Buku ‘Makanya, Mikir!’: Antara Idealis dan Realistis dalam Hidup

Buku ‘Makanya, Mikir!’: Antara Idealis dan Realistis dalam Hidup

Arina.id - Acapkali dalam menjalani hidup, kita dihadapkan pada banyak dilema dalam menentukan pilihan. Contoh sederhana, ketika telah lulus kuliah, pasti yang terpikir adalah mencari pekerjaan. Namun, realitas sekarang tak semudah yang dibayangkan. Mencari kerja justru terasa sulit. Tak pelak, banyak yang akhirnya banting setir dengan bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya.

Akhirnya, ketika bekerja, kadang merasa pekerjaannya tidak sesuai dengan passion sehingga ia merasa stres. Ia ingin bekerja sesuai dengan jurusan kuliah, tetapi ketika ia bertahan dan bersikeras menunggu pekerjaan yang sesuai dengan passion atau jurusan kuliahnya, ia tak kunjung mendapatkan penghasilan, dan kebutuhan hidup pun berantakan.

Atau ada seseorang yang sudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, lingkungan tidak toxic, dekat dari rumah, dan tampak sempurna. Namun, dalam benaknya, ia tidak bahagia karena ia menginginkan sesuatu yang berbeda. Ia tidak ingin terjebak dalam pekerjaan nine-to-five.

Oke, gajinya besar, tetapi ia juga ingin kebebasan dan lebih banyak waktu untuk keluarga.

Di sinilah kita diuji antara menjadi idealis atau realistis. Apakah sebaiknya kita bertahan dengan prinsip dan impian, ataukah lebih baik menyesuaikan diri dengan kenyataan demi kestabilan hidup?

Dalam buku Makanya, Mikir! Panduan Berpikir untuk Hidup Lebih Bahagia seorang psikolog bernama Frederick Herzberg pernah melakukan riset terhadap beberapa usaha bisnis untuk mencari tahu apa yang sebenarnya memotivasi karyawan di sebuah pekerjaan.

Dari riset tersebut, Herzberg menemukan hasil bahwa hal yang membuat seseorang benci atau suka sama karier atau pekerjaan itu adalah dua faktor yang berbeda. Artinya sangat mungkin kita suka sekaligus benci sama pekerjaan atau karier kita pada saat yang bersamaan.

Dua faktor tersebut adalah “Faktor Higiene” untuk menentukan kebencian dan “Faktor Motivasi” untuk menentukan kesukaan.

Faktor higiene ini ditentukan oleh hal hal seperti gaji, kompensasi, jabatan, kondisi lingkungan kerja dan lain lain. Jika kondisi faktor ini buruk, maka semakin tinggi rasa kebencian orang terhadap pekerjaannya. Namun jika faktor ini benar dan berkualitas, orang bisa jadi tidak benci dengan pekerjaannya, pun juga mungkin faktor higiene tidak lantas membuat kita suka dengan pekerjaan kita.

Faktor yang bisa membuat kita suka dengan karier atau pekerjaan adalah faktor motivasi seperti rasa diapresiasi, tanggung jawab, kesempatan terus belajar dan berkembang. Intinya faktor motivasi berisi hal-hal yang merasa bahwa kerjaan kita bermakna dan sifatnya lebih internal. 

Inilah dua faktor yang menyebabkan kita bisa merasa suka dan sekaligus benci pada pekerjaan kita atau merasa nyaman tapi tetap tidak puas, atau merasa termotivasi tapi juga frustasi.

Contoh, Lisa bekerja di sebuah bank dan berhasil mendapatkan jabatan oke dengan gaji yang besar. Kondisi kerjanya pun nyaman karena ada di pusat kota dengan kantor yang mewah. Akan tetapi, Lisa merasa rutinitas hariannya monoton, la pun merasa bosan dan merasa hidupnya kurang bermakna.

Apakah ini berarti Lisa kurang bersyukur? Menurut teori Herzberg, tidak. Justru perasaan Lisa sangat masuk akal karena yang terpenuhi dari kariernya hanyalah faktor higiene, sedangkan faktor motivasinya masih belum terpenuhi.

Sebaliknya, misalnya Andi bekerja di sebuah lembaga non-profit yang menyelamatkan satwa liar. Andi merasa sangat bangga dengan pekerjaannya karena bisa menyelamatkan hewan-hewan yang hampir punah. Namun, gaji yang ia terima tidak cukup untuk menunjang kebutuhannya dan keluarganya.

Lama-kelamaan, Andi pun merasa frustrasi. la bingung apakah pekerjaan ini masih layak untuk diperjuangkan atau tidak? Perasaan Andi ini masuk akal dengan teori herzberg, faktor motivasi Andi terpenuhi tapi faktor higienenya tidak. Oleh karena itu Andi bisa suka pekerjaanya tapi juga frustasi di saat yang bersamaan.

“Banyak orang yang gagal bahagia karena menentukan karier dan goal hidupnya hanya dari faktor higiene saja.”

(Clayton M. Christensen dalam bukunya Will You Measure Your Life?)

Oleh karenanya dalam menjalani hidup kita tidak boleh lupa bertanya: "Apa yang bisa membuat kita berkembang?, Di mana kita bisa belajar hal baru?, Di mana kita bakal diapresiasi dan dihargai?, dan Apa yang membuat kita merasa hidup bermakna?

Tentu faktor higiene tetap kita perhatikan dan tidak kita telantarkan. Jadi kita harus memperhatikan dua faktor tersebut, mancari karier yang memiliki potensi untuk memenuhi faktor higiene dengan cukup sekaligus memenuhi faktor motivasi dengan tinggi juga.

Identitas Buku

Judul buku: Makanya, Mikir! Panduan Berpikir untuk Hidup Lebih Bahagia
Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta
Penyunting: Damaring Tiyas W. Palar
Tata Letak Isi dan Sampul: Irvesha Diani
Penerbit: PT Simpul Aksara Grup
ISBN: 978-623-89440-2-6
Halaman: 295 halaman
Genre: Self Improvement


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo