan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut yang tengah menghadapi proses hukum dalam perkara dugaan korupsi kuota haji tambahan periode 2023–2024.
Juru bicara pertemuan, KH Muhibbul Aman Aly, mengatakan para kiai memiliki keprihatinan terhadap penegakan hukum di Indonesia, termasuk dalam perkara yang menjerat Gus Yaqut. Mereka berharap aparat penegak hukum menangani perkara tersebut secara adil dan bermartabat.
“Kasus Gus Yaqut, kami (para kiai) melihat dalam persidangan antara dakwaan dan fakta persidangan sangat jauh berbeda. Dan ini kemudian membuat kami prihatin,” kata Kiai Muhibbul Aman seusai pertemuan.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap penegakan keadilan. Menurut dia, persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan para kiai.
KH Muhyiddin Ishak juga menyampaikan pesan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum. Ia menekankan peran kiai dan Nahdlatul Ulama (NU) dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia.
“Ini yang dihadapi adalah anak cucu pendiri negara, kok penegakan hukum tidak berkeadilan dan bermartabat,” ujar Kiai Muhyiddin.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Abdullah Kafabihi Mahrus mengatakan pertemuan tersebut bertujuan membela kebenaran. Ia menilai Gus Yaqut sebagai pihak yang terzalimi.
“Gus Yaqut itu madzlum (terzalimi). Jadi kita di sini memang membela kebenaran. Jangan sampai pemerintah itu membiarkan kezaliman,” kata Kiai Abdullah Kafabihi.
Keluarga Ingin Berikan Klarifikasi
Pertemuan tersebut merupakan inisiatif keluarga Gus Yaqut untuk memberikan penjelasan kepada para kiai mengenai perkara yang sedang dihadapi mantan Menteri Agama itu. Keluarga juga berharap Gus Yaqut memperoleh putusan hukum yang adil.
Kakak kandung Gus Yaqut, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengatakan klarifikasi diperlukan agar para kiai mendapatkan informasi yang menyeluruh dan berimbang dari pihak terdakwa.
Menurut Gus Yahya, sejak adiknya tersangkut perkara pidana, opini publik telah terbentuk sebelum keluarga memiliki kesempatan memaparkan penjelasan berdasarkan informasi yang mereka miliki.
“Sejak adik saya Yaqut mendapatkan sangkaan telah melakukan tindakan pidana, opini masyarakat sudah menghakimi bahwa adik saya telah melakukan kesalahan itu,” kata Gus Yahya.
Ia mengaku sempat kesulitan memberikan tanggapan terhadap opini tersebut karena belum memiliki bahan yang cukup untuk menjelaskan duduk perkara. Karena itu, keluarga memilih menunggu proses peradilan untuk memperoleh bahan klarifikasi.
“Sejak awal kami sendiri berpikir, satu-satunya cara klarifikasi adalah melalui peradilan,” ujarnya.
Gus Yahya mengatakan keluarga kemudian berinisiatif menemui sejumlah kiai untuk menyampaikan penjelasan. Namun, cara tersebut dinilai kurang efisien sehingga keluarga mengundang para kiai untuk mendapatkan penjelasan langsung dari kuasa hukum Gus Yaqut.
Ia menegaskan, apa pun putusan pengadilan nantinya, keluarga ingin memastikan bahwa penjelasan mengenai perkara tersebut telah disampaikan kepada para kiai.
“Adik saya enam bulan dipenjara, saya yakin dia kuat menjalaninya. Tapi kami ingin menjelaskan lebih gamblang, adik saya, dalam kedudukan apa pun, termasuk saat menjabat sebagai Menteri Agama, kami tidak pernah menyelisihi, mengkhianati, nasihat orang tua dan kiai-kiai kami,” kata Gus Yahya.
Ia berharap penjelasan tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada para kiai mengenai perkara yang dihadapi adiknya.
Puluhan Kiai Diundang
Pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo tersebut diikuti sejumlah kiai yang hadir secara langsung maupun melalui konferensi video. Berdasarkan daftar undangan yang disampaikan, terdapat 36 kiai sepuh yang diundang, baik yang hadir maupun yang tidak hadir.
Berikut daftar nama kiai yang tercantum dalam undangan:
- KH Anwar Mansur
- KH Nurul Huda Jazuli
- Prof. Dr. KH Ma'ruf Amin
- Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj
- KH Abdullah Kafabihi Mahrus
- KH Idris Abdul Hamid
- KH Muhammad Mustofa Aqiel Siroj
- KH Ubaidillah Faqih
- KH Muhibbul Aman Aly
- KH Abd. A'la Basyir
- KH Muhammad Mudatsir Badruddin
- KHR Muhammad Kholil As'ad
- KHR Ahmad Azaim Ibrahimy
- KH Abdullah Ubab Maimoen
- KH Ahmad Haris Shodaqoh
- KH Muhammad Nuh Addawami
- KH Ubaidillah Ruhiat, BA
- KH Ubaidillah Shodaqoh
- KH Ahmad Mustain Syafiie
- Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim
- KH Agoes Ali Masyhuri
- Mas'ud Masduki
- Dr. KH Hilmy Muhammad
- Dr. KH Abdul Ghafur Maimoen
- KH Abdul Hamid Abd. Qodir
- KH Ali Cholil
- KH Ahmad Sadid Jauhari
- KH Ahmad Fuad Noerhasan
- KH Imam Bukhori Kholil
- KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah
- KH Muhyiddin Ishak
- KH Sofyan Yahya
- KH Husein Muhammad
- KH Aniq Muhammadun
- KH Muadz Tohir
- KH Imron Mutamakkin.
Editor:


