Slow Living dan Kutukan ‘Time is Money’ Ben Franklin

Slow Living dan Kutukan ‘Time is Money’ Ben Franklin

Tak ada yang menyangka, paper sederhana yang ditulis Benjamin Franklin pada 1748 mampu mengubah pola pikir separuh lebih dari total penduduk dunia. Slogan "Remember that time is money” yang tertuang dalam esai Advice to Young Tradesman, terserap dari generasi ke generasi, dari peradaban metropolis hingga berpengaruh pada masyarakat di ujung pedesaan yang mulai terpengaruh industrialisasi. 

Esai bernas Franklin, yang awalnya hanya ditujukan untuk memotivasi para pekerja muda itu, semakin menemukan bentuk relevansinya. Terlebih, pada periode yang sama, tepatnya sejak munculnya revolusi industri di Kota London 1760, secara tak sadar memengaruhi psikologis generasi di bawahnya untuk memperlakukan waktu sebagai komoditas terbatas yang harus digunakan seefisien mungkin.

Tagline magis Franklin ‘waktu adalah uang’, sejalan dengan logika revolusi indutri yang menekankan bahwa “efektivitas dan efisiensi adalah hal yang utama”. Logika ini membawa arus manusia pada hidup dalam tempo yang semakin hari semakin cepat, karena dituntut mengejar hasil yang lebih maksimal. Dalam perkembangannya, orang-orang mengejawantahkan dengan cara menyibukkan diri dengan bekerja melebihi batas waktu, dan tanpa berhenti untuk mencapai kesuksesan yang dituju. Mereka berkejaran dengan waktu, dan selalu merasa waktu yang dimiliki tidaklah cukup. “Lebih cepat, lebih baik”, atau “lebih cepat menyelesaikan, lebih cepat mendapatkan uang” menjadikan setiap orang berjalan setengah berlari.

Carl Honore, jurnalis asal Kanada yang tinggal di London, mengungkapkan sejak revolusi industri, mesin telah memungkinkan manusia melampaui batas kecepatan. Menurutnya, orang-orang tidak sempat memelihara kucing, atau membuka tirai untuk memeriksa cuaca. Hal yang dilakukan ketika bangun tidur adalah melihat jam untuk memeriksa waktu. Gaya hidupnya sepenuhnya ditentukan oleh jadwal padat yang konstan.

Sampai saat ini, gaya hidup serba cepat terus menghantui orang-orang yang tinggal di kota-kota besar. Proses urbanisasi telah membuat semuanya melupakan ritme alami manusia, dan itu bukan hanya karena kota besar tidak pernah tidur. Kecepatan memengaruhi banyak aspek kehidupan kota, mulai dari kesehatan, ekonomi hingga pendidikan.

Melawan Tirani Tekanan Waktu
Titah AW (2017) dalam Menjadi Lambat, Menjadi Hidup, mengungkapkan sejak buku In The Praise of Slowness karangan Carl Honore dirilis tahun 2004, memunculkan revolusi yang sedang dibangun oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk melawan tirani tekanan waktu.

Carl Honore mengisahkan, dirinya sempat terobsesi dengan ritme hidup yang cepat sampai suatu hari ia menyadari betapa tidak sehat hidupnya ketika ia, bahkan tergesa-gesa saat membacakan dongeng sebelum tidur untuk anaknya. Ia kemudian bergabung ke gerakan Slow Living bersama jutaan orang lain dan mengkampanyekannya ke seluruh dunia. 

Slow Living movement adalah gerakan di mana orang memutuskan untuk menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna dengan meluangkan waktu untuk menikmati saat ini, daripada terburu-buru dari satu tugas ke tugas lainnya. Mereka yang turut menerapkan gaya hidup ini lebih menghargai lingkungan sekitar, dan menikmati dengan bijak apa yang mereka miliki. Orang-orang yang menghayati falsafah hidup lambat ini memberlakukan waktu dan segala sumber daya secara kreatif, melakukan sesuatu dengan waktu yang sesuai demi mencapai kehidupan yang esensial dan memuaskan. Dalam konsep Slow living, meminjam komentar pemilik akun twitter @mantriss, “Satu menit tetap 60 detik. Hanya saja, setiap detiknya lebih bermakna”. Dengan kata lain, gaya hidup mengajarkan untuk menghargai setiap proses dan bukan mengejar hasil dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Kampanye Slow Living sendiri pada mulanya terasa tidak mungkin dan bahkan tidak masuk akal untuk mengajak orang menjadi lambat sementara apapun di hidupnya berjalan cepat. Tapi seperti namanya, pelan-pelan gerakan ini meluas dan menghasilkan banyak gaya hidup baru yang melingkupi berbagai aspek kehidupan kita seperti pekerjaan, fashion, transportasi, dan bahkan bagaimana kita memanfaatkan waktu luang kita.

Jurnalis kenamaan Indonesia, Andi F Noya, termasuk yang turut dalam gerakan slow living. Andi, juga pada umumnya orang-orang yang tinggal di kota-kota besar, terjebak pada rutinitas urban yang serba buru-buru dan di bawah tenggat waktu. Ia pun merasakan kehidupan seperti mesin yang terus berputar, dari bangun pagi langsung siap-siap bekerja sampai larut malam. Di hari berikutnya, aktivitas serupa terulang. Begitu seterusnya. Dari kejenuhan inilah Andi lalu memutuskan untuk menerapkan konsep slow living, dan turut ambil bagian menyuarakan.


Editor:
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo