Kisah ini disampaikan oleh ayah saya yang kebetulan bertemu salah satu santri KHR. As'ad Syamsul Arifin Situbondo, tepatnya saat ayah mengantarkan Abah Thoyib Krian silaturahim ke pondok KH. Abu Amar Khatib Pasuruan.
Begini, suatu ketika ada seorang tamu sowan Kiai As'ad Syamsul Arifin, kemudian ia dan tamu lainnya disuguhi buah durian, karena ketepatan pada saat itu sedang musim durian.
Tamu itu pun tersenyum kecut sambil berkata:
"Ngapunten Kiai, saya tidak berani makan durian". (Maaf, kiai, saya tidak berani makan durian)
Kiai As'ad pun bertanya:
"Lho, kenapa?"
"Saya menderita asam urat dan kolesterol, Kiai. Jadinya oleh dokter tidak boleh makan durian". Ucap si tamu sambil memegang kakinya yang bengkak.
Kiai As'ad tersenyum seraya berkata:
bismillahi la yadlurru ma'asmihi syaiun fil ardhi wala fis sama' wahuwassami'ul alim'. Doa ini dibaca dengan hitungan ganjil tiap akan makan atau minum."
Si tamu pun merapal doa itu berulang-ulang supaya cepat hapal. Kemudian akhirnya tamu itu pun pulang.
Keesokan hari, si tamu sowan lagi kepada Kiai As'ad dan berkata:
"Alhamdulillah, Kiai. Doa yang panjenengan ijazahkan sangat manjur. Bengkak di kaki saya sudah sembuh dan asam urat hilang. Terima kasih, Kiai".
Kiai As'ad berpesan "Bacalah doa tersebut tiap kali akan makan atau minum agar unsur madarratnya dihilangkan oleh Allah".
Dari kisah singkat ini dapat dipetik pelajaran bahwa betapa pentingnya membaca doa ketika akan mengonsumsi makanan dan minuman, sehingga unsur madharrat (penyakit) akan ternetralisir.
Editor:


