Apakah Anda pernah merasa lelah ketika membaca sebuah paragraf? Atau jenuh dengan tulisan-tulisan panjang yang hambar dan tidak meninggalkan kesan? Tenang, bisa jadi masalahnya bukan pada Anda, tetapi pada kualitas tulisannya.
Terkadang, kita terlalu sibuk memikirkan isi tulisan, sampai lupa bahwa struktur kalimat adalah fondasi utama. Ini bukan lagi soal memenuhi syarat SPOK (subjek, predikat, objek, keterangan), tetapi tentang bagaimana sebuah gagasan disusun rapi dalam setiap kalimat.
Tulisan yang baik seharusnya mengalir. Setiap kalimat membawa satu ide utama, dan tidak bertele-tele. Kalimat yang tumpang tindih—seperti memuat banyak klausa tanpa arah—justru bikin pembaca bingung. Misalnya, alih-alih menulis, “Penelitian ini menarik karena berbeda dari sebelumnya dan bisa digunakan untuk kebijakan, meskipun masih butuh banyak data,” lebih baik langsung ke poin: “Penelitian ini menawarkan pendekatan baru yang dapat digunakan sebagai rujukan kebijakan, meskipun masih memiliki keterbatasan data.”
Menciptakan Irama
Dalam menulis, variasi panjang kalimat penting untuk menciptakan alur yang hidup. Kalimat pendek dapat memberikan tekanan atau penegasan, sementara kalimat panjang berguna untuk menjabarkan ide secara utuh. Jika semua kalimat dibuat pendek-pendek, tulisan terasa kaku dan monoton. Sebaliknya, deretan kalimat panjang tanpa jeda justru melelahkan. Di sinilah pentingnya mengatur ritme: menyusun kalimat layaknya menyusun nada, agar tulisan tidak hanya jelas, tetapi juga enak diikuti pembaca. Misalnya:
“Tudingannya serius. Taruhannya: legitimasi Presiden.”
Langsung, tegas, dan penuh bobot.
Bandingkan dengan ini:
“Meski Mahkamah Agung telah menolak gugatan terkait ijazah Presiden Jokowi, polemik yang terus beredar di media sosial memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat masih terbelah antara menerima putusan hukum dan mempercayai narasi alternatif yang berkembang.”
Kalimat ini panjang, tetapi tetap jelas dan terstruktur.
Kenali Jenis Kalimatmu
Bukan cuma struktur dan panjang kalimat yang penting, jenis kalimat juga memengaruhi rasa tulisan. Ada tiga jenis utama yang sering digunakan dalam tulisan populer maupun ilmiah:
1. Kalimat Deklaratif
Ini kalimat standar yang menyatakan fakta atau opini. Sangat cocok untuk menyampaikan ide utama dengan tegas dan jelas. Misalnya:
Tak seharusnya orang yang tak beres menjadi Wapres.
Kalimat seperti ini mengedepankan posisi dan pendapat secara lugas.
2. Kalimat Interogatif dan Retoris
Pertanyaan tidak selalu butuh jawaban. Dalam tulisan populer, kalimat interogatif (pertanyaan) bisa membangun kedekatan dan memancing rasa ingin tahu. Kalimat retoris, khususnya, berfungsi menggugah perasaan atau menunjukkan ironi. Contohnya:
Apa yang membuat kita percaya ijazah beliau asli adanya?
Dengan satu pertanyaan, pembaca diajak berpikir dan ikut terlibat dalam alur narasi.
3. Kalimat Imperatif
Inilah jenis kalimat yang mengajak atau memberi dorongan. Cocok untuk bagian akhir tulisan, terutama opini. Misalnya:
Sudahi saja semua drama ini, siapa pun Presidennya, kita tetap harus bekerja sampai gila.
Kalimat seperti ini punya kekuatan sugestif yang mengajak pembaca bertindak atau merenung lebih dalam.
Kohesi dan Koherensi, Dua Kawan Setia
Kalimat-kalimat yang baik bukan hanya berdiri sendiri, tapi juga saling terhubung. Gunakan kata penghubung seperti namun, karena itu, meskipun demikian. Hindari pengulangan subjek yang tidak perlu. Cukup satu subjek, lalu kembangkan ide.
Contoh buruk:
“Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini juga melibatkan wawancara mendalam.”
Lebih baik ditulis:
“Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan melibatkan wawancara mendalam.”
Jika Anda hendak menulis untuk publik, hindari kata-kata klise dan mubazir seperti dengan demikian maka atau pada dasarnya. Juga, jangan terlalu sering menggunakan kalimat pasif. Kalimat aktif terasa lebih hidup dan mengajak pembaca terlibat.
Akhirnya, tulisan yang enak dibaca bukan sekadar soal apa yang disampaikan, tetapi bagaimana cara menyampaikannya. Struktur kalimat yang tepat akan membuat ide Anda mengalir dan pembaca betah sampai titik terakhir.
**
Artikel ini adalah rangkuman materi pertemuan pertama kelas daring Ber-Zoom-Pa Bahasa Indonesia yang digagas oleh komunitas Jihad Tata Bahasa
#PatroliTataBahasa
Khoirul Anam
Pengajar dan Pegiat Tata Bahasa
Editor: Muhammad Zunus


