Permasalahan seputar perempuan tidak boleh berhenti untuk diperbincangkan. Beban ganda, stereotip, kekerasan berbasis gender (KBG), diskriminasi, perdagangan manusia, pernikahan anak, dan sunat perempuan masih memiliki tempat dalam lingkup masyarakat.
Upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut, bisa dilakukan lewat pemberdayaan, ruang akademik, surat kabar, media sosial, hingga film.
Film bukan hanya menjadi medium hiburan, tetapi juga alat yang kuat untuk menyampaikan pesan dan membangun kesadaran berbagai isu sosial, termasuk persoalan gender. Dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak film yang berani mengeksplorasi topik seputar peran perempuan dan laki-laki, serta perjuangan melawan stereotip dan diskriminasi.
Berikut ini adalah 8 rekomendasi film-film bertema perempuan yang menarik untuk ditonton:
1. Film Mai (Vietnam)
Film Mai (2024) garapan Tran Thanh sempat menjadi trending di Netflix dan menjadi perbincangan banyak pihak. Film ini bercerita tentang seorang perempuan kuat bernama Mai yang hidup dalam lingkungan sangat toxic. Ia adalah seorang ibu tunggal yang harus menghidupi putri dan ayahnya dengan bekerja sebagai terapis pijat.
Setiap hari, Mai menghadapi banyak tantangan dari lingkungan tempat tinggal, pekerjaan, dan keluarganya. Sebagai ibu tunggal, Mai kerap menjadi sasaran empuk dari para tetangga yang gemar menghakimi dan merendahkan posisinya sebagai janda. Meski kerap mendapatkan perlakuan dan cap yang buruk dari lingkungan, Mai berusaha untuk hidup bahagia bersama putri yang dicintainya. Film Mai mengeksplorasi begitu banyak permasalahan yang dialami perempuan dalam satu kisah.
2. Film Gangubai Kathiawadi (India)
Gangubai Kathiawadi (2022) adalah film biografi kriminal India yang disutradarai oleh Sanjay Leela Bhansali. Film ini diadaptasi dari buku Mafia Queens of Mumbai gubahan Hussain Zaidi yang mengisahkan perjalanan hidup Gangubai, seorang perempuan yang terpaksa masuk dunia prostitusi karena dijebak oleh kekasihnya.
Gangubai bertransformasi dari korban menjadi seorang pemimpin yang disegani, memperjuangkan kesejahteraan dan hak-hak perempuan yang terpinggirkan, serta berusaha melawan stigma sosial yang melekat pada para pekerja seks. Film ini menjadi salah satu karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan perspektif lain bagi penonton dalam memandang pekerja seks.
3. Film Mimi (India)
Mimi (2021) merupakan film komedi-drama India yang disutradarai oleh Laxman Utekar. Film ini menceritakan kehidupan perempuan muda bernama Mimi, seorang penari berbakat yang bersedia menjadi ibu pengganti atau surogasi bagi sepasang suami-istri dari Amerika.
Konflik dimulai ketika pasangan itu membatalkan rencana mereka saat Mimi telah mengandung. Mimi mendapati dirinya hamil tanpa dukungan dari orang tua biologis anak tersebut, dan harus menghadapi berbagai stigma serta kesulitan dalam menjaga dan membesarkan anak sendirian. Film ini menyoroti cinta kasih dari seorang ibu dan permasalahan surogasi yang banyak dialami perempuan di berbagai belahan dunia.
4. Film Period. End of Sentence (India)
Period. End of Sentence (2018) adalah film dokumenter pendek pemenang Oscar tahun 2018, disutradarai oleh Rayka Zehtabchi. Film ini mengangkat isu menstruasi di pedesaan India, yang masih dianggap tabu dan menjadi penghalang bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan atau memiliki kehidupan yang sehat dan produktif.
Di desa Hapur, perempuan-perempuan mengalami stigma sosial dan keterbatasan akses dalam memperoleh produk menstruasi. Period. End of Sentence memberi pesan kuat tentang pentingnya edukasi kesehatan menstruasi dan pemberdayaan perempuan, terutama di masyarakat yang masih sangat konservatif dalam memandang perubahan. Film ini menunjukkan bagaimana perubahan kecil dapat berdampak besar bagi kehidupan perempuan.
5. Film Hidden Figures (Amerika Serikat)
Hidden Figures (2016) merupakan film drama biografi yang disutradarai oleh Theodore Melfi dan diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya Margot Lee Shetterly. Film ini menceritakan kisah nyata tiga perempuan Afrika-Amerika yang berperan penting dalam program luar angkasa NASA pada tahun 1960-an: Katherine Johnson, Dorothy Vaughan, dan Mary Jackson.
Hidden Figures menampilkan perjuangan tiga perempuan tersebut dalam melawan diskriminasi gender dan prasangka rasial. Selain itu, Hidden Figures juga menyoroti kontribusi besar mereka terhadap kesuksesan NASA dalam perlombaan luar angkasa. Penonton diajak memahami pentingnya keberagaman dan kesetaraan di tempat kerja, serta memperlihatkan bagaimana individu dapat membuat perbedaan besar meskipun menghadapi hambatan.
6. Lipstick Under My Burkha (India)
Lipstick Under My Burkha (2016) merupakan film bertema kritik sosial yang disutradarai oleh Alankrita Shrivastava. Film ini menampilkan kisah kehidupan empat wanita yang berjuang untuk menemukan kebebasan dan identitas mereka di tengah belenggu norma-norma sosial yang ketat dan tidak adil.
Kisah dalam film ini berfokus pada empat karakter utama: Usha, seorang nenek yang mendambakan cinta dan kebahagiaan di usia senjanya; Leela, seorang gadis yang terlibat dalam hubungan terlarang; Shirin, seorang ibu rumah tangga yang terjebak dalam pernikahan yang toxic; dan Rihana, gadis muda yang berusaha mengeksploitasi keinginannya dalam budaya yang mengekang.
Film ini menyoroti tema feminisme, seksualitas, dan pencarian identitas di tengah masyarakat patriarkal. Lipstick Under My Burkha menggambarkan perjuangan wanita untuk meraih kebebasan, baik dalam hal pribadi maupun seksual. Meskipun film ini sempat mengalami kontroversi dan penolakan karena kontennya yang dianggap terlalu berani, film ini tetap meraih pujian kritis dari para penonton.
7. Film Pink (India)
Pink (2016) adalah film drama-thriller India yang disutradarai oleh Aniruddha Roy Chowdhury. Film ini mengangkat isu kekerasan seksual dan kritik pada masyarakat yang kerap menyalahkan korban. Cerita berpusat pada tiga perempuan muda– Minal, Falak, dan Andrea– yang menghadapi tuduhan kriminal ketika berusaha melawan sekelompok pria yang mencoba melecehkan mereka.
Film ini secara tajam membongkar stereotip gender dan konsep persetujuan. Pink juga menyoroti bahwa penampilan atau kebebasan perempuan dalam memilih gaya hidup tidak bisa dijadikan pembenaran untuk pelecehan. Film Pink mendapat pujian luas atas cara penyampaiannya yang berani dan realistis dalam mengangkat tema penting tentang kekerasan seksual, hak asasi, dan persetujuan.
8. Film Mary Kom (India)
Mary Kom (2014) adalah film biografi olahraga India yang disutradarai oleh Omung Kumar. Film ini mengisahkan perjalanan hidup petinju legendaris India, Mangte Chungneijang atau Mary Kom, dari awal karirnya hingga menjadi juara dunia yang dikagumi oleh banyak orang.
Mary berasal dari keluarga sederhana di Manipur. Dalam upaya meraih mimpinya ia harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk diskriminasi gender, keterbatasan finansial, pernikahan, dan tekanan sosial yang meragukan kemampuannya sebagai perempuan di dunia tinju. Melalui kegigihannya, Mary berhasil mengatasi berbagai rintangan dan mencapai kesuksesan di tingkat nasional dan internasional.
Perjalanan Mary tak hanya menginspirasi dalam dunia olahraga, tetapi juga sebagai perempuan yang berhasil membuktikan bahwa peran sebagai anak, istri, dan ibu tidak menghentikannya untuk mengejar mimpi. Film ini menginspirasi banyak penonton untuk tetap kuat dan tegar dalam menggapai impian meski dihadapkan pada banyak situasi sulit.
Editor:


