Jangan Buat Islam Terlihat Berat: Teguran Nabi pada Sahabat Mu’adz

Jangan Buat Islam Terlihat Berat: Teguran Nabi pada Sahabat Mu’adz

Arina.id - Agama Islam kerap kali dipandang oleh sebagian kalangan sebagai agama yang berat, penuh aturan, menakutkan, dan berbagai stigma negatif lainnya. Padahal, jika kita menelusuri hakikat dan dasar-dasar ajarannya, Islam sejatinya adalah agama yang membawa kedamaian, kemudahan, dan kegembiraan bagi umat manusia. 

Citra Islam yang terkesan menyeramkan sering kali bukan bersumber dari ajaran itu sendiri, melainkan dari sebagian pengikutnya yang salah dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Tindakan mereka justru bertentangan dengan semangat ajaran yang penuh kasih dan rahmat.

Salah satu pelajaran penting mengenai hal ini dapat kita temukan dalam kisah Nabi Muhammad SAW ketika menegur sahabatnya, Mu’adz bin Jabal RA. Kisah tersebut tertulis dalam dua kitab hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Suatu ketika, sahabat Mu’adz bin Jabal RA memimpin sholat Isya bersama para sahabat Anshar. Karena semangatnya dalam beribadah dan kecintaannya pada Al-Qur’an, ia membaca surat yang panjang dalam sholat tersebut. Bacaan itu berlangsung cukup lama hingga membuat beberapa makmum merasa kelelahan dan kesulitan mengikuti.

Salah seorang dari makmum merasa tidak sanggup untuk menyelesaikan sholat berjamaah dengan bacaan yang sepanjang itu. Maka ia pun keluar dari shaf (mufaraqah), menyelesaikan sholatnya sendiri secara terpisah (mufaraqah), lalu pulang.

Ketika hal ini sampai ke telinga Mu’adz, ia merasa kecewa dan mengatakan bahwa orang tersebut adalah seorang munafik. Ucapan itu tentu saja menyakitkan bagi orang yang bersangkutan. Ia pun segera menemui Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang telah terjadi dan ucapan Mu’adz kepadanya.

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW tidak membenarkan sikap Mu’adz. Beliau menegurnya dengan berkata:

أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ؟ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى

Artinya: “Apakah kamu ingin menjadi penebar fitnah (kesulitan bagi orang lain), wahai Mu’adz? Jika engkau menjadi imam bagi orang-orang, maka bacalah surat Asy-Syams wa Duhāhā, Sabbihisma Rabbikal A‘lā, Iqra’ bismi Rabbik, dan Al-Laili Idzā Yaghshā.”

Hujjatul Islam Al Ghazali dalam magnum opusnya Ihya’ Ulumiddin menuliskan sebuah penjelasan yang menarik. Bahwa dalam menjalankan kewajiban syariat Islam, ada dua pilar yang harus dijaga kesimbangannya; Kewajiban menurut syariat dan kewajiban menurut muru’ah (moral) serta adat (kebiasaan).

Oleh karena itu dalam ber-Islam, kita tidak boleh mengabaikan salah satunya apalagi keduanya. Apa yang dilakukan Rasulullah SAW kepada sahabat Mua’dz sejatinya memenuhi kewajiban menurut syariat dan kewajiban moral serta kebiasaan.

Kendatipun Islam menganjurkan memanjangkan bacaan ketika sholat, melakukannya ketika sholat berjama’ah bukanlah tindakan yang tepat. Sebab itu melanggar etika moral. mungkin saja di situ ada pekerja yang sudah kelelahan setelah mencari nafkah dan ingin beristirahat, atau seorang anak yang tengah merawat orang tuanya yang sakit.

Itulah mengapa betapa pentingnya berislam secara kaffah (mendalam) dan tidak terburu buru menyalahkan sembari menganggap dialah kebenaran satu-satunya. Jika memang memahami Islam secara benar, seharusnya kita menemukan hakikat ajaran Islam yang sesungguhnya yang dijanjikan Rasulullah SAW yakni wajah islam yang indah dan rahmatan lil’alamin. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo