Belakangan ini saya cukup intens bertemu dengan kalangan kampus di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Dalam berbagai kesempatan, isu penting yang selalu saya sampaikan di hadapan para pemangku pendidikan tinggi adalah bagaimana menjadikan kampus PTKI sebagai pusat-pusat keunggulan (center of excellence). Itu artinya dalam mengelola perguruan tinggi tidak cukup ala kadarnya atau "business as usual". PTKI memiliki corak berbeda dengan lembaga pendidikan lain, apalagi dunia usaha. Di dalamnya diperlukan komitmen dan usaha-usaha inovatif (kepeloporan) agar lahir insan-insan berpengetahuan mendalam, terampil, dan pendobrak.
Lalu bagaimana caranya? Pertama, untuk membentuk insan berilmu mendalam (ar-arrasikhuna fi al-'ilmi) perlu dibangun iklim akademik yang mapan (established). Bukankah keunggulan perguruan tinggi terletak pada pembudayaan pengkajian dan pengembangan ilmu? Diskusi (seminar, konferensi, workshop), menulis dan mempublikasi karya ilmiah, melakukan riset, dan berjejaring adalah spirit yang harus dan terus dirawat.
Satu contoh kecil yang sering saya ungkapkan adalah menjaga tradisi kajian keilmuan dengan konsisten. Banyak civitas academica yang mengukur kajian keilmuan dari angka-angka, misalnya saat akan menyelenggarakan seminar yang ditargetkan minimal 100 orang, ternyata yang hadir hanya 7-10 orang, lalu dibatalkan. Keputusan membatalkan majelis ilmu jelas fenomena buruk dalam tradisi kampus.
Membatalkan seminar, workshop, atau forum ilmu karena alasan jumlah yang tidak berekspektasi membuat iklim akademik tidak terjaga dengan baik. Tidak ada spirit konsistensi dalam menjaga enkulturasi keilmuan. Meskipun sedikit, atau hanya beberapa gelintir orang, majelis ilmu semestinya tetap jalan. Praktik baik (best practices) ini nyata telah diterapkan di dunia pesantren.
Konsistensi (istikamah) merupakan spirit utama dalam majelis ilmu. Para kiai di pesantren, misalnya, sudah sangat terbiasa mengajar dengan ribuan, ratusan atau hanya puluhan santri. Bahkan meski santri yang datang mengaji hanya hitungan jari, sang kiai tetap membeber ngajinya demi menjaga tradisi keilmuan. Maqalah klasik yang sering disebut di dunia pesantren adalah "al-istiqamah khairun min alfi karamah" (konsistensi itu lebih baik dari 1.000 karamah/keramat). Para kiai memahami betul betapa istikamah itu selain mengandung unsur psikologis, juga menyimpan kekuatan spiritual.
Dengan pembudayaan kajian ilmu secara rutin dan konsisten, —sebagaimana spirit keilmuan pesantren—kampus-kampus akan membangun iklim keilmuan yang kuat. Dari "majelis ilmu" yang mapan akan lahir insan-insan tangguh dalam kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Meski ditekuni segelintir orang, justru dari merekalah akan muncul gagasan, ide, dan karya ilmiah, seperti prosiding, artikel jurnal, dan semacamnya yang berkualitas.
Iklim akademik kampus semacam itu telah benar-benar dilaksanakan perguruan tinggi di negara-negara maju. Atmosfir ilmiah begitu terasa ketika memasuki gerbang perguruan tinggi di Amerika, Eropa, Australia, Jepang, dll. Mereka (pemangku perguruan tinggi) benar-benar ingin menjadikan kampus sebagai pusat-pusat peradaban ilmu pengetahuan yang sangat berkontribusi bagi pembangunan dan lahirnya intelektual baru dengan ilmu yang mendalam.
Kedua, selain lahirnya ilmuwan, kampus harus dijadikan pusat lahirnya SDM terampil. Terlalu banyak contoh perguruan tinggi yang melahirkan lulusan tanpa disertai kemampuan keterampilan. Apalagi kampus yang hanya "bermain-main" untuk tujuan bisnis atau uang semata. Mereka tidak berpikir mengelola kampus dengan kesungguhan, tidak mau melaksanakan Tri Dharma dengan baik. Yang ada dalam "jangkauan pikirannya" adalah bagaimana mendapatkan mahasiswa sebanyak mungkin yang berimbas pada pendapatan kampus tanpa diimbangi proses mutu.
Selain soal pengembangan ilmu, kampus harus mencetak para alumni yang memiliki keterampilan (skill). Semakin beragam keterampilan yang dimiliki, semakin banyak pihak yang membutuhkan. Kita tidak bisa membayangkan jika kampus melahirkan "generasi minus keterampilan" yang begitu wisuda tidak ada yang peduli kehadirannya.
Dalam konteks PTKI, harus dijalankan betul bagaimana para alumni selain memiliki bekal ilmu pengetahuan yang memadai, juga harus dibekali "soft skill" yang cukup sebagai modal keunggulan terjun di masyarakat. Keterampilan yang dimaksud di sini bisa diartikan dengan "impact and influence" yang lebih menekankan pada kemampuan tindakan para alumni untuk mempersuasi, meyakinkan dan mempengaruhi seseorang atau publik demi mendukung tujuannya. Artinya, skill sebagai "supporting" terhadap wawasan yang dimiliki atau unsur kemampuan lain yang didapatkan dari proses pendidikan di dalam maupun di luar kampus.
Gus Menteri Yaqut Cholil Qoumas sering mengingatkan agar PTKI benar-benar memperbaiki mutu dengan adding values berupa distingsi "soft skill". Kampus harus menjadi pusat-pusat expertise dengan banyak keahlian dan keterampilan. Karenanya, PTKI perlu rebranding khusus yang menjadi keunggulan dari kampus lain. Para alumni PTKI harus dibekali penguatan "soft skill" yang tidak dimiliki para alumni kampus lain, seperti keunggulan bidang leadership berbasis spiritual, terampil dalam public speaking berbasis nilai-nilai keagamaan, inisiator kerukunan umat beragama, pelopor politik etis, penggerak civil society dengan kekuatan moral, dan lain-lain.
Apalagi di tengah perkembangan teknologi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), para alumni PTKI harus mendapat modal keterampilan lebih di bidang teknologi dan informasi. Teknologi AI telah mengubah seluruh sistem pendidikan dan kehidupan manusia di masa depan, dan itu berarti para alumni PT harus siap menghadapi dengan skill tinggi agar tidak tergerus oleh perubahan.
Ketiga, perguruan tinggi harus melahirkan generasi pendobrak, inisiator, dan penggerak. Alumni perguruan tinggi harus dijauhkan dari generasi "followers", menjadi pengikut tanpa memahami arah yang diikuti. Generasi pendobrak adalah mereka yang memiliki ide atau gagasan cemerlang dalam mengatasi masa kehidupannya, sehingga melahirkan kreatifitas, inovasi, dan karya yang benar-benar manfaat bagi kehidupan.
Menilik perguruan tinggi di USA—saat saya melakukan kunjungan kerja di berbagai perguruan tinggi di empat kota (Washington DC, Bufallo, Rocester, dan Boston)— perguruan tinggi benar-benar menjadi episentrum peradaban bagi wilayah di mana kampus itu berada. Kampus-kampus itu terkoneksi dengan dunia industri dan kebutuhan masyarakat. Para mahasiswa adalah calon-calon pemimpin, penggerak, dan pendobrak karena dibekali dengan kemampuan yang memadai.
Teringat apa yang pernah dikatakan oleh sosiolog muslim terkemuka, Ibnu Khaldun, bahwa dalam 100 tahun perjalanan suatu bangsa akan lahir empat model pemuda. Pertama, generasi pendobrak. Mereka berani melakukan perubahan secara mendasar. Kedua, generasi pembangun. Dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk di bawah ototiras kekuasan yang didukungnya, bekerja secara bersistem, memiliki rencana dan target yang terukur.
Ketiga, generasi penikmat. Karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasan, mereka tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Mereka berpikir bagaimana menikmati daripada bekerja untuk membangun. Keempat, generasi masa bodoh. Mereka tidak lagi memiliki hubungan emosional dengan negara. Mereka melakukan apa saja yang mereka suka tanpa memedulikan nasib negara.
Tentu, PTKI harus bisa melahirkan generasi pendobrak dan pembangun, bukan penikmat dan masa bodoh. Hancurnya sebuah peradaban karena dominannya kelompok tersebut yang tidak memiliki kontribusi dalam membangun peradabannya, tetapi justru sebagai faktor penghambat dalam rentang perjalanan sejarahnya. Apakah perguruan tinggi kita mampu tampil menjadi episentrum peradaban masa depan? Semua akan kembali kepada para pemangkunya.
Thobib Al Asyhar, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama DIKTIS, Dosen SKSG Universitas Indonesia.
Thobib Al Asyhar
Dosen Psikologi Sufistik SKSG Universitas Indonesia, Direktur GTK Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.
Editor:


