Sempat drop di Olimpiade Tokyo, Biles menginspirasi tim senam AS merebut emas.
Di atas podium, Simone Biles, 27 tahun, tak henti-hentinya tersenyum. Tangannya terus melambai pada para penonton yang mendukungnya sejak pertama kali tampil kembali di babak kualifikasi, Ahad lalu. Bercy Arena pun bergemuruh menyambut kemenangan tim senam Amerika Serikat.
Gedung itu memang penuh sesak. Di sana terlihat Tom Cruise, Serena Williams, Michael Phelps, dan pesohor lainnya. Mereka meneriakkan nama Biles saat bertanding.
Antuasiasme itu menunjukkan sebuah sokongan besar bagi Biles dan empat rekannya yakni Sunisa Lee, Jordan Chiles, Jade Carey, dan Hezly Rivera untuk merebut emas.
"Mereka menyebutnya sebagai Tur Penebusan. Kami menginginkan emas yang tidak bisa diraih di Tokyo," kata pelatih tim senam AS, Cecile Landi, sambil tersenyum.
Di Ariake Gymnastics Centre, Tokyo, Jepang, Selasa, 27 Juli tiga tahun silam, sebuah tragedi yang mengejutkan terjadi. Biles mengundurkan diri. Alasannya di luar dugaan, dia menyatakan mendapatkan masalah kesehatan mental yang sulit dihadapi dan tak bisa melanjutkan kompetisi. Medali emas pun gagal didapatkan.
Keputusan besar yang mengagetkan. Betapa pun publik telah menanti aksi Biles yang tampil gemilang di Olimpiade sebelumnya yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil. Di sana mendapatkan empat kali kalungan medali emas. Namun, nyatanya, gempuran yang terjadi membuat mentalnya berantakan.
Persaingan di dunia olahraga yang teramat keras bisa meluluhlantakkan siapa saja termasuk juara. Bukan hanya Biles, di Olimpiade itu, Naomi Osaka petenis Jepang juga terserang mentalnya. Langkahnya terhenti. Medali pun gagal diraih.
Pun dengan Biles. Gangguan pada kesehatan mental benar-benar merubuhkan segalanya. Menurutnya, efek dari gangguan mentalnya itu jauh lebih kuat ketimbang keinginannya untuk mendapatkan emas -- yang jadi target atlet mana pun.
"Dalam kondisi stres yang sangat berat, Anda akan panik. Pun dengan saya. Saat ini yang terpenting adalah fokus pada kesehatan mental sehingga tidak membahayakan kesehatan," kaya Biles saat itu.
Kesehatan mental pada atlet sungguh buruk akibatnya. "Saya tidak lagi memiliki rasa percaya diri," kata Biles, saat itu. Tak hanya itu, sebenrnya. Mental yang ngedrop itu juga mempengaruhi pada kesehatan atlet. Cedera serius pun mengintip.
Ternyata tekanan itu amat berat. Biles tak bisa menanganinya dalam waktu yang cepat. Bahkan, pun kemudian mengambil cuti dari semua kegiatan senam selama dua tahun.
Lantas bagaimana Biles bisa bangkit? Dia mengambil sesi terapi mingguannya yang disebutnya, "sangat religius". Setelah merasa siap, dia pun kembali berlatih. Sebanyak tiga ratus sesi pelatihan dia lahap. Setelah berhasil lolos ke Paris, Biles pun bermimpi untuk mendapatkan emas.
Hasilnya, gemilang. Di babak kualifikasi hari Minggu, bersama timnya menduduki puncak klasemen all-around dan mengamankan tempat final beregu sebagai kualifikasi teratas.
Puncaknya, pada Selasa dia melakukan penebusan yang sempurna terhadap kegagalan yang terjadi di Olimpiade Tokyo 2020. Diiringi dengan sambutan yang memekakkan telinga dari penonton, Biles bermain sempurna di rotasi pertama dan juga saat beraksi di bar dan balok.
Aksinya yang mengundang decak kagum penonton itu membuat tim Amerika Serikat mengungguli tim Italia. Biles dan timnya pun menyegel emas - dan membuat seluruh arena berdiri saat dia dan rekan satu timnya melompat-lompat untuk merayakannya. Kegembiraan yang layak untuk sebuah upaya penebusan yang sempurna.
Sepertinya itu bukanlah akhir dari cerita Biles di Olimpiade kali ini. Masih ada empat kesempatan yang bisa dimenanginya. Kamis ini. dia berlaga di final all-around, dan tiga lainnya pada akhir pekan Senin mendatang.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


