Arina.id - Salah satu problem yang umum terjadi di tengah kehidupan masyarakat adalah persoalan utang. Betapa banyak di antara kita yang berutang kepada saudara, tetangga, teman yang sampai sekarang belum lunas. Apalagi memiliki persoalan utang dengan pihak bank.
Harus diakui bahwa permasalahan utang adalah bagian dari dinamika kehidupan manusia. Ada kalanya kita harus berutang karena terdesak oleh suatu kebutuhan. Namun tidak semua orang dapat dengan mudah mampu melunasinya, karena keuangan yang sedang sulit.
Sementara utang adalah beban yang harus dibayar, sebab jika tidak diselesaikan di dunia, urusan utang akan berlanjut di akhirat.
Berbagai macam upaya tentunya harus kita dilakukan agar segera bisa melunasi utang, termasuk ikhtiar mencari rejeki dan rajin berdoa.
Berikut ini ada sebuah doa dari Rasulullah kepada salah satu sahabat yang sedang terlilit utang dan ditagih oleh debt collector (tukang tagih utang)
ألا أعلمُكَ كلامًا إذا قلتَه أذهَب اللهُ تعالى همَّكَ وقضى عنكَ دَينَكَ ؟ قُلْ إذا أصبَحتَ وإذا أمسَيتَ ؛ اللهم إني أعوذُ بكَ منَ الهمِّ والحزَنِ، وأعوذُ بكَ منَ العجزِ والكسلِ، وأعوذُ بكَ منَ الجُبنِ والبخلِ ؛ وأعوذُ بكَ مِن غلبةِ الدَّينِ وقهرِ الرجالِ
Artinya: "Maukah aku ajarkan doa yang apabila kamu ucapkan maka Allah akan menghilangkan kegundahanmu dan melunaskan utang-utangmu?Apabila masuk waktu pagi dan sore ucapkanlah: Allâhumma innî a‘ûdzu bika minal hammi wal hazan. Wa a‘ûdzu bika minal ‘ajzi wal kasal. Wa a‘ûdzu bika minal jubni wal bukhl. Wa a‘ûdzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijâl (“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang-orang /debt collector.” (Jami' Shaghir, 2864)
Dengan demikian, doa ini dapat dibaca secara rutin ketika masuk Subuh dan sore agar permasalahan utang lekas tuntas, tidak dikejar debt collector, dan hubungan dengan beberapa pihak terjaga dengan baik. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


