Riset: Terus Scrolling Layar Smartphone Berpengaruh Pada Daya Ingat dan Memori Otak

Riset: Terus Scrolling Layar Smartphone Berpengaruh Pada Daya Ingat dan Memori Otak

Arina.id - Masalah sebenarnya penggunaan smartphone mungkin bukan pada berapa jam orang menatap layar mereka. Namun aktivitas apa yang mereka lakukan selama memegang smartphone, bisa jadi hal itu lebih penting lagi dipahami.

Dikutip dari sciencedaily, para peneliti di Universitas Semmelweis menemukan bahwa masalah pada penggunaan smartphone sangat terkait dengan pengendalian diri yang buruk dan ketakutan kuat akan kehilangan sesuatu (FOMO), bukan hanya sifat kepribadian saja. Temuan mereka juga menyoroti potensi konsekuensi kurang baik bagi otak dan tubuh. 

Ternyata, dari hasil riset itu, scrolling layar secara terus menerus dikaitkan dengan memori yang lebih buruk, penurunan konsentrasi, dan gangguan tidur. Sementara penggunaan ponsel yang berkepanjangan dapat berkontribusi pada masalah fisik yang memengaruhi keseimbangan dan postur tubuh pengguna.

Studi yang dipublikasikan di Acta Psychologica ini menemukan kalau memahami bagaimana cara orang berinteraksi dengan ponsel bisa dilihat dari cara mereka memantau layar harian mereka.

Untuk menyelidiki efek kebiasaan penggunaan smartphone, para peneliti di Universitas Semmelweis mempelajari mahasiswa berusia antara 18 hingga 35 tahun ketika menggunakan ponsel beserta ukuran kesehatan mental, kesehatan fisik, dan kinerja kognitif.

Peserta mengisi kuesioner online tentang aktivitas harian mereka di smartphone, termasuk berapa banyak waktu dihabiskan menggunakan perangkat dan apa yang biasanya mereka lakukan di sana. Mereka juga ditanya apakah menggunakan ponsel menyebabkan melewatkan aktivitas yang direncanakan dan apakah mereka terus memikirkan ponsel meskipun tidak menggunakan.

Para peneliti kemudian meneliti beberapa faktor psikologis yang mungkin memengaruhi masalah penggunaan smartphone. Ciri-ciri tersebut termasuk pengendalian diri, takut melewatkan pengalaman sosial, dan neurotisisme, sifat kepribadian terkait dengan kecenderungan lebih besar untuk mengalami emosi negatif seperti kecemasan, kesedihan, ketakutan, dan kemarahan.

Dengan menganalisis respons-respons ini, tim mengidentifikasi tiga pola penggunaan smartphone. Pertama, orang-orang di kelompok "pure social" terutama menggunakan ponsel mereka untuk berkomunikasi dengan teman, menjaga hubungan, dan berinteraksi dengan orang lain. 

Kedua, mereka yang diklasifikasikan sebagai pengguna "light process" menghabiskan kurang dari empat hingga lima jam sehari menggunakan ponsel untuk berbagai interaksi sosial, berita, hiburan, dan pengguliran pasif.

Kelompok ketiga, dikenal sebagai pengguna "heavy process", mencakup sekitar sepertiga peserta. Individu-individu ini menghabiskan empat hingga lima jam atau lebih di ponsel setiap hari. Sebagian besar mengonsumsi konten online daripada berkomunikasi langsung dengan orang lain.  

Perbedaan antara kelompok-kelompok ini membantu peneliti mengidentifikasi faktor-faktor paling kuat terkait dengan kebiasaan penggunaan smartphone bermasalah.

"Temuan utama kami adalah bahwa kepribadian saja -- seperti tingkat neurotisisme yang tinggi -- tidak membuat seseorang kecanduan ponselnya. Orang yang lebih rentan terhadap emosi negatif seperti kecemasan, depresi, atau stres tidak otomatis menjadi kecanduan. Yang benar-benar penting adalah seberapa baik mereka dapat mengendalikan perilaku, emosi, dan dorongan mereka, serta seberapa kuat ketakutan mereka kehilangan sesuatu," kata Dr. Johanna Takács, peneliti senior di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Semmelweis dan peneliti utama studi ini.

Mengapa Menggulir Smartphone Tanpa Akhir Mungkin Berbahaya?

Salah satu temuan terpenting adalah bahwa jenis aktivitas smartphone sangat penting, terutama dalam hal perhatian, memori, dan aspek lain dari kinerja mental. Menggulir secara pasif melalui feed media sosial atau menonton satu video pendek demi video pendek akan mengekspos pengguna pada aliran informasi yang berubah dengan cepat. 

Para peneliti memperingatkan kalau stimulasi konstan ini dapat membebani perhatian, membuat konsentrasi yang berkelanjutan menjadi lebih sulit, dan berkontribusi pada kelelahan mental.

Pengujian kognitif mengungkapkan bahwa peserta dalam kelompok heavy process tampil lebih buruk dalam kerja memori dan perhatiannya dibandingkan yang diharapkan untuk usia mereka. Mereka juga melaporkan tidur kurang baik, keinginan lebih kuat untuk stimulasi terus-menerus, dan kesulitan lebih besar saat menahan dorongan untuk segera memeriksa ponsel atau bertindak berdasarkan impuls.

Temuan ini menunjukkan bahwa menghabiskan berjam-jam mengonsumsi konten mungkin dikaitkan dengan hasil mental yang berbeda dibandingkan menggunakan ponsel terutama untuk berkomunikasi dengan orang lain. Namun, hasilnya tidak membuktikan bahwa menggulir secara langsung menyebabkan perbedaan kinerja kognitif.

Bagaimana Penggunaan Smartphone Memengaruhi Fisik dan Keseimbangan

Meskipun cara orang menggunakan ponsel mereka tampak sangat penting untuk kinerja kognitif, total waktu penggunaan lebih erat dikaitkan dengan konsekuensi fisik.

Salah satu kekhawatiran adalah postur yang diambil orang saat melihat layar mereka. Memegang smartphone di bawah tingkat mata sering menyebabkan kepala miring ke depan, memberikan tekanan tambahan pada leher dan struktur sekitarnya.

Seiring waktu, posisi ini dapat berkontribusi pada apa yang biasa disebut text neck, sebuah masalah postur yang mungkin berdampak lebih dari ketidaknyamanan leher.

"Ketika orang memegang ponsel di tingkat pinggang atau dada dan melihat ke bawah, kepala bergerak ke depan, menciptakan postur kepala ke depan, yang juga dikenal sebagai "text neck." Hal ini memberikan tekanan ekstra pada leher dan dapat menyebabkan nyeri atau keausan awal pada sendi leher. Leher mengandung reseptor yang memberi tahu otak bagaimana posisi kepala tersebut. Jika postur kepala ke depan dipertahankan dalam waktu lama, sinyal ini dapat berubah dan menyebabkan masalah keseimbangan. Efek ini tidak terbatas pada penggunaan telepon tetapi juga dapat memengaruhi gerakan sehari-hari," kata Beáta Seregély, asisten dosen dan ahli yang bertanggung jawab atas pengukuran fisik dalam studi tersebut.

Efek-efek ini dapat terjadi karena leher memainkan peran penting dalam membantu otak memahami posisi dan gerakan kepala. Ketika postur kepala maju yang berkepanjangan mengubah informasi yang berasal dari reseptor sensorik ini, hal ini dapat mengganggu keseimbangan dan koordinasi selama aktivitas sehari-hari.

Para peneliti juga menyoroti potensi efek pada waktu reaksi dan konsentrasi, dengan menyarankan bahwa penggunaan ponsel yang berlebihan dapat memiliki konsekuensi yang melampaui saat menghabiskan waktu melihat layar.

Cara Sederhana Mengurangi Risiko Penggunaan Smartphone Berlebihan

Meskipun ada kekhawatiran ini, para peneliti tidak percaya bahwa menghilangkan smartphone dari kehidupan anak muda adalah jawabannya. Sebaliknya, mereka menyarankan untuk mengembangkan kebiasaan lebih sehat dan menjadi lebih sadar tentang bagaimana dan mengapa ponsel digunakan.

Strategi praktis termasuk mengurangi notifikasi tidak perlu, terutama dari media sosial dan aplikasi pesan, serta menetapkan batasan waktu yang dihabiskan untuk menjelajahi platform sosial. Menghindari penggunaan smartphone sebelum tidur juga dapat membantu melindungi tidur, sementara aktivitas fisik teratur dan posisi tubuh yang lebih baik dapat mengurangi sebagian beban fisik terkait penggunaan berkepanjangan.

Karena pengendalian diri yang lemah dan ketakutan kehilangan sesuatu sangat terkait dengan masalah penggunaan smartphone, para peneliti menekankan membantu anak muda mengelola dorongan dan merasa lebih sedikit tekanan untuk tetap terhubung secara terus-menerus. Pelatihan perilaku dan dukungan psikologis dapat membantu memperkuat keterampilan ini.

Temuan menunjukkan bahwa, bahkan orang yang secara alami lebih cemas, sensitif secara emosional, atau rentan terhadap stres tidak selalu dikaitkan dengan kebiasaan penggunaan smartphone tidak sehat. Pengendalian diri dari rasa takut ketinggalan informasi mungkin secara signifikan mengurangi kerentanan itu.

Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan perbedaan penting. Mengurangi waktu layar bisa membantu, tetapi mengubah cara orang menggunakan smartphone mereka mungkin sama pentingnya untuk melindungi perhatian, tidur, dan kesejahteraan secara keseluruhan.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo