Banyak orang mungkin belum pernah mendengar Dear You. Film China berbahasa Teochew ini melompat dari Shantou ke Bangkok pada 1940-an, mengikuti jejak Zheng Musheng yang meninggalkan Chaoshan dan hidup di antara para perantau China di Siam.
Puluhan tahun sesudahnya, cucunya Xiaowei berangkat ke Bangkok untuk mencari sang kakek. Surat-surat qiaopi perlahan membuka kisah keluarga yang tak pernah selesai. Di permukaan, Dear You adalah melodrama tentang kehilangan, kesetiaan, dan pulang. Di bawahnya, film ini mengajukan pertanyaan yang jauh lebih rumit. Apa arti pulang bagi keluarga yang sejarah migrasinya lebih tua daripada Republik Rakyat China?
Qiaopi menjadi jantung emosional film sekaligus bukti bahwa hubungan antara China selatan dan Asia Tenggara dibangun jauh sebelum Beijing menjadi pusat kekuasaan global. Surat dan kiriman uang dari para perantau membawa kabar, kewajiban, rasa bersalah, kasih sayang, juga harapan agar jarak tidak memutus keluarga. Dear You tidak menjelaskan diaspora dengan istilah besar. Film membiarkan surat, dialek, nama keluarga, dan perjalanan antargenerasi bekerja. Migrasi tidak tampil sebagai perpisahan total, melainkan perubahan bentuk hubungan. Orang pergi, membangun kehidupan baru, lalu tetap membawa rumah lama dalam bahasa, makanan, ingatan, serta cerita yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Konteks waktunya menentukan cara membaca film ini. Zheng Musheng meninggalkan dunia China sebelum Republik Rakyat China berdiri pada 1949. China yang dibawanya ke Bangkok bukan negara komunis modern, melainkan kampung, keluarga, bahasa, dan tempat asal. Hampir delapan dekade kemudian, memori itu dibaca dalam dunia berbeda. China kini adalah kekuatan ekonomi, diplomatik, dan militer besar. Perubahan posisi China inilah yang memberi lapisan politik baru kepada sesuatu yang semula sangat pribadi. Memori keluarganya tidak berubah banyak. Dunia yang menafsirkan memori itu sudah berubah secara drastis.
Perubahan itu terlihat jelas dari sambutan Dear You di Singapura. Pemutaran versi asli Teochew berulang kali habis, bahkan memaksa penambahan puluhan pertunjukan. Perdebatan publik lalu bergerak dari soal bahasa menuju identitas, pengaruh, dan propaganda. Satu penonton datang karena ingin mendengar kembali bunyi Teochew yang akrab. Penonton lain membaca film sebagai kisah diaspora. Pihak lain melihat kemungkinan Beijing memperoleh keuntungan politik dari rasa dekat semacam itu. Film yang sama akhirnya hidup dalam beberapa tafsir yang saling bertabrakan. Antusiasme terhadapnya menjadi penting bukan karena membuktikan loyalitas, tetapi karena memperlihatkan betapa cepat pengalaman budaya dapat berubah menjadi bahan tafsir politik.
Di titik itu, label propaganda terasa terlalu mudah. Beijing tidak menciptakan jaringan emosi tersebut. Keluarga, perdagangan, migrasi, qiaopi, dan bahasa telah menghubungkan China selatan dengan Asia Tenggara jauh sebelum 1949. Republik Rakyat China datang belakangan dan mewarisi lanskap emosional yang sudah terbentuk. Di situlah persoalannya menjadi lebih menarik. Sebuah negara tidak perlu menciptakan kedekatan jika sejarah telah menyediakannya. Politik dapat bekerja dengan memberi makna baru kepada hubungan lama. Sebaliknya, kecurigaan terhadap negara juga dapat membuat masyarakat menempelkan arti politik pada hubungan yang bagi pelakunya tetap merupakan urusan keluarga.
Dear You kuat karena tidak memaksa penonton memilih satu tafsir. Kedekatan budaya memang dapat dimanfaatkan negara, tetapi keberadaannya tidak otomatis membuktikan operasi politik. Kecurigaan yang menyamakan setiap ekspresi budaya Tionghoa dengan pengaruh Beijing hanya menghidupkan kembali tuduhan loyalitas ganda dengan kosakata baru. Pembacaan sebaliknya juga terlalu nyaman jika menganggap budaya selalu steril dari kepentingan negara. Bahasa, sejarah, diaspora, dan memori dapat menjadi sumber pengaruh. Pertanyaan yang lebih berguna adalah siapa yang memberi makna, untuk tujuan apa, dan apakah diaspora masih memiliki ruang untuk menafsirkan sejarahnya sendiri.
Indonesia mengenal ketegangan ini dengan sangat baik. Selama Orde Baru, nama, bahasa, sekolah, perayaan budaya, bahkan hubungan keluarga dengan China pernah ditempatkan di bawah kecurigaan politik. Reformasi membuka kembali ruang budaya yang lama ditekan. Kebangkitan China sekarang menghadirkan ironi baru. Orang yang dahulu dipaksa menjauh dari bahasa dan tanah leluhurnya dapat kembali dicurigai saat mencoba mendekatinya, bukan lantaran apa yang mereka lakukan, melainkan lantaran China kini lebih kuat. Sejarah Indonesia membuat Dear You terasa dekat. Pulang secara kultural ternyata dapat dibaca orang lain sebagai bergerak secara politik.
Film bekerja paling baik saat membiarkan ambiguitas itu tetap hidup. Sebuah dialek dapat menjadi suara masa kecil sekaligus penanda hubungan lintas batas. Sebuah perjalanan ke kampung leluhur dapat sangat pribadi, tetapi berlangsung di tengah kecemasan tentang pengaruh China. Surat tua dapat menyimpan cinta, lalu puluhan tahun kemudian dibaca sebagai bukti kedekatan sebuah komunitas dengan tanah asal. Tidak satu pun makna itu harus sepenuhnya salah. Masalah muncul saat satu tafsir menghapus tafsir lainnya. Di tangan negara, sejarah keluarga dapat berubah menjadi narasi peradaban. Di tangan masyarakat yang curiga, sejarah yang sama dapat berubah menjadi berkas loyalitas.
Dear You juga memperlihatkan sesuatu yang sering hilang dari pembicaraan tentang kekuatan China. Pengaruh tidak selalu datang melalui investasi, diplomasi, media, atau institusi resmi. Pengaruh dapat tumbuh di ruang yang lebih lembut, tetapi ruang itu tidak otomatis milik negara. Beijing dapat memperoleh keuntungan dari rasa kedekatan yang tidak diciptakannya. Kecurigaan terhadap Beijing, di sisi lain, dapat merampas makna pribadi dari kedekatan tersebut. Diaspora lalu terjepit di antara dua tuntutan. Satu pihak ingin memasukkan mereka ke dalam kisah besar China. Pihak lain menuntut bukti bahwa ingatan tentang China tidak mempunyai arti politik.
Bagi Asia Tenggara, persoalan semacam ini akan semakin sering muncul selama posisi China terus membesar. Batas antara hubungan budaya dan pengaruh politik tidak akan menjadi sederhana hanya karena kita menghendakinya demikian. Dear You berguna justru karena film ini tidak menawarkan batas yang nyaman. Orang bisa memiliki satu kewarganegaraan dan lebih dari satu rumah dalam ingatan. Seseorang dapat mencintai bahasa leluhur tanpa mencintai negara asal leluhurnya. Sebaliknya, sebuah negara bisa mencoba memakai bahasa cinta, keluarga, dan sejarah untuk membuat dirinya terasa lebih dekat. Semua kemungkinan itu dapat hidup bersamaan.
Dear You bercerita tentang orang-orang yang berusaha menemukan jalan pulang. Film menjadi politis saat orang lain mulai menentukan ke mana sebenarnya mereka sedang pulang. Rumah bisa berarti kampung leluhur, suara seorang nenek, bahasa yang hampir hilang, atau alamat tua di atas sebuah surat. Negara dapat mencoba memberi arti pada semua itu, begitu pula publik yang memandang China dengan cemas. Di antara keduanya berdiri orang-orang yang sejarah keluarganya lebih tua daripada pertarungan politik hari ini. Kegelisahan terbesar Dear You berada di sana. Bukan pada siapa yang masih terhubung dengan China, melainkan pada siapa yang merasa berhak menentukan arti hubungan tersebut.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor:


