Selama ini masyarakat mengenal bahwa di Indonesia hanya ada 2 musim yakni musim kemarau dan hujan. Bulan April hingga September biasanya sedang musim kemarau. Sedangkan Oktober hingga Maret dikenal sebagai musim hujan.
Namun fenomena berbeda terjadi pada tahun 2025 ini karena hujan masih terus turun di berbagai wilayah Indonesia pada April hingga saat ini di bulan Juni. Fenomena ini merupakan salah satu pertanda dari perubahan iklim. Badan Meterologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) menyebutnya sebagai kemarau basah, sebuah kondisi anomali cuaca yang kerap terjadi akibat pengaruh global seperti La Nina dan pemanasan suhu permukaan laut.
Tak hanya membingungkan masyarakat, kemarau basah juga menimbulkan dampak signifikan—terutama bagi sektor pertanian dan sumber daya air.
Laman bmkg.go.id menyebutkan dalam buku Sosiologi Lingkungan Hidup karya Suharko dijelaskan bahwa anomali cuaca seperti ini bisa terjadi akibat pemanasan global.
BMKG memang memprediksi sebagian wilayah Indonesia akan mengalami kemarau basah pada pertengahan 2025. Kondisi ini bukan musim hujan berkepanjangan, melainkan curah hujan yang tetap terjadi saat seharusnya musim kemarau, dan dipengaruhi oleh faktor global seperti La Nina. Dampaknya pun signifikan, terutama pada sektor pertanian, sumber daya air, dan potensi bencana.
Apa Itu Kemarau Basah?
Kemarau basah adalah kondisi ketika hujan masih turun secara berkala pada musim kemarau, atau disebut juga sebagai kemarau yang bersifat di atas normal. Biasanya, musim kemarau di Indonesia identik dengan cuaca panas dan minim hujan. Namun, dalam kemarau basah, intensitas hujan masih tergolong tinggi meski frekuensinya menurun.
Penyebab Kemarau Basah
Menurut BMKG, kemarau basah dipicu oleh dinamika atmosfer regional dan global, seperti suhu muka laut yang hangat, angin monsun aktif, serta fenomena La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Dampaknya, hujan tetap turun meski sudah memasuki musim kemarau. BMKG menyatakan bahwa La Nina saat ini sedang menuju fase netral.
La Nina merupakan fenomena pendinginan suhu laut di Pasifik tengah yang bisa meningkatkan curah hujan di Indonesia, khususnya di wilayah dengan perairan hangat. Musim kemarau tahun ini diperkirakan datang normal atau sedikit lebih lambat di 409 Zona Musim (ZOM), dengan curah hujan sebagian besar masih dalam kategori normal. Publikasi Klima Edisi VI 2022 juga menyebutkan bahwa La Nina dapat memicu anomali cuaca, termasuk terjadinya kemarau basah di Indonesia.
Perbedaan Kemarau Biasa dan Kemarau Basah
Kemarau biasa merupakan musim kemarau umum di Indonesia yang berlangsung pada April–Oktober, ditandai curah hujan rendah (<50 mm per dasarian), langit cerah, suhu tinggi, dan kelembapan rendah. Dampaknya mencakup kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, dan risiko gagal panen.
Sementara itu, kemarau basah terjadi saat hujan masih turun meski secara kalender sudah memasuki musim kemarau. Fenomena ini dipicu oleh La Nina, suhu laut hangat, dan aktivitas atmosfer seperti MJO, gelombang Kelvin, dan Rossby. Akibatnya, kelembapan tetap tinggi, cuaca sulit diprediksi, dan aktivitas pertanian terganggu. BMKG memprakirakan kemarau basah 2025 akan berlangsung hingga Agustus.
Tanda-Tanda Kemarau Basah
Tanda-tanda umum kemarau basah antara lain:
- Hujan ringan hingga sedang tetap terjadi saat seharusnya musim kering (April–September).
- Kelembapan udara tetap tinggi
- Tanaman tetap tumbuh subur tanpa perlu banyak penyiraman
- Sungai dan embung tidak mengalami kekeringan ekstrem
- Langit sering berawan, tidak sekering biasanya.
Dampak Kemarau Basah
Kemarau basah membawa dampak ganda. Di satu sisi, pasokan air meningkat sehingga mendukung sektor perairan. Namun bagi sektor pertanian, kondisi ini bisa merugikan. Lahan menjadi terlalu lembap, menyebabkan gagal panen pada komoditas seperti jagung, kacang-kacangan, dan kedelai.
Hama dan penyakit juga lebih mudah berkembang dalam kondisi lembap. Perubahan pola hujan yang tidak sesuai dengan prakiraan membuat petani kesulitan merencanakan aktivitasnya.
Hal ini mencerminkan dampak nyata dari perubahan iklim global, yang menantang pola lama dalam mengelola musim. Untuk mengurangi risikonya, diperlukan pemantauan rutin terhadap atmosfer dan suhu laut, serta penyampaian informasi iklim yang akurat dan mudah diakses masyarakat.
Editor: Kendi Setiawan


