Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: Kemuliaan Sifat Dermawan dalam Hadits Rasulullah

Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: Kemuliaan Sifat Dermawan dalam Hadits Rasulullah

Arina.id - Ngaji Ihya’ Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali kembali digelar dalam edisi ke-408, dipandu oleh KH. Ulil Abshar Abdalla, atau akrab disapa Gus Ulil. Pada pertemuan kali ini, pembahasan difokuskan pada jilid keenam halaman 158, [edisi Darul Minhaj], mengupas salah satu sifat terpuji dalam Islam, yakni kedermawanan (فضيلة السخاء). 

“Sekarang, kita akan membahas keutamaan kedermawanan, atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai generosity,” kata Gus Ulil, sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Senin [18/11/2024].

Masih lanjutan dari edisi sebelumnya, dalam pengajian kali ini, Gus Ulil kembali membacakan beberapa hadits Rasulullah yang menegaskan keutamaan sifat dermawan [فضيلة السخاء]. Salah satu hadits yang dibahas berasal dari riwayat al-Hilali, Rasulullah bersabda:

وعن الهلالي قال : أتي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بأسرى مِنْ بَني العنبر ، فأمر بقتلهم ، وأفرد منهم رجلاً ، فقال علي بن أبي طالب رضي الله عنه : يا رسول الله ؛ الرب واحد ، والدين واحد ، والذنب واحد ؛ فما بال هذا من بينهم ؟ فقال صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : ( نزل علي جبريل فقال : اقتل هؤلاء واترك هذا ؛ فإنَّ الله تعالى شكر له سخاء فيه

Artinya: “Diriwayatkan dari al-Hilali bahwa Rasulullah didatangkan/dikirim tawanan perang dari Bani Al-Anbar, lalu beliau memerintahkan untuk membunuh mereka. Namun, beliau memisahkan salah seorang dari mereka. Lalu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Tuhan itu satu, agama itu satu, dan dosa mereka sama: mengapa orang ini dibedakan di antara mereka?’ Rasulullah menjawab, “Jibril turun kepadaku dan berkata: Bunuhlah mereka dan biarkan orang ini: sesungguhnya Allah Ta’ala telah mensyukuri/berterima kasih karena adanya kemurahan hatinya.”

Kata Gus Ulil, kisah ini menunjukkan betapa agungnya sifat dermawan di sisi Allah, yang menjadi penyelamat dalam situasi genting. Kemurahan hati mencerminkan keluhuran jiwa yang dilihat Allah. Pesan ini relevan untuk kehidupan sehari-hari, mengingatkan agar kedermawanan menjadi bagian dari karakter yang dipupuk, karena Allah mencintai mereka yang berhati mulia.

“Ini menunjukkan betapa pentingnya, betapa istimewanya betapa mulianya kualitas akhlak atau kebajikan pada orang itu, yaitu berupa berupah sifat Sakha,” lanjut Gus Ulil.

Kedua, dalam lanjutan pembahasan, Gus Ulil mengutip hadits Nabi Muhammad SAW:

وقال صلى الله عليه وسلَّمَ : ( إنَّ لكل شيء ثمرة ، وثمرة المعروف تعجيل السراح

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya setiap sesuatu itu memiliki buah, dan buah dari kebaikan adalah percepatan pelepasan (pembebasan).”

Gus Ulil menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dampak positif kebaikan, khususnya sifat kedermawanan yang diwujudkan dalam bentuk kemuliaan hati untuk mempercepat pelepasan tawanan perang. 

“Setiap sesuatu itu memiliki buah, tidak hanya pohon, tetapi juga setiap tindakan manusia. Buah dari perbuatan baik adalah menyegerakan pembebasan, terutama terhadap tawanan perang,” terang Gus Ulil.

Lebih lanjut, Gus Ulil mencontohkan penerapan sifat ini dalam konteks kepemimpinan seorang panglima atau imam. Jika seorang pemimpin memutuskan bahwa tawanan perang tidak layak dihukum mati, maka pembebasan segera menjadi bentuk nyata dari kedermawanan. 

“Jadi kalau seorang imam atau panglima memutuskan bahwa tawanan ini tidak layak dibunuh tapi dilepas ya segera dilepas. Itu bentuk sakha, sifat dermawan,” tambah Gus Ulil.

Ketiga, Gus Ulil mengutip sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Nafi’ dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

وعن نافع عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قَالَ رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلم : ( طعام الجواد دواء ، وطعام البخيل داء

Artinya: “Dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah  bersabda: ‘Makanan orang yang dermawan adalah obat, sedangkan makanan orang yang kikir adalah penyakit.”

Sabda ini, jelas Gus Ulil, memiliki relevansi dalam kehidupan sehari-hari. Imam Ghazali, kata penulis buku Jika Tuhan mahakuasa, kenapa manusia menderita? ini menegaskan, makanan yang dimiliki oleh orang dermawan tidak hanya bermanfaat secara fisik tetapi juga membawa keberkahan.

“Makanan orang dermawan itu penuh dengan doa dan kebaikan. Ketika ia berbagi, banyak orang yang mendoakannya, sehingga makanan itu menjadi obat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain,” ungkap Gus Ulil.

Sebaliknya, makanan yang hanya dinikmati oleh orang yang kikir, kata Gus Ulil, justru menjadi sumber penyakit. “Orang yang kikir cenderung memonopoli makanan untuk dirinya sendiri. Alih-alih menjadi nutrisi, makanan itu malah menjadi penyakit bagi tubuhnya karena tidak diiringi keberkahan dan doa dari orang lain,” tambahnya.

Keempat, Kanjeng Nabi Muhammad bersabda tentang pentingnya tanggung jawab sosial bagi mereka yang diberi nikmat lebih oleh Allah SWT:

وقال صلى الله عليهِ وسلَّمَ : ( مَنْ عَظُمَتْ نعمةُ اللهِ عندَهُ.. عَظُمَتْ مؤنة الناس عليه ، فمن لم يحتمل تلك المؤنة .. عرض تلك النعمة للزوال 

Artinya: "Rasulullah bersabda: 'Barang siapa yang besar nikmat Allah atas dirinya, maka besarlah pula kebutuhan manusia terhadapnya. Barang siapa yang tidak menanggung kebutuhan tersebut, maka ia menempatkan nikmat itu dalam ancaman untuk lenyap.”

Dalam penjelasannya, Gus Ulil menyoroti bagaimana konsep kedermawanan yang diajarkan oleh Nabi sejalan dengan prinsip tanggung jawab sosial yang dikenal saat ini sebagai corporate social responsibility (CSR).

“Kalau seseorang diberi nikmat yang besar oleh Allah, otomatis tanggung jawab sosialnya juga semakin besar. Zakatnya bertambah, sedekahnya harus lebih banyak. Kalau tidak tahan dengan konsekuensi ini, nikmat tersebut bisa dicabut oleh Allah,” jelas Gus Ulil.

Ia menekankan bahwa Islam menempatkan ma’unatun (kebutuhan sosial) sebagai ujian bagi orang-orang yang diberi rezeki melimpah. Dengan memenuhi kewajiban sosial ini, nikmat Allah tidak hanya terjaga, tetapi juga menjadi berkah bagi sesama. 

“Dalam bahasa hadits, istilah ma’unatun ini bisa kita sebut sebagai versi Islam dari CSR. Kalau CSR ini tidak dipenuhi, rezeki yang kita terima bisa diambil kembali oleh Allah,” tutur Gus Ulil.

Kelima, Gus Ulil dalam sesi tersebut mengutip hadits tentang pentingnya kedermawanan sebagai amal kebajikan yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat, Nabi bersabda:

وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: اسْتَكْثِرُوا مِنْ شَيْءٍ لَا تَأْكُلُهُ النَّارُ، قِيلَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: الْمَعْرُوفُ

Artinya: “Dan Nabi Isa alaihissalam berkata, ‘Perbanyaklah kalian mengumpulkan sesuatu yang tidak akan dimakan oleh api neraka.’ Kemudian ditanyakan kepadanya, ‘Apakah itu?’ Nabi Isa menjawab, ‘Al-Ma’ruf (kebajikan).’”

Menurut Gus Ulil, hadits ini menunjukkan bahwa kebaikan dan amal saleh memiliki kualitas abadi yang tidak akan terhapus, bahkan oleh panasnya api dunia maupun akhirat. Kedermawanan adalah salah satu manifestasi dari al-ma’ruf, yakni melakukan kebaikan dengan memberikan manfaat kepada orang lain. 

Keenam, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

وقالت عائشة رضي الله عنها : قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : الجنة دار الأسخياء

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Surga adalah tempat tinggal orang-orang yang dermawan.”

Hadits ini, menurut Gus Ulil, menggambarkan betapa besar kedudukan orang yang dermawan di hadapan Allah SWT. Orang yang memiliki sifat kedermawanan kelak akan mendapat jaminan tempat yang indah di surga. Lebih lanjut, sebagai umatnya, seyogianya meneladani Rasulullah SAW yang merupakan contoh utama dari seorang dermawan. 

Rasulullah, tidak hanya kaya dengan harta, tetapi juga kaya dengan kasih sayang dan perhatian terhadap umatnya. Dalam konteks ini, setiap amal kebajikan yang dilakukan dengan ikhlas adalah bagian dari kedermawanan yang akan membawa pahala besar.

Ketujuh, hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, menjelaskan pentingnya sifat dermawan dalam kehidupan seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda:

وقال أبو هريرة : قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : ( إِنَّ السخي قريب من الله ، قريبٌ مِنَ الناس ، قريبٌ مِنَ الجِنَّةِ ، بعيدٌ مِنَ النارِ ، وإن البخيل بعيد من الله ، بعيدٌ مِنَ الناس ، بعيدٌ مِنَ الجِنَّةِ ، قريبٌ مِنَ النارِ ،و جاهل سخي أحبُّ إلى الله من عابد بخيل ، وأدوا الداء البخل

Artinya: “Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Seorang yang bodoh tetapi dermawan lebih dicintai Allah daripada seorang ahli ibadah yang kikir. Penyakit terburuk adalah sifat kikir.”

Dalam kajian Online ini, Gus Ulil menjelaskan bahwa kedermawanan memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Ia menuturkan, “Dermawan bodoh itu lebih baik daripada orang yang rajin beribadah tapi pelit. Orang yang rajin ke masjid dan beribadah, namun tidak mau berbagi, itu lebih buruk. Sedangkan orang yang bodoh, tetapi ia dermawan, justru menunjukkan kemuliaan sifat sakha’ (kedermawanan).”

Kedelapan, Gus Ulil melanjutkan kutipan hadits:

وقال صلى الله عليه وسلَّمَ : ( اصنع المعروف إِلَى مَنْ هُوَ أَهْلُهُ وَإِلَى مَنْ ليس بأهله ؛ فإن أصبت أهله .. فقد أصبت أهله ، وإن لم تصب أهله  فأنتَ مِنْ أَهْلِهِ

Artinya: “Rasulullah bersabda: ‘Berbuat baiklah kepada orang yang layak menerimanya dan kepada orang yang tidak layak menerimanya: jika kamu melakukannya kepada yang layak, berarti kamu telah melakukannya kepada yang layak, dan jika tidak, maka kamu adalah bagian dari orang yang berbuat baik.”

Dalam penjelasan Gus Ulil, hadits ini mengajarkan umat Islam untuk terus berbuat kebaikan tanpa membeda-bedakan siapa yang layak atau tidak, karena berbuat baik adalah amal yang akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah, meskipun mungkin kebaikan tersebut tidak selalu diterima dengan baik oleh yang menerima.

Kesembilan, Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda tentang keutamaan sifat dermawan, yang membawa kepada cinta Allah: 

وقال صلى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : ( إنَّ بدلاء أمتي لم يدخلوا الجنة بصلاة ولا صيام ، ولكن دخلوها بسخاء الأنفس ، وسلامة الصدور ، والنصح للمسلمين (1)


Artinya: “Sesungguhnya dari orang-orang yang menjadi wali-wali Afdal di antara umat-umatku tidak masuk mereka ini surga [batin] karena shalat [sunnah] dan bukan karena puasa [sunnah] tetapi masuk mereka ini kepada surga karena kedermawanannya jiwa-jiwa mereka dan selamatnya dada-dada mereka dari penyakit-penyakit hati  dan karena memberikan nasihat kebaikan kepada orang-orang Islam.” 

Hadits ini, kata Gus Ulil, menjelaskan bahwa meskipun ibadah seperti shalat dan puasa memiliki nilai yang tinggi, faktor yang membedakan seseorang menjadi wali afdal dan layak masuk surga adalah kedermawanan hati serta kesucian jiwa dari penyakit-penyakit yang merusak. 

“Ini tidak berarti bahwa shalat sunah puasa sunah tidak penting,” katanya. 

Lebih lanjut, Gus Ulil mengungkapkan bahwa seseorang yang memiliki hati yang dermawan dan bebas dari sifat-sifat buruk, seperti yang disebutkan dalam kitab Ihya Ulumuddin dengan istilah al-muhlikat (penyakit-penyakit jiwa yang merusak), adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. 

Kesalehan sosial, yaitu kemampuan untuk memberi manfaat kepada orang lain, memiliki kedudukan lebih tinggi daripada kesalehan individual semata. Ini menandakan betapa besar nilai kepedulian terhadap sesama dalam Islam, yang mencerminkan hati yang bersih dan tindakan yang membawa kebaikan bagi masyarakat luas.


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo