Ifotaka, Arina.id – Krisis kelaparan melanda wilayah selatan Madagaskar di tengah ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan memperparah kekeringan dalam beberapa bulan mendatang. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan peningkatan risiko kekeringan di Afrika bagian selatan seiring dimulainya fenomena iklim tersebut pada Oktober 2026.
Dampak krisis pangan sudah dirasakan masyarakat setempat. Di sebuah pusat bantuan Program Pangan Dunia (WFP) di Ifotaka, Madagaskar selatan, belasan anak dengan tubuh kurus akibat kekurangan gizi mengantre untuk mendapatkan makanan.
Pusat bantuan tersebut dibuka setelah wilayah itu dilanda kelaparan pada 2021–2022. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat itu menyebut krisis tersebut sebagai kasus kelaparan pertama di dunia yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Bahkan, seorang petugas pusat bantuan harus meninggalkan pekerjaannya setelah menerima kabar meninggalnya seorang anak berusia dua tahun akibat malnutrisi.
Ancaman El Nino diperkirakan memperburuk kondisi masyarakat yang sudah kesulitan memperoleh pangan. Para ahli memperkirakan fenomena pemanasan tersebut berpotensi menjadi yang terkuat dalam catatan sejarah.
Selain kekeringan, pemangkasan bantuan internasional dan kenaikan harga pangan akibat konflik di Timur Tengah turut memperburuk situasi di negara kepulauan Samudra Hindia tersebut.
Jutaan Warga Terancam Kekurangan Pangan
Direktur Program Pangan Dunia (WFP) untuk Madagaskar, Tania Goosens, mengatakan frekuensi bencana terkait iklim di negara tersebut meningkat tajam.
“Terjadi peningkatan tajam dalam peristiwa terkait iklim di Madagaskar,” kata Goosens kepada AFP.
Ia menjelaskan, dalam 20 tahun terakhir Madagaskar mengalami 35 siklon, delapan banjir, dan lima kekeringan parah. Jumlah tersebut tiga kali lipat dibandingkan dengan periode 20 tahun sebelumnya.
Situasi itu dirasakan langsung oleh petani. James Tsirimalaza, petani berusia 46 tahun yang tinggal di desa pesisir Manindra, mengatakan hujan biasanya mulai turun pada akhir September. Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, hujan belum juga datang.
“Sayangnya, tidak ada hujan,” ujarnya.
Organisasi kemanusiaan Save the Children meningkatkan anggaran programnya di Madagaskar hingga dua kali lipat untuk mengantisipasi krisis yang lebih parah.
Sementara itu, proyeksi Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) yang didukung PBB memperkirakan 39 persen anak berusia di bawah lima tahun di wilayah selatan Madagaskar akan mengalami malnutrisi akut pada April 2027. Jumlahnya diperkirakan mencapai hampir 270.000 anak.
Kenaikan harga minyak dan pupuk akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga menambah tekanan terhadap ketahanan pangan. Kenaikan biaya tersebut berdampak pada transportasi, pengairan lahan, pupuk, bahan bakar untuk perikanan, sarana produksi pertanian, hingga harga makanan.
Inflasi pangan tahunan di Madagaskar mencapai 10,4 persen pada Juli 2026, meningkat dari 6,8 persen pada Januari tahun yang sama.
Bantuan Internasional Menyusut
Krisis pangan juga menekan layanan kesehatan. Rumah Sakit Amboasary-Atsimo mencatat enam anak meninggal dunia sepanjang 2026 akibat malnutrisi yang disertai komplikasi medis. Pada 2022, ketika kelaparan berlangsung hingga masa panen pada awal Mei, rumah sakit tersebut mencatat 15 kematian anak.
Berkurangnya bantuan internasional turut mempersulit penanganan krisis. Pendanaan Amerika Serikat yang sebelumnya digunakan untuk membiayai transportasi pasien dan pelatihan kesehatan melalui organisasi kemanusiaan Medecins du Monde telah dihentikan.
WFP memperkirakan sekitar 3,7 juta penduduk Madagaskar akan menghadapi kerawanan pangan tingkat krisis.
“Kami belum pernah melihat kondisi seperti itu di negara ini. Situasinya bahkan lebih buruk dibandingkan dengan 2021–2022,” kata Goosens.
WFP menargetkan bantuan bagi 720.000 orang sepanjang 2026. Namun, dana yang tersedia baru mencapai sekitar setengah dari total kebutuhan.
Pompa Air Tenaga Surya Jadi Harapan
Di tengah kekeringan, sebagian petani berupaya mendapatkan sumber air alternatif. Salah satunya Manjomaro Andrianantenaina, 25 tahun, yang baru memperoleh panel surya untuk mengoperasikan pompa air.
Ia mengatakan petani yang tidak memiliki pompa tenaga surya kesulitan mengairi lahan, terutama ketika sumber air komunal berada jauh dari area pertanian.
Pembuatan sumur yang dilengkapi pompa tenaga surya membutuhkan biaya lebih dari dua juta ariary atau sekitar 450 dolar AS. Biaya tersebut sulit dijangkau mayoritas penduduk setempat.
Menurut data Bank Dunia pada 2023, lebih dari 90 persen penduduk Madagaskar hidup di bawah garis kemiskinan sebesar 2,15 dolar AS per hari.
“Dulu, ketika cuaca panas, saya khawatir karena tidak ada hujan. Sekarang, saya justru menunggu matahari agar bisa memompa air dari bawah tanah,” kata Manjomaro.
Di tengah ancaman El Nino, ketersediaan air dan bantuan pangan menjadi faktor penting bagi masyarakat Madagaskar selatan untuk menghadapi potensi kekeringan yang lebih parah.
Editor: Kendi Setiawan


