Puasa Ramadan merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap umat Islam yang telah mukallaf, yaitu mereka yang telah memenuhi syarat untuk menjalankan ibadah, seperti berakal sehat, telah mencapai usia baligh, dan memiliki kemampuan fisik untuk menjalankan puasa.
Namun demikian, syariat Islam memberikan kelonggaran dalam menjalankan puasa Ramadan bagi umatnya yang berada dalam kondisi tertentu, seperti orang yang sakit atau berada dalam perjalanan jauh. Sebagai konsekuensinya, puasa yang ditinggalkan tersebut menjadi “utang” yang harus dibayar atau wajib diganti di luar bulan Ramadan melalui pelaksanaan puasa qadha. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 184:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ
Artinya: “Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.”
Dalam melaksanakan puasa qadha, seseorang harus mengucapkan niat di malam hari karena hal itu menjadi salah satu rukun puasa. Sebagaimana diketahui, ada dua rukun puasa yang harus dipenuhi, yaitu [1] niat di dalam hati dan [2] menjaga diri dari makan, minum, serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Berkaitan dengan niat puasa, Syekh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni (Riyadh: Daru Alamil Kutub, 1997:IV/338) menjelaskan, ketika melakukan niat puasa wajib, seseorang harus menentukan puasanya secara spesifik, misalnya puasa Ramadhan, qadha Ramadhan, nadzar, atau kafarat.
Dengan demikian, bacaan niat bayar utang puasa Ramadhan tahun lalu adalah sebagaimana berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadâ’i fardhi syahri ramaḍâna lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku niat puasa esok hari untuk mengqadha puasa bulan Ramadan karena Allah Ta’ala.”
Demikian bacaan niat qadha atau bayar utang puasa bagi umat Islam yang punya uzur dalam menjalankannya saat bulan Ramadhan tahun lalu. Dengan mengucapkan niat tersebut, diharapkan puasanya akan sah dan bisa diterima oleh Allah Swt.
Editor:


