Mengulas Level Kesadaran Manusia, dari Reaktif hingga Cuma Berwacana

Mengulas Level Kesadaran Manusia, dari Reaktif hingga Cuma Berwacana

Jakarta, Arina.id –  Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fahruddin Faiz menguraikan tingkat atau level kesadaran manusia. Dalam kajiannya, Fahruddin Faiz merujuk buku The Mentor in Me: What to Do and What Not to Do karya William Todd. Ia mengajak masyarakat mengenali tingkat kesadaran masing-masing, sekaligus memahami pentingnya menggunakan akal budi sebelum bertindak.

Level pertama adalah kesadaran animal atau kesadaran binatang. Menurut Fahruddin Faiz, ciri utama kesadaran ini adalah pola fight or flight, yakni melawan atau melarikan diri. Orang yang berada pada level ini cenderung mencari kesenangan, kenyamanan, dan hal-hal yang membuat dirinya merasa enak.

Ia menjelaskan, kesadaran animal ditandai dengan sikap reaktif, yaitu merespons suatu keadaan secara spontan tanpa mempertimbangkan akibatnya terlebih dahulu.

“Diingat-ingat, ada beda antara reaktif dan responsif. Kesadaran animal itu reaktif. Reaktif itu kalau mendapat masalah tidak dipikir dulu, tiba-tiba merespons,” jelasnya dalam tayangan Ruang Sinau diakses Rabu (21/10/2026).

Fahruddin Faiz mencontohkan, seseorang yang dimaki-maki orang lain kemudian langsung membalas makian atau marah ketika mendapatkan nilai buruk tanpa terlebih dahulu memahami situasinya. Menurut dia, tindakan semacam itu menunjukkan respons yang lebih didorong oleh reaksi spontan daripada pertimbangan rasional.

Padahal, manusia memiliki akal budi yang membedakannya dari makhluk lain. Namun, pada level kesadaran ini, kemampuan tersebut belum digunakan secara optimal.

“Padahal kita istimewa karena punya akal budi. Tapi di level kesadaran paling bawah ini jarang dipakai,” ujarnya.

Level kedua adalah kesadaran massa atau mass consciousness. Pada tahap ini, seseorang cenderung mengikuti perilaku, pendapat, dan pilihan orang-orang di sekitarnya tanpa melakukan pertimbangan secara mandiri.

Fahruddin Faiz menyebut pola tersebut sebagai follow the crowd, yakni mengikuti arus kerumunan. Seseorang melakukan sesuatu karena orang lain melakukannya, bukan karena telah memahami alasan dan menentukan sikapnya sendiri.

“Pokoknya yang lain ke utara, ya saya ke utara. Yang lain ke selatan, ya saya ke selatan,” tuturnya.

Menurut dia, orang yang berada pada level ini belum sepenuhnya membangun kesadaran yang otentik. Pilihan hidupnya lebih banyak ditentukan oleh penilaian dan kebiasaan lingkungan daripada hasil pemikiran pribadi.

Bahkan, perilaku yang tampak baik sekalipun belum tentu menunjukkan kesadaran mandiri apabila dilakukan semata-mata karena mengikuti orang lain.

Level ketiga adalah kesadaran aspirasi atau aspiration consciousness. Pada tahap ini, seseorang mulai menggunakan pikirannya untuk membangun pandangan, mengemukakan gagasan, dan menawarkan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah.

Meski demikian, Fahruddin Faiz menilai kesadaran aspirasi masih memiliki kelemahan, yakni kecenderungan berhenti pada gagasan tanpa diikuti tindakan nyata.

Ia menggambarkan kondisi tersebut melalui kebiasaan rapat yang berlangsung berulang kali, dengan banyak usulan dan diskusi, tetapi tidak menghasilkan keputusan yang dapat dijalankan.

“Pikirannya dipakai sih, tapi ya mikir untuk mikir saja,” ungkapnya.

Menurut dia, seseorang pada level ini sudah mulai menggunakan akal budi, tetapi belum memiliki orientasi tindakan yang kuat. Gagasan terus bermunculan, sedangkan keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan mewujudkannya masih terbatas.

Fahruddin Faiz mencontohkan, sebuah rapat dapat berlangsung berjam-jam dengan berbagai usulan. Namun, ketika pembahasan sampai pada persoalan anggaran dan tanggung jawab pelaksanaan, tidak ada yang memberikan kepastian. Akibatnya, kegiatan yang direncanakan tidak kunjung terlaksana.

“Keputusan rapat kita hari ini adalah kita rapat lagi minggu depan. Nah, itu kamu ada di kesadaran aspirasi,” katanya.

Ia menambahkan, kecenderungan lain pada level tersebut adalah terlalu lama berkutat dengan berbagai kemungkinan atau skenario tanpa mengambil keputusan. Seseorang terus membayangkan apa yang mungkin terjadi, tetapi tidak segera menentukan langkah konkret.

Melalui pemetaan ketiga level kesadaran tersebut, Fahruddin Faiz mengajak masyarakat untuk mengevaluasi cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran tidak cukup berhenti pada reaksi spontan atau mengikuti kebiasaan orang lain, tetapi juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo