Hari itu, Jumat (6/6/2025) bertepatan dengan hari raya Idul Adha 1446 Hijriah saya sempat diminta tolong untuk menyembelih kambing di salah satu unit Pesantren Al-Hidayah Tanggulangin Sidoarjo. Kebetulan saya merupakan salah satu tenaga pengajar di pesantren tersebut.
Semua saya lakukan walau dengan kondisi sedikit mengantuk karena belum sempat tertidur setelah merasakan euforia kemenangan Timnas Indonesia. Dilanjutkan memastikan calon lawan juara EURO 2016, Cristiano Ronaldo dan Timnas Portugal di final UEFA Nations League akan melawan juara EURO 2024, Lamine Yamal dan Timnas Spanyol.
Setelah itu, saya bergegas mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat Jumat. Saya pribadi sangat condong terhadap pendapat yang mewajibkan sholat Jumat setelah paginya melakukan shalat Ied. Ketentuan uzur sholat Jumat bagi penduduk plosok desa setelah melaksanakan Ied sudah tidak relevan memandang konteks dan realita kekinian. Akses menuju masjid saat ini sudah sangat mudah dan tanpa hambatan.
Niat hati hendak beristirahat sejenak setelah selesai sholat Jumat dengan tidak memanaskan tungku sate di siang itu. Namun, kabar mengejutkan sontak menghilangkan hasrat tidur dalam diri ketika mengetahui video guru saya, KH. Syafi’ Misbah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Tanggulangin, Sidoarjo tergeletak tidak sadarkan diri dihadapan petugas medis yang sedang dilakukan penanganan RJP (resusitasi jantung paru).
Bagi saya, beliau berperan penting dalam pembentukan intelektual kepesantrenan dalam diri saya. Beliau sosok Kiai pertama saya sebelum saya diutusnya untuk mengaji kepada KH. Maimoen Zubair di Pesantren Al-Anwar Sarang.
Beberapa tahun terakhir, beliau menjuluki saya sebagai “Liberal Nanggung”, saat setelah saya mulai berdansa dengan filsafat skeptisisme Descartes dan paripatetik Socrates dalam bilik-bilik pascasarjana. Beliau sebut nanggung sambil memegang jenggot tipis saya yang seperti Salafi Cindo.
Terkadang juga beliau melabeli saya dengan sebutan “licik”, ketika saya ditanya “kapan ndue anak neh?” (kapan punya anak lagi?). Beberapa kali juga memarahi saya untuk potong rambut yang kian mirip dengan gaya rambut Omar Daniel dalam Hati Suhita.
***
Mina, di antara tenda-tenda ibadah impian setiap Muslim, masih dengan kain ihram yang melekat ditubuhnya, saat setelah melaksanakan ibadah lempar Jumrah Aqabah, beliau terjatuh dan tidak sadarkan diri karena kehabisan tenaga untuk melayani para jamaah haji berkursi roda.
Pikiran kacau, berharap dalam kecemasan, seakan isi otak berusaha menghindari terjadinya kemungkinan yang paling buruk, dan hanya melawannya dengan untaian doa. Namun, apalah daya doa manusia jika Allah sudah berkehendak. Tepat jam 01.20 WIB tersebar pesan ketiadaan beliau dari WhatsApp resmi keluarga.
Entah bagaimana hubungan probabilitas bisa menjabarkan sakralitas angka tersebut. Logika saya runtuh ketika tak sengaja melihat story WhatsApp terakhir beliau bertuliskan ”01.20 jum’at”, seakan hanya logika mistika yang bisa menjawabnya dalam sebuah folklore “Isyarat Kematian”, seperti beliau sudah merasakan akan dipanggil sowan kepada Allah.
Saya bergumam dalam hati: “Mungkin ini yang anda inginkan selama ini Yai, menjadikan Mbah Maimoen sebagai role model kehidupan, memprioritaskan Mbah Moen dan keluarganya atas segala urusan pribadi, dan selalu menjalin keterikatan zahir batin kepada Mbah Moen sebagai seorang santri. Akhirnya anda meninggal dunia dengan momentum yang sama, dan dimakamkan di Kota yang sama, seakan anda berjalan di belakangnya untuk bersama sowan kepada Allah”.
Ibarat Jalaluddin Rumi yang sangat mencintai dan merindukan untuk bertemu dengan gurunya, Syamsuddin al-Tibrizi yang terlebih dahulu meninggal dunia, guru yang selalu dia kuatkan keterkaitan zahir dan juga batinnya. Kiai Syafi’ yang selalu merindukan bersanding dengan Mbah Moen, bagi saya adalah representasi Rumi dan al-Tibrizi di era kekinian.
***
Memang benar, kepergian Kiai Syafi’ diiringi dengan duka seluruh orang yang mengenalnya secar personal, terutama keluarga dan santrinya, bahkan masyarakat Sidoarjo secara umum. Namun, bagi saya beliau sedang berbahagia dan bergembira menyambut petemuannya dengan Mbah Moen di alam tak kasatmata.
Dalam sebuah doa ketika menjalani wukuf di Arafah, dengan segala rintangan yang terjadi pada haji tahun ini, beliau berdoa kepada Allah untuk disambungkan kepada guru-gurunya, “Alhiqna bihim Ya Allah” dengan sesenggukan air mata rindu, dengan ekspresi keikhlasan yang tidak terbantahkan.
Menurut KH. Nawawi Suyuthi Cholil, atau yang akrab disebut dengan Mbah Wie, beliau bahkan juga merupakan salah satu panitia pelaksanaan Haul Mbah Maimoen yang ke-6 di Mushalla hotel Misfalah Makkah Mukarramah yang sempat memimpin doa dalam kondisi ihram. Menurut Mbah Wie, ini tidak hanya terjadi tahun ini akan tetapi sudah sejak tahun 2022.
Tidak hanya bertemu dengan Mbah Moen dalam ruang dan waktu yang sama, Kiai Syafi’mendapatkan banyak privillege ukhrawi yang mungkin akan membuat banyak orang iri dan mendambakan untuk mendapatkannya.
Beliau wafat di hari Jumat, dan sudah menjadi common sense bagi masyarakat Muslim bahwa salah satu tanda husnul khatimah adalah meninggal dunia di hari Jumat. Imam Ahmad meriwayatkan hadits Ibnu Umar dalam Musnad-nya no. 6582 berikut:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: " مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
Artinya: "Dari Abdullah bin Umar, dari Nabi bersabda “Tidaklah seorang Muslim yang meninggal dunia di hari atau malam Jumat kecuali Allah jaga dari fitnah kubur”.
Bahkan Mbah Moen pernah dawuh terkait meniggal dunia di hari Jumat, beliau berkata: “Nek aku mati dino Jumat, aku wali. Nek aku mati dino seloso, aku ulama.” (Jika aku meninggal dunia hari Jumat, maka aku adalah seorang wali Allah. Jika aku meninggal dunia hari Selasa, maka aku adalah ulama Allah).
Beliau juga meninggal dunia ketika dalam keadaan ihram haji, kain ihram masih melekat di tubuh, saat setelah melaksanakan Jumrah Aqabah. Imam Bukhari meriwayatkan hadits Ibnu Abbas dalam Sahih-nya no. 1861 berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ رَجُلًا كَانَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَوَقَصَتْهُ نَاقَتُهُ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَمَاتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: "اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ، وَلَا تَمَسُّوهُ بِطِيبٍ، وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ؛ فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا".
Artinya: "Dari Ibnu Abbas berkata, sesungguhnya terdapat seorang pria bersama Nabi, dia jatuh dari untanya dan meretakkan lehernya hingga meninggal dunia. Kemudian Rasulullah bersabda “mandikanlah dia dengan air dan daun sidr, kafanilah dengan kedua kain ihramnya, jangan beri wewangian, jangan tutup kepalanya, sesungguhnya dia kelak di hari kiamat akan dibangkitkan dengan membaca talbiyah”.
Abu Ya’la meriwayatkan hadits Abu Hurairah dalam Mu’jam-nya no. 101 berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ خَرَجَ حَاجًّا، فَمَاتَ، كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْحَاجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ خَرَجَ مُعْتَمِرًا، فَمَاتَ، كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَمَاتَ، كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْغَازِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Artinya: "Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda “Barang siapa yang melakukan ekspedisi haji, kemudian meninggal dunia, maka Allah menulis pahala haji baginya kelak di hari kiamat. Barang siapa yang berekspedisi umrah, kemudian meninggal dunia, maka Allah menulis pahala umrah baginya di hari kiamat. Barang siapa yang berskepedisi perang di jalan Allah, kemudian meninggal dunia, maka Allah menulis pahala jihad baginya kelak di hari kiamat."
***
Tidak ada keraguan bagi saya sebagai santrinya yang “Liberal” bahwa beliau husnul khatimah. Sama halnya gurunya, guru saya juga, yakni Syaikhuna Maimoen Zubair, tiada keraguan dari siapapun bahwa beliau husnul khatimah.
Santri mana yang tidak berkabung ketika mengetahui kiainya meninggal dunia, meskipun tidak semuanya murah meneteskan air mata. Mungkin saja rasa kehilangan itu menerkam hingga membekukan retina untuk tidak membasahi pipi.
Namun, jika beliau berdua adalah representasi dari Rumi dan al-Tibrizi yang saling bertemu dalam keabadian, setidaknya ada rasa bangga dan syukur bahwa kedua guru saya ditakdirkan Allah menjadi orang mulia bagi penduduk bumi dan langit.
Tidak ada epilog yang layak bagi saya untuk mengakhiri setiap obituari yang menumpuk di otak saya tentang beliau, dan juga kedekatannya dengan Mbah Moen. Yang bisa terucap dalam goresan pena adalah:
“Selamat jalan Kiaiku. Selamat berbahagia bersua dengan guru besar kita, selamat bercengkrama bersama Mbah Maimoen dengan tawa bahagia di bawah lindungan rahmat Allah di dalam keabadian”.
Editor:


