Al-Imam Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Ahmad Bamakhramah (907-972 H) merupakan salah satu pakar fiqih madzhab Syafi’i dari Yaman. Beliau berguru kepada banyak ulama yang tersohor dengan kealimannya seperti Syaikh Ahma al-Thanbadawi (W. 948 H), di Zabid Yaman, dan kepada Syaikh Abil Hasan al-Mishri (W. 952 H) di Makkah.
Kredibilitas kepakaran Bamakhramah dalam fiqih Syafi’iyah sudah banyak diakui oleh para pakar madzhab Syafi’i. Bahkan nama Bamakhramah beberapa kali dikutip oleh penulis fiqih Syafi’iyah seperti Sayyid Bakri Syatha al-Dimyathi (W. 1310 H) dalam I’anatut Thalibin, dan juga al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (W. 974 H) dalam Tuhfatul Muhtaj.
Terdapat kisah menarik tentang Bamakhramah ketika beliau melaksanakan haji untuk pertama kalinya. Kisah ini ditulis oleh Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Syathiri dalam Syarh al-Yaqut al-Nafis sebagai berikut:
قَالُوْا اِنَّ الشَّيْخَ الفقيه عبدَالله بن عُمَرَ بامَخْرَمَة-وكان عَالِمًا ذَكِيَّا حَادَ الطَّبَعِ- قالوا لَمَّا وَصَلَ مَكَّةَ الْمُكَرَّمَةَ لِأَدَاءِ مَنَاسِكِ الحَجِّ عَرَضَ عَلَيْهِ مَنْ نَزَلَ عِنْدَهُ أَنْ يُرْسِلَ مَعَهُ شَخْصًا مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يُطَوِّفُهُ فَأَبَى وَطَلَبَ إِرْسَالَ غُلَامٍ صَغِيْرٍ لِيَدُلَّهُ عَلَى الطَّرِيْقِ فلَمَّا دخَلَ المسجِدَ الَحرَامَ خَلَعَ نَعْلَهُ واَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ تَحِيَّةَ المسجِدِ فنَبَّهَهُ الغلامُ قَائِلًا يا شيخُ إِنَّمَا تِحيَّةُ مسجِدِنَا الطوافُ فقَالَ لَهُ صدَقْتَ وعَادَ وأَخَذَ مَنْ يُطَوِّفُهُ.
Artinya: ”Syaikh al-Faqih Abdullah bin Umar Bamakhramah -beliau adalah orang yang alim, cerdas, dan tajam instingnya- ketika sampai di kota Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan ibadah haji terdapat orang yang bersama beliau menawarkan agar beliau didampingi oleh penduduk asli Makkah, beliau menolak dan memilih untuk diantarkan oleh anak kecil sebagai penunjuk jalan. Ketika beliau masuk Masjidil Haram beliau melepas sandal dan hendak melaksanakan dua rakaat tahiyat masjid, sontak anak itu mengingatkannya dan berkata “wahai Syaikh penghormatan untuk masjid kita ini adalah thawaf” kemudian beliau membalas dengan mengatakan “engkau benar”, kemudian beliau kembali dan mengambil jasa pendamping”. (Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, [Beirut: Darul Minhaj,2011], hal. 319.).
Cerita ini kerap diceritakan sebagai bentuk contoh bahwa ibadah haji sangat membutuhkan pengalaman dalam pelaksanaannya dan tidak hanya membutuhkan pengetahuan yang ada di dalam buku panduan manasik haji, terutama bagi para pembimbing haji seperti ketua KBIH (kelompok bimbingan ibadah haji).
Di samping harus piawai berbahasa Arab dan mengetahui fiqih haji lintas madzhab untuk kebutuhan mendesak jika membutuhkan pendapat yang lebih bisa meringankan, ia juga harus berpengalaman matang di lapangan.
Kisah ini juga memberikan sebuah pelajaran kepada kita semua bahwa terkadang seorang yang terkenal alim juga bisa saja mengalami kesalahan dan kelalaian akan hal-hal kecil yang bisa jadi tidak mungkin untuk dilalaikan, ini menunjukkan bahwa seberapa pintar dan cerdas seseorang dia tetap masih manusia biasa yang mungkin saja bisa mengalami kesalahan.
Kisah ini juga memberikan pelajaran bagi para pakar untuk bisa menerima kritikan dan arahan dari orang lain bahkan dari seseorang yang derajatnya terpaut sangat jauh. Seseorang harus dengan lapang dada dan bersedia mengakui kekeliruan dan keluputannya serta tidak berkelit dan lepas diri dari kesalahan dengan membela diri terlalu ofensif. Wallahu A’lam Bisshawab
Editor:


