Dalam kehidupan yang serba cepat ini, pernahkah Anda merasa terjebak? Rutinitas tanpa akhir—bekerja, mengejar target, kelelahan, lalu bekerja lagi. Seolah hidup berjalan dalam lingkaran samsara, tanpa jeda, tanpa arah. Saya sering merasa seperti itu. Tapi, ternyata ada jalan keluar dari kebisingan itu. Sederhana, tapi mendalam. Jalan itu bernama khalwat.
Khalwat adalah tradisi spiritual dalam tarekat, semacam menyepi untuk mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia. Saya mengenal ini saat berkunjung ke Pondok Pesantren Baiturrohmah, Malang. Terletak di Jalan Ciliwung No. 61, pesantren ini didirikan pada tahun 1954 oleh Syekh KH. Abdul Hayyi Muhyiddin Al-Amin dan kini diteruskan oleh cucunya sebagai mursyid tarekat Naqsyabandiyah Uluwiyah. Baiturrohmah menjadi tempat yang mengubah pandangan saya tentang arti kesunyian dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Di sini, khalwat tidak hanya sekadar ritual, tapi perjalanan batin yang mereka sebut prihatin. Prosesnya dimulai dengan baiat oleh mursyid, diikuti dengan pengasingan selama tujuh hari di kamar kecil tanpa gangguan dunia luar—tanpa internet, laptop, ponsel, hanya dzikir, shalat, dan doa. Setelah itu, ada pembinaan lanjutan yang dirancang untuk membantu para murid tarekat jiwa dan mencapai kedamaian. Awalnya, saya pikir ini hanya tradisi biasa, tapi pengalaman saya di sana membuktikan sebaliknya.
Bayangkan ini: Anda berada di kamar kecil. Tidak ada televisi, tidak ada ponsel, koran, majalah, tidak ada koneksi apap pun. Hanya dzikir, shalat, dan mendoakan orang-orang yang Anda kenal, bahkan yang Anda benci. Awalnya, terasa seperti penjara. Tapi lambat laun, dinding kamar menjadi semacam cermin. Anda tidak hanya melihat diri sendiri, tetapi melihat apa yang selama ini terlewatkan—kesederhanaan, keikhlasan, dan ruang untuk mendengar hati Anda sendiri.
Saya bertemu Noor, dari Demak, yang membagikan kisahnya. Dia datang ke Baiturrohmah dengan hati penuh beban—masalah rumah tangga, ekonomi, semuanya bercampur. “Berat,” katanya. “Awalnya, tak percaya. Tapi lama-lama, pikiran negatif seperti benci, khawatir, dan takut memudar. Saya jadi ringan, bebas, dan tentram.” Noor tersenyum kecil, lalu menambahkan, “Kadang, yang kita butuhkan hanyalah diam.”
Cerita Noor mengingatkan saya pada seorang teman, yang punya kebiasaan duduk di tanggul kali belakang rumahnya. Sore menjelang senja, ia duduk di rumput menatap pesawahan. Tidak melakukan apa-apa. Dia bilang, “Hanya diam. Tiba-tiba beban di kepala lenyap. Entah bagaimana, ada keheningan yang memberi ruang untuk bernapas.”
Rumi berkata, “Keheningan adalah bahasa Tuhan, yang lain hanyalah terjemahan buruk.” Dalam khalwat, keheningan menjadi nyata. Di balik dzikir dan doa, ada ruang mendengar sesuatu yang melampaui logika.
William James, dalam The Varieties of Religious Experience, menyebut ini sebagai pengalaman itu religius , dan jalan menuju transformasi (perubahan) hidup. Annemarie Schimmel, peneliti Jerman, menggambarkan dunia tasawuf demikian sebagai seni melampaui dunia demi menemukan cahaya batin.
Akhirnya, khalwat memberi ilmu bahwa kedamaian sejati tidak datang dari yang kita miliki, tapi dari cara kita menjalani. Pengalaman saya di Pondok Pesantren Baiturrohmah mengajari bahwa diam sejenak bukan berarti berhenti. Justru bergerak lebih jauh—menemukan yang hilang, menerima yang tak terelakkan, dan mendekat kepada Sang Pencipta dengan kesadaran penuh.
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.
Editor:


