JD Vance Ogah Dukung Netanyahu, Trump Justru Pasang Badan Jelang Pemilu Israel 27 Oktober

JD Vance Ogah Dukung Netanyahu, Trump Justru Pasang Badan Jelang Pemilu Israel 27 Oktober

Arina.id — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memilih ogah memberikan dukungan politik kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026. Sikap ini berbeda dengan Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Netanyahu untuk kembali memimpin Israel.

Perbedaan sikap dua tokoh utama pemerintahan Amerika Serikat itu muncul ketika posisi politik Netanyahu menghadapi ujian serius. Partai Likud yang dipimpinnya berhadapan dengan partai-partai oposisi, termasuk Yashar! yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot.

Dalam wawancara dengan jurnalis Mark Halperin pada Senin (19/10/2026), Vance menegaskan dirinya tidak ingin terlibat dalam kontestasi politik Israel. Ia memilih memusatkan perhatian pada pemilihan paruh waktu Amerika Serikat.

“Saya tidak menentang dukungan itu. Saya juga tidak mendukungnya. Saya tidak ikut campur dalam pemilihan umum Israel,” kata Vance.

Ia menambahkan bahwa prioritasnya adalah mendukung kandidat-kandidat Amerika Serikat menjelang pemilihan paruh waktu.

Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Trump secara terbuka memberikan dukungan kepada Netanyahu. Trump bahkan memuji pemimpin Israel itu sebagai perdana menteri yang tangguh dan mitra penting dalam menghadapi ancaman Iran. Perbedaan sikap tersebut menyoroti pendekatan politik yang tidak sepenuhnya sama di antara dua pemimpin pemerintahan AS itu.

Pemilu Israel Jadi Ujian Berat Netanyahu

Pemilihan umum pada 27 Oktober mendatang akan menentukan komposisi parlemen Israel atau Knesset untuk periode berikutnya. Pemungutan suara ini juga menjadi ujian politik bagi Netanyahu setelah serangkaian konflik dan perdebatan mengenai arah keamanan nasional Israel.

Partai Likud yang dipimpin Netanyahu selama ini menjadi kekuatan utama pemerintahan sayap kanan. Dalam pemilu kali ini, Likud berhadapan dengan Yashar! yang dipimpin Eisenkot, serta kekuatan oposisi lain yang berusaha membangun koalisi alternatif.

Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel, berupaya menyatukan partai-partai oposisi untuk merebut pemerintahan dari kubu Netanyahu. Ia tampil sebagai salah satu penantang utama dalam persaingan politik menjelang pemungutan suara.

Sejumlah jajak pendapat sebelum pemilu menunjukkan persaingan ketat, dengan Yashar dalam beberapa survei berada di atas Likud. Namun, hasil akhir masih sulit dipastikan karena pembentukan pemerintahan Israel sangat bergantung pada kemampuan partai-partai membangun koalisi di parlemen.

Likud dan Sekutu Sayap Kanan Hadapi Persaingan

Netanyahu tidak hanya mengandalkan Likud. Kubu pemerintahannya juga berkaitan dengan partai-partai nasionalis dan ultra-Ortodoks, termasuk Otzma Yehudit pimpinan Itamar Ben-Gvir, Shas, dan United Torah Judaism.

Koalisi tersebut menghadapi tantangan dari partai-partai yang ingin mengubah kepemimpinan pemerintahan. Selain Yashar, terdapat kekuatan politik yang terkait dengan Naftali Bennett dan Yair Lapid, serta partai-partai oposisi lain yang berusaha memperbesar peluang membentuk pemerintahan baru.

Di sisi kanan politik Israel, Ben-Gvir juga menjadi salah satu figur yang patut diperhatikan. Partainya, Jewish Power atau Otzma Yehudit, dilaporkan berpotensi meningkatkan perolehan kursi di tengah menguatnya dukungan sebagian pemilih muda terhadap agenda nasionalis garis keras.

Situasi ini membuat persaingan pemilu tidak hanya berkisar pada Netanyahu dan Eisenkot. Perimbangan kursi di antara partai-partai sekutu dan oposisi akan menentukan siapa yang memiliki peluang paling besar membentuk pemerintahan berikutnya. Associated Press Reuters

Dukungan Trump Belum Tentu Mengangkat Elektabilitas Netanyahu

Dukungan Trump selama ini menjadi salah satu modal diplomatik penting bagi Netanyahu. Pada masa jabatan pertamanya, Trump memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, dan mendorong normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab.

Setelah kembali menjabat pada Januari 2025, Trump juga mempertahankan hubungan dekat dengan pemerintahan Netanyahu. Namun, kedekatan kedua pemimpin itu tidak otomatis menjamin dukungan pemilih Israel.

Sejumlah survei menunjukkan bahwa sebagian pemilih Israel berhati-hati terhadap keterlibatan Trump dalam kebijakan keamanan negaranya. Perbedaan pandangan mengenai operasi militer di Lebanon dan kemungkinan eskalasi konflik dengan Iran ikut membentuk perdebatan politik domestik.

Karena itu, dukungan terbuka Trump kepada Netanyahu menghadirkan dua kemungkinan: memperkuat citra Netanyahu sebagai pemimpin yang memiliki akses langsung ke Washington, atau justru memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana keputusan keamanan Israel dipengaruhi kepentingan Amerika Serikat.
 


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo