Jakarta, Arina.id — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai sebagai menteri yang paling dekat dengan anak muda.
Hasil survei Indopol Survey menempatkan Ketua Umum Partai Demokrat itu di posisi teratas dengan perolehan 28,7 persen, mengungguli sejumlah menteri lain di Kabinet Merah Putih.
Temuan ini menarik menjelang Pilpres 2029, ketika kedekatan dengan pemilih muda berpotensi menjadi salah satu modal politik bagi tokoh yang ingin bersaing dalam kontestasi nasional.
Berdasarkan data Indopol Survey dalam laporan nasional dua tahun kinerja Kabinet Merah Putih periode Oktober 2026, AHY unggul atas Menteri BUMN Erick Thohir yang memperoleh 15,3 persen, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebesar 13,3 persen, serta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebesar 10 persen.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid memperoleh 2,5 persen. Sebanyak 7 persen responden memilih kategori lainnya, sedangkan 23,2 persen tidak tahu atau tidak menjawab.
Dengan angka tersebut, AHY unggul 13,4 poin persentase atas Erick Thohir. Namun, besarnya responden yang belum memberikan jawaban menunjukkan masih adanya ruang bagi figur lain untuk membangun kedekatan dengan publik.
AHY Unggul di Kalangan Milenial
Data demografi memperlihatkan bahwa persepsi terhadap AHY tidak merata di seluruh kelompok masyarakat. Berdasarkan kelompok usia, AHY memperoleh 25 persen di kalangan Generasi Z berusia di bawah 25 tahun.
Angka tersebut meningkat menjadi 28,9 persen pada kelompok milenial berusia 25–43 tahun. Sementara itu, pada Generasi X berusia 44–59 tahun, perolehan AHY mencapai 35,3 persen, dan pada kelompok baby boomer berusia 60 tahun ke atas sebesar 33,3 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa keunggulan AHY tidak hanya ditopang oleh kelompok usia muda. Justru, persentase tertingginya dalam kategori usia berasal dari Generasi X.
Dari sisi wilayah, AHY memperoleh dukungan persepsi tertinggi di Maluku dan Papua sebesar 37,1 persen, disusul Jawa sebesar 30,7 persen, Bali dan Nusa Tenggara 28,3 persen, Sumatera 25 persen, Kalimantan 26,2 persen, serta Sulawesi 23,6 persen.
Berdasarkan jenis kelamin, AHY memperoleh 24,1 persen di kalangan laki-laki dan 33,3 persen di kalangan perempuan.
Temuan tersebut memberi gambaran bahwa citra AHY sebagai figur yang dekat dengan anak muda tidak berdiri sendiri. Persepsi terhadap dirinya juga terbentuk dari karakteristik wilayah, usia, dan jenis kelamin responden.
Relevansi dengan Pilpres 2029
Hasil survei Indopol tersebut menambah dimensi baru dalam pembacaan peta politik menuju Pilpres 2029. Kedekatan dengan anak muda dapat menjadi modal komunikasi politik, terutama karena generasi muda merupakan salah satu kelompok pemilih penting dalam pemilu mendatang.
Meski demikian, penilaian sebagai menteri yang dekat dengan anak muda tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai tingginya elektabilitas AHY sebagai calon presiden. Kedua indikator itu mengukur hal berbeda: satu berkaitan dengan persepsi terhadap kedekatan personal, sedangkan lainnya mengukur pilihan politik dalam simulasi pemilihan.
Gambaran mengenai posisi elektoral AHY dapat dilihat dari survei lain. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dalam survei yang dilaksanakan pada 1–10 Oktober 2026, mencatat AHY memperoleh 28,2 persen dalam simulasi tiga nama calon presiden. Angka itu berada di bawah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebesar 29,7 persen, tetapi di atas Presiden Prabowo Subianto yang memperoleh 22,7 persen.
Hasil tersebut merupakan simulasi tersendiri dan tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan survei Indopol karena pertanyaan serta indikator yang diukur berbeda. Namun, temuan SMRC memperlihatkan bahwa AHY juga masuk dalam persaingan elektoral ketika namanya diuji sebagai calon presiden dalam skenario tertentu.
Dengan demikian, hasil Indopol dapat dibaca sebagai salah satu indikator citra politik AHY, bukan sebagai kepastian mengenai peluang pencalonan atau kemenangannya pada 2029.
Kedekatan dengan Anak Muda Belum Menjamin Dukungan Elektoral
Untuk mengubah persepsi positif menjadi dukungan politik, AHY masih harus menunjukkan bahwa kedekatan tersebut beriringan dengan kemampuan menjawab persoalan yang dihadapi generasi muda, termasuk kesempatan kerja, biaya pendidikan, akses terhadap hunian, dan mobilitas sosial.
Bagi pemilih muda, pengenalan terhadap seorang tokoh tidak selalu berujung pada keputusan untuk memilihnya. Penilaian terhadap kinerja, gagasan, rekam jejak, serta kemampuan menawarkan solusi atas persoalan sehari-hari dapat menjadi faktor yang berbeda dalam menentukan pilihan politik.
Karena itu, hasil survei Indopol memberikan sinyal mengenai posisi AHY dalam persepsi publik, khususnya dalam kategori kedekatan dengan anak muda. Seberapa jauh modal persepsi tersebut dapat dikonversi menjadi dukungan elektoral menuju Pilpres 2029 masih bergantung pada perkembangan politik dan preferensi pemilih dalam beberapa tahun mendatang.
Editor:


