Arina.id - Konflik Iran vs Amerika Serikat (AS) ibarat bara dalam sekam. Terlihat mereda, tapi di dalamnya masih membara. Kedua belah pihak sama-sama dalam siaga tinggi baku hantam dalam palagan perang.
Terbaru, dua otoritas perang di masing-masing negara terlibat perang opini dan saling ejek. Amerika seperti menunjukkan kendalinya terhadap Selat Hormuz dengan mengirim Komandan CENTCOM Brad Cooper ke kawasan tersebut.
Namun Iran membalas. Melalui media sosial angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), institusi militer negeri para Mullah itu mengunggah laporan 11 kapal tanker minyak terbakar di Selat Hormuz selama periode sembilan hari sejak 25 Oktober 2026.
Dikutip dari kantor berita Tasnem, dalam unggahan di akun X-nya pada Senin, 1 November 2026, Angkatan Laut IRGC mengatakan, "Hanya dalam 9 hari, dari tanggal 25 Oktober (tanggal kunjungan demonstrasi Komandan CENTCOM Brad Cooper ke Selat Hormuz) hingga hari ini, 11 kapal tanker minyak berbeda telah terbakar di Selat Hormuz, dengan beberapa di antaranya tenggelam ke dasar laut."
Unggahan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan terkait status Selat Hormuz dan klaim Washington bahwa jalur maritim vital tersebut tetap terbuka.
Sebelumnya, Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi mengejek kunjungan Cooper, dengan membagikan gambar komandan AS tersebut terbang di atas selat di samping kapal tanker minyak yang terbakar dan harga minyak mentah Brent sebesar $117 per barel.
Angkatan Laut IRGC telah menegaskan kendali atas jalur perairan tersebut dan memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan rute yang tidak sah.
Sejumlah ledakan di Iran
Sementara itu di Iran, sejumlah ledakan dilaporkan terdengar pada Selasa pagi di wilayah selatan Iran, termasuk Pulau Qeshm dan kota pesisir Bandar Lengeh. Menurut laporan kantor berita pemerintah, IRNA, sebanyak lima suara ledakan terdengar di Pulau Qeshm yang terletak di Selat Hormuz.
Sementara itu, kantor berita semi-resmi Fars melaporkan suara ledakan terdengar dari arah laut di Bandar Lengeh, Provinsi Hormozgan. Penyebab ledakan tersebut belum diketahui. Kedua kantor berita juga belum melaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan akibat kejadian tersebut.
Dikutip dari Anadolu, laporan mengenai ledakan itu muncul di tengah upaya diplomatik yang terus berlangsung antara Teheran dan Washington terkait ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan pada Senin, 2 November 2026, bahwa Iran dan Amerika Serikat (AS) masih bertukar pesan melalui mediator.
Dia mengonfirmasi Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi telah mengunjungi Doha untuk memfasilitasi pertukaran pesan yang dimediasi oleh Qatar.
Di sisi lain, sejak beberapa hari ini ketegangan belum mereda. AS mengancam bakal menyerang Iran setelah menggelar pemilu paruh kedua nanti. Sedangkan Iran menyatakan militernya masih siap tempur mengadang agresi AS dan Israel.
Konflik bermula saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Teheran kemudian membalas dengan menargetkan Israel dan aset AS di kawasan sebelum kesepakatan gencatan senjata tercapai pada April.
AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz pada 18 Juni. Namun, pelaksanaannya terhenti akibat perselisihan mengenai keamanan di selat tersebut.
Editor: Muhammad Taufiq


