Lahirnya Muhamad saw adalah momentum paling bersejarah, sekaligus menjadi babak baru dalam perjalanan kehidupan manusia. Dia adalah seorang manusia tetapi bukan seperti manusia umumnya. Pembeda dengan manusia lainnya adalah wahyu. Lantaran wahyu yang ia terima, tugasnya terlahir ke dunia adalah untuk mendakwahkan risalah langit kepada seluruh manusia serta menebar kasih dan sayang-Nya.
Sejak dulu para ulama sudah mengambil perhatian terhadap alur kehidupan sang nabi, dari lahir sampai meninggal. Segala hal yang terkait denganya akan selalu diikutsertakan dalam perjalanan hidupnya. Semua tercatat rapi dalam bingkai karya bernama sirah nabawiyah.
Hanya saja kitab sirah nabawiyah adalah bentuk paling komprenhensif dalam membahas kehidupan Nabi saw secara umum. Orang yang pertama kali menulis karya bergenre sirah nabawiyah ini ialah Ibnu Ishaq (w. 151 H). Tetapi di permulaan kitabnya itu, ia menuliskan tentang bab khusus yang hanya membahas kelahiran Nabi saw. Sehingga dari sini, kita bisa tahu bahwa ada dua model dalam hal ini, pertama, kitab sirah nabawiyah adalah kitab yang pembahasannya lebih luas, di antara masuk tentang peperangan Nabi saw. Sedangkan yang kedua, kitab maulid yang kita baca saat acara maulid rasul, cenderung lebih singkat dan hanya membahas kelahiran beserta kejadian yang mengiringinya lalu metode kepenulisannya juga diselingi dengan Nadm atau kasidah-kasidahan.
Pada generasi selanjutnya, muncullah ulama-ulama yang membuat kitab maulid secara spesifik seperti model yang kedua tadi. Ulama yang pertama mengarang secara khusus tentang maulid adalah Abu Bakr Ahmad ibn Umar ibn Abi ‘Asim an-Nabil as-Syaibani (w. 287 H). Ia menjadi bukti, bahwa perhatian ulama terhadap maulid rasul sudah ada sejak tiga kurun pertama. Maka pendapat yang mengatakan kitab-kitab maulid adalah karangan ulama mutaakhirin tidaklah benar.
Lantas proyek mengarang kitab maulid berlanjut dengan diawali oleh ulama yang pertama mentradisikan perayaan maulid rasul Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhamad al-‘Azafi as-Sibti (w. 633 H), ia juga mempunyai kitab maulid yang diberi nama ad-Duror al-Munadhom fi Maulid an-Nabi al-Mua’dhom.
Disusul oleh Ibnu Tughril (w. 670 H) yang mengarang ad-Duror al-Nadhim fi Maulid al-Karim. Lalu Ibnu Katsir ad-Dimasyqi (w. 774 H) dengan kitabnya Dzikru Maulid an-Nabi wa Rodo’ihi. Lalu Zainudin al-‘Iroqi (w. 806 H) dia punya kitab maulid al-Muridu al-Hani fi al-Maulid as-Sani. Lalu dilanjut oleh Imam al-Jazari (w. 833 H) yang mengarang kitab maulid at-Ta’rif bi al-Maulid as-Syarif kemudian diringkas menjadi Urfu at-Ta’rif bi al-Maulid as-Syarif. Kitab inilah yang akan kita nahas dalam tulisan in.
Perjalanan kitab maulid tidak sampai di sini, pada era setelahnya mereka tidak lagi mengarang maulid saja, tetapi juga mensyarah dan menghasiyahi kitab-kitab maulid yang sudah ada. Di antara kitab yang paling banyak disyarah dan dihasyiyahi adalah kitab maulid Imam Dardir (w. 1201 H) dan hasyiyah atas kitab maulid Dardir yang terbaik adalah hasyiyah milik Imam Bajuri (w. 1277 H).
Siapa Imam Jazari?
Al Jazari bernama lengkap Syamsudin Abu al-Khair Muhamad ibn Mumahad ibn Muhamad ibn Ali ibn Yusuf ibn al-Jazari ad-Dimasyqi as-Syairozi as-Syafii. Lahir di kota Damaskus pada malam sabtu 25 Ramadlan tahun 751 H. Seorang khafidz. muqri, muhadis dan syekh qiroat pada zamannya.
Ia besar dalam keluarga yang sangat mencintai ilmu syariat. Ayahnya sendiri -dalam salah satu kesaksianya- termasuk hamba Allah Swt yang sangat soleh. Belajar membaca al-Qur’an sampai khatam bersama ayahnya dan syekh Hasan as-Saruji (w. 864 H).
Sedangkan ibunya yang bernama Aisah bint al-Hasan ibn Ali ad-Dimisyqiyah juga sangat solihah, ia mengaji hadis dengan para ashab Imam Fakhr ibn Bukhori. Dari lingkungan seperti inilah kemudian Imam Jazari tumbuh berkembang menjadi sosok ulama besar yang alim dalam segala fan ilmu, terkhusus fan qiroat.
Selama hidupnya, Imam Jazari menghabiskan umurnya untuk mencari ridlo Allah Swt lewat jalur ilmu, dengan belajar dan mengajar. Tercatat ia pernah berkelana ke Hijaz, Syairoz, Samarqon dan Yaman. Ia juga pernah menjabat menjadi Qodli Qudlot di Syam, lalu Syairoz. Dan sisanya ia habiskan untuk mengajar, terlebih mengajar di pusat ilmu yang ada di Syam saat itu, yakni Dar- al-Hadis al-Asyrofiyah.
Guru-gurunya di antaranya kakeknya sendiri syekh Syamsudin al-Khobasz (w. 756 H) syekh Jamaludin al-Asnawi (w. 772 H), syekh Ibn Katsir (w. 774 H). sedangkan murid-muridnya di antaranya yang paling masyhur adalah anak-anaknya sendiri Abu al-Fath Muhamad (w. 814 H), Abu bakr Ahmad (w. 835 H), Umu al-Khair Salma. Lalu Syekh Ibnu Hajar al-Asqolani (w. 852 H), Burhanudin al-Biqo’i (w. 885 H) dan yang lainnya.
Untuk karyanya sendiri, al-Jazari hampir menulis kitab dalam semua fan ilmu. Muqodimah al-Jazariyah, an-Nasyr fi al-Qiroat al-Asyr, Tahbir at-Taisir fi al-Qiroat al-Asyr, at-Ta’rif bi al-Maulid as-Syarif sekaligus mukhtasarnya ‘Urfu at-Ta’rif fi al-Maulid as-Syarif.
Pada akhirnya, al-Jazari wafat dalam keadaan meninggalkan segala bentuk amal kebaikan berupa ilmu, karya dan perjuangannya menegakkan agama islam di dunia ini. Ia meninggal pada jumat 5 Rabiulawal 833 H. Semoga segala amalnya diterima di sisi-Nya.
Menelisik kitab ‘Urfu at-Ta’rif
Kitab ini adalah ikhtisor (ringkasan) dari kitab aslinya at-Ta’rif bi al-Maulid as-Syarif. Setelah mengarangnya, lalu ia meringkasnya agar lebih mudah bagi para pembaca yang masih di level mubtadi (pemula). Selain ringkas, bahasa yang digunakan al-Jazari juga lebih familiar, sehingga para pemula tidak kesusahan dengan bahasa yang tidak familiar di telinganya. Apalagi untuk ukuran kitab maulid, kitab ini walaupun ringkas tetap menjaga muatannya agar tetap komprenhensif. Ini juga yang mendasari penulis membedah kitabnya al-Jazari.
Struktur kitabnya untuk unik, karena ia menggunakan bab tanpa fasl. Bab dalam suatu kitab biasanya untuk menunjukan satu judul khusus yang mengumpulkan beberapa permasalah (masail), biasanya permasail mempunyai judul masing-masing yang di istilahkan dengan fasl.
al-Jazari dalam kitabnya ini, menulis dengan format 11 bab lalu di susul tiga bab. Lalu diantara babnya ada ada nuktah atau latifah yakni suatu catatan atau isyarah penting yang perlu diperjelas.
Layaknya kitab maulid lainya, al-Jazari membuka bab pertamanya dengan membahas secara runtut mulai dari nasab Nabi saw, lalu bab kedua tentang Nabi saw dalam kandungan, bab ketiga tentang kejadian lahirnya Nabi saw sampai bab terakhir membahas tentang haji wada’ sekaligus wafatnya.
Adapun contoh latifah di sini seperti saat al-Jazari membahas nur yang menyinari seisi ruang kelahiran Nabi saw dengan isyarah bahwa agama yang akan diembannya akan bersinar ke seluruh jagad raya. Sedangkan contoh nuktah adalah saat al-Jazari menjelaskan bahwa orang kafir saja mendapat rahmat dari Nabi saw, hanya karena berbahagia dengan kelahirannya. Apalagi untuk muslim yang berbahagia dengan kelahirannya?
Al-jazari menulis nuktah ini setelah sebelumnya menerangkan bahwa kelahiran Nabi saw saat itu membuat seluruh anggota Bani Hasyim bahagia. Di antara yang berbahagia saat itu adalah pamamnya yakni Abu Lahab. Ia membebaskan budaknya yang bernama Tsuwaibah karena rasa bahagianya setelah dia memberi kabar lahirnya keponakan yang begitu bercahaya kepada Abu Lahab.
Setelah menulis bab-bab barulah al-Jazari menulis fasl berjumlah tiga. Fasl pertama membahas tentang karakteristik Nabi saw yang disifati sebagai manusia sempurna secara penciptaan dlohir dan batin. Fasl kedua membahas ahlak Nabi saw yang di sifati sebagai al-Qur’an berjalan menurut kesasksian bunda Aisyah istri tercintanya. Fasl terakhir membahas mukjizat Nabi saw dan mukjizat paling agungnya adalah kitab al-Qur’an.
Syekh Hisyam Kamil, dalam salah satu dars-nya pernah menyampaikan bahwa jika seorang pencari ilmu ingin mengenal sosok Nabi saw maka pelajarilah 4 kitab ini; pertama, kitab sirah nabawiyah milik Ibn Hisyam. Kedua, as-Syamail Muhamadiyah milik Imam at-Tirmidzi. Ketiga Dalail an-Nubuwah milik Imam Baihaqi. Keempat al-Khosois al-Kubro milik Imam Suyuti.
Hemat penulis, kitab Urfu at-Ta’rif ini telah mencakup keempatnya, walapun dengan format yang lebih ringkas. Jadi bagi para pemula jika ingin mendalami sosok Nabi saw, maka alangkah baiknya membaca kitab ini terlebih dahulu sebagai dasar mempelajari kitab sirah nabawiyah yang lebih besar.
Ahmad Reza
Mahasiswa Al-Azhar Mesir, menempuh S1 Jurusan Tafsir
Editor:


