Arina.id - Kebakaran hutan di wilayah Kalimantan dan Sumatera tidak lagi menjadi isu nasional, melainkan sudah menjadi isu regional (kawasan). Sebab dampak dari kebakaran hutan di masa kemarau panjang ini juga dirasakan negara tetangga: Malaysia dan Singapura.
Dua negara jiran itu terus berupaya menyelesaikan persoalan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menerjang wilayahnya melalui cara-cara diplomatik. Sementara itu isu di dalam negeri, dampak Karhutla juga semakin meluas, selain mengganggu keseharian masyarakat, juga berdampak pada kesehatan warga.
Kabar terbaru, PT Angkasa Pura Aviasi selaku pengelola Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, menyatakan tiga penerbangan rute domestik dibatalkan akibat kabut asap di kawasan bandara setempat.
Selain itu, terdapat empat penerbangan, yakni tiga rute domestik dan satu rute internasional mengalami penundaan di Bandara Internasional Kualanamu. Hal ini disampaikan Humas PT Angkasa Pura Aviasi Zul Andrika di Deli Serdang, Kamis 15 Oktober 2026.
"Ya, hari ini tiga penerbangan domestik di cancel (batal). Ada empat penerbangan, di antaranya satu rute Kuala Lumpur mengalami delay (tertunda)," katanya seperti dikutip dari Antara.
Pembatalan penerbangan rute domestik ini meliputi rute Kualanamu-Mandailing Natal, Kualanamu-Takengon, dan Kualanamu-Sibolga. Sedangkan penerbangan yang mengalami delay, yakni salah satunya rute internasional tujuan Bandara Internasional Kuala Lumpur di Malaysia.
"Semua penerbangan yang mengalami keterlambatan akibat kabut asap sejak pagi hingga pukul 16.35 WIB sudah diterbangkan kembali," kata Zul.
Ia mengatakan penundaan penerbangan rute domestik dan internasional ini terjadi karena jadwal keberangkatan maupun kedatangan pesawat mengalami keterlambatan. "Tidak lama memang, tetapi beberapa penerbangan yang sebelumnya ditunda, kini sudah terbang," ujarnya.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah I Medan Hendro Nugroho mengatakan kabut asap terdeteksi melanda seluruh wilayah Sumatera Utara. Padahal hasil pemantauan citra satelit pada sebaran hotspot (titik panas) di Sumut, Selasa 13 Oktober 2026, tidak terdapat satu pun titik panas di wilayah Sumatera Utara.
"Tapi, pengamatan Stasiun Meteorologi Aek Godang dan Stasiun Meteorologi Silangit hari ini pukul 10.00 WIB, terjadi penurunan jarak pandang di Sumatera Utara menjadi 1 sampai 4 kilometer," kata Hendro di Medan, Rabu 14 Oktober 2026.
Selain itu, kata Hendro, pemantauan kualitas udara terkonsentrasi PM2.5 atau partikel sangat kecil di udara berada di wilayah Sumatera Utara dengan kategori sedang dan tidak sehat.
Ia juga mengimbau masyarakat Sumut di wilayah berpotensi terdampak asap mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat kondisi udara berkabut atau jarak pandang menurun. "Apabila memerlukan kegiatan di luar ruangan, sebaiknya menggunakan masker," ujar Hendro.
Asap bisa menyebabkan ISPA
Sementara itu praktisi kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Hasri Ainun Habibie Provinsi Gorontalo, dokter sub spesialis Taufik Ramadhan Biya mengimbau masyarakat di daerah itu agar mewaspadai inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA) saat kabut asap melanda.
"Pemakaian masker dan meminimalisir kegiatan atau berolahraga di luar rumah agar dapat diterapkan, untuk mewaspadai ISPA dan gangguan pernapasan akibat kabut asap tebal di Gorontalo," kata Taufik di Gorontalo, Kamis.
Menurutnya kabut asap dapat menyebabkan iritasi saluran napas, memperburuk asma dan penyakit paru serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Karena itu, hal yang perlu dilakukan untuk melindungi diri dan keluarga yaitu dengan langkah-langkah, seperti menggunakan masker yang tepat.
Menggunakan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat saat harus beraktivitas di luar rumah, sebab masker kain atau masker bedah biasa, kurang efektif menyaring partikel halus PM2.5. "Anak-anak, lansia dan ibu hamil pun sebaiknya lebih banyak berada di dalam rumah," kata Taufik.
Ia pun menganjurkan agar dapat menjaga kualitas udara di dalam rumah, dengan menutup pintu dan jendela saat asap pekat melanda. Sebaiknya, menggunakan air purifier dengan filter HEPA jika tersedia, menghindari merokok, membakar sampah, atau menyalakan obat nyamuk bakar.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Gorontalo ini juga mengimbau, agar warga dapat mencukupi kebutuhan cairan, dengan minum air putih secara teratur sesuai kebutuhan tubuh. "Cairan membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan," katanya.
Mengkonsumsi makanan bergizi dengan perbanyak buah, sayuran dan sumber protein juga penting, disamping istirahat cukup untuk mendukung sistem imun. Termasuk konsisten menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, dengan cuci tangan memakai sabun, menghindari menyentuh wajah dengan tangan kotor dan terapkan etika batuk.
Ia mengingatkan untuk sama-sama melindungi kelompok berisiko tinggi, seperti memberikan perhatian khusus pada bayi, anak-anak, ibu hamil dan lansia, serta penderita asma, PPOK, atau penyakit jantung. Memastikan obat rutin tetap digunakan sesuai anjuran dokter, serta rajin memantau kualitas udara setiap hari.
Caranya, tentu dengan memeriksa informasi kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah atau aplikasi pemantauan kualitas udara, dengan menyesuaikan aktivitas dan kualitas kadar polusi, terutama PM2.5.
Taufik mengimbau agar setiap warga dapat mengenali gejala gangguan pernapasan, dengan mewaspadai batuk, pilek, nyeri tenggorokan, mata perih, mengi, atau sesak napas. "Bila keluhan menetap atau memburuk, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan," katanya.
Ia mengimbau agar warga dapat mengenali tanda bahaya agar segera ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), seperti sesak napas berat, napas cepat dan kesulitan berbicara, nyeri dada, bibir kebiruan, penurunan kesadaran dan saturasi oksigen sangat rendah.
Editor:


