Arina.id— Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Insiden pada Sabtu (10/10/2026) itu mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan keterlibatan militer Washington dalam operasi Arab Saudi melawan kelompok Houthi di Yaman.
Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi (GACA) mengonfirmasi jumlah korban tewas dan luka-luka akibat serangan tersebut. Empat korban meninggal merupakan warga Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Dikutip dari Reuters, serangan itu merupakan serangan ketiga terhadap bandara internasional Riyadh dalam pekan yang sama. Insiden terbaru menjadi serangan paling mematikan di wilayah Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.
Otoritas penerbangan Saudi menyatakan sejumlah korban mengalami luka serius dan mendapatkan perawatan di rumah sakit. Operasional bandara sempat dihentikan, sementara penerbangan dialihkan ke tujuan lain setelah serangan berlangsung.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump membuka kemungkinan Amerika Serikat bergabung dengan Arab Saudi dalam serangan terhadap kelompok Houthi.
“Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru saja mengetahui serangan terbaru itu, jadi kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat,” kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih, seperti dikutip Reuters pada Minggu (11/10/2026).
Trump juga menyatakan akan menghubungi Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk membahas perkembangan situasi tersebut.
Pernyataan Trump belum berarti keputusan untuk melancarkan operasi militer telah diambil. Hingga laporan Reuters diterbitkan, Washington masih mempertimbangkan langkah yang akan ditempuh.
Koalisi Saudi Siapkan Respons
Serangan di Riyadh terjadi ketika konflik antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan kelompok Houthi semakin intensif. Koalisi militer pimpinan Saudi menyatakan akan memberikan respons terhadap serangan yang menargetkan bandara tersebut.
Pada saat yang sama, koalisi mengumumkan telah menghancurkan sebuah pesawat nirawak atau drone yang diluncurkan menuju wilayah timur Arab Saudi.
Rangkaian serangan terhadap fasilitas penerbangan Saudi menambah tekanan terhadap keamanan wilayah kerajaan. Sebelumnya, serangan pada Kamis (8/10/2026) menewaskan tiga warga Saudi, termasuk seorang pilot maskapai Saudia, serta merusak sebuah pesawat komersial yang berada di darat.
Associated Press (AP) melaporkan, serangan-serangan sebelumnya juga mengganggu aktivitas penerbangan. Sejumlah maskapai membatalkan atau menangguhkan layanan menuju Riyadh setelah meningkatnya ancaman keamanan.
Editor: Muhammad Zunus


