4 Hikmah Diturunkannya Al-Qur'an secara Berangsur

4 Hikmah Diturunkannya Al-Qur'an secara Berangsur

Arinda.id- Bulan Ramadan disebut sebagai Syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an), sebab pada bulan ini kitab suci umat Muslim diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izaah di langit dunia secara sekaligus. Sementara diturunkannya ayat Al-Qur’an dari Baitul ‘Izzah kepada Rasulullah, berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu 23 tahun.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, adakah hikmah diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad secara bertahap? Berbeda dengan kitab suci umat lain yang diturunkan secara sekaligus. 

Untuk menjawab ini, penulis akan menyampaikan penjelasan Syekh Manna’ Al-Qattan dalam Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an (Al-Qattan, tanpa tahun: h. 107-112). Berikut adalah di antaranya:

1. Menguatkan Hati Rasulullah

Rasulullah menghadapi berbagai tantangan dalam menyampaikan dakwah. Banyak orang menolak ajarannya dengan keras. Bahkan, mereka menyakiti beliau dengan berbagai cara. Dalam situasi ini, Allah menurunkan wahyu secara bertahap untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

قَدْ نَعْلَمُ اِنَّهٗ لَيَحْزُنُكَ الَّذِيْ يَقُوْلُوْنَ فَاِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُوْنَكَ وَلٰكِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ ۝٣٣

Artinya, "Sungguh, Kami mengetahui bahwa sesungguhnya apa yang mereka katakan itu betul-betul membuatmu (Nabi Muhammad) bersedih. (Bersabarlah) karena sebenarnya mereka tidak mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu selalu mengingkari ayat-ayat Allah." (QS. Al-An'am: 33)

Ayat ini menjadi penghibur. Selain itu, wahyu turun dengan membawa kisah para nabi terdahulu. Mereka juga menghadapi penolakan, namun tetap teguh dalam dakwahnya. Ini memberikan keteladanan bagi Rasulullah agar bersabar dan tetap optimis. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْۗ 

Artinya, “Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ululazmi (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul telah bersabar dan janganlah meminta agar azab disegerakan untuk mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 35) 

2. Melemahkan Orang Musyrik

Salah satu mukjizat yang ditunjukkan Al-Qur’an adalah sulit untuk ditandingi kualitasnya oleh siapapun. Sehingga, masyarakat Arab yang saat itu terkenal sebagai bangsa yang melek sastra sekali pun, mereka tidak bisa menjiplak kualitas ayat-ayat suci Al-Qur’an, meskipun hanya satu ayat. Allah swt berfirman: 

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا ۝٨٨

Artinya, “Katakanlah, “Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat mendatangkan yang serupa dengannya, sekalipun mereka membantu satu sama lainnya.” (QS. Al-Isra: 88)

Orang-orang musyrik sendiri pernah mengandaikan agar Al-Qur’an bisa diturunkan secara sekaligus, bukan bertahap. Namun hal itu tentu mustahil. Jika diturunkannya ayat secara bertahap yang memungkinkan mereka bisa meniru lebih mudah, tapi kenyataannya tidak bisa, apa lagi jika diturunkan sekaligus. Hal ini sebagaimana firman Allah swt berikut:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةًۛ كَذٰلِكَۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا ۝٣٢

Artinya, “Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).” (QS. Al-Furqan: 33)

3. Memudahkan Menghafal dan Memahaminya

Al-Qur'an diturunkan kepada bangsa yang mayoritas buta huruf. Mereka mengandalkan daya ingat untuk menyimpan informasi. Jika wahyu turun sekaligus, akan sulit bagi mereka untuk menghafalnya. Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ ۝٢

Artinya, “Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Oleh karena itu, Al-Qur'an diturunkan sedikit demi sedikit. Metode ini mempermudah umat Islam dalam menghafal dan memahami isinya. Para sahabat menghafal ayat-ayat yang turun, lalu mempelajari maknanya secara mendalam. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah menerima wahyu lima ayat sekaligus. Para sahabat pun belajar secara bertahap. Ini menjadi metode pembelajaran yang efektif bagi umat Islam saat itu.

Selain itu, Al-Qur'an yang turun secara berangsur memungkinkan umat untuk mengamalkannya sedikit demi sedikit. Dengan cara ini, pemahaman mereka semakin mendalam, dan ajaran Islam tertanam kuat dalam hati mereka. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa Al-Qur'an tetap mudah dihafal hingga saat ini.

4. Pemberlakuan Syariat Secara Bertahap

Islam datang dengan membawa banyak aturan baru. Jika semua hukum diturunkan sekaligus, masyarakat akan sulit menerimanya. Oleh karena itu, syariat diturunkan secara bertahap agar lebih mudah diterima. Contohnya adalah larangan minuman keras. Awalnya hanya disebutkan keburukannya, kemudian dianjurkan untuk menghindarinya, hingga akhirnya dilarang secara total.

Pada awalnya, Al-Qur'an lebih banyak berbicara tentang keimanan. Hal ini bertujuan untuk mengokohkan keyakinan umat Islam sebelum mereka menjalankan hukum-hukum Islam. Setelah iman mereka kuat, barulah aturan tentang ibadah dan muamalah diturunkan secara bertahap. Hal ini membuat mereka lebih siap dalam menjalankan ajaran Islam dengan penuh kesadaran.

Syekh Manna’ Al-Qattan menjelaskan:

فما كان الناس ليسلس قيادهم طفرة للدين الجديد لولا أن القرآن عالجهم بحكمه، وأعطاهم من دوائه الناجع جرعات يستطبون بها من الفساد والرذيلة، وكلما حدثت حادثة بينهم نزل الحكم فيها يُجلِّي لهم صبحها ويرشدهم إلى الهدى، ويضع لهم أصول التشريع حسب المقتضيات أصلًا بعد آخر فكان هذا طبًّا لقلوبهم.

Artinya, “Manusia tidak akan begitu mudah menerima dan mengikuti agama baru secara tiba-tiba jika bukan karena Al-Qur'an membimbing mereka dengan penuh kebijaksanaan. Al-Qur'an memberikan mereka "obat" yang ampuh dalam bentuk ajaran yang diturunkan secara bertahap, sehingga mereka bisa perlahan-lahan sembuh dari kerusakan moral dan keburukan.” 

“Setiap kali muncul peristiwa atau permasalahan di antara mereka, turunlah wahyu yang memberikan penjelasan, membimbing mereka menuju kebenaran, dan menetapkan prinsip-prinsip hukum sesuai dengan kebutuhan, satu per satu. Dengan cara ini, Al-Qur'an menjadi terapi bagi hati mereka.” (Al-Qattan, tanpa tahun: h. 112). 

Setelah membaca sejumlah hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap, kita memahami bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang sangat istimewa. Setiap ayat yang turun memiliki nilai yang luar biasa. Hal ini sekaligus menjadi keistimwaan umat Muslim dibanding umat-umat lainnya. Wallahu a’lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo