Setiap hari, tanpa disadari, kita mungkin mengonsumsi makanan yang berpotensi membahayakan tubuh. Makanan itu bebas beredar bahkan memiliki pasar iklan yang besar. Dari bahan tambahan tersembunyi, proses produksi yang kurang higienis, sampai gula berlebih, panganan itu bebas memasuki mulut lansia, orang dewasa, hingga anak-anak.
Di Prancis, kepedulian soal santapan sangat tinggi. Jika menginjakkan kaki di supermarket mata kita akan dihadapkan dengan label warna warni beserta deretan huruf-huruf yang tertera di kemasan. Tanda itu biasa disebut Nutri-Score.
Prancis menciptakan Nutri-Score yaitu pelabelan gizi untuk produk makanan olahan dan minuman dalam wujud skor berupa huruf dari A hingga E dengan masing-masing warna yang berbeda. Huruf A atau skor A mengandung arti gizinya paling baik sedangkan E berarti produk dengan gizi paling buruk. Pengecualian ada pada produk minuman beralkohol, buah dan sayur yang belum diolah, ramuan herbal, teh, kopi, dan makanan bayi (0-3 tahun) termasuk susu formula.
Di Indonesia kita belum menemukan inovasi serupa. Makanan bebas beredar bahkan terkadang tanpa izin. Perlindungan konsumen bisa dibilang sangat minim. Berangkat dari masalah tersebut, sangat penting bagi masyarakat untuk mulai selektif dan kritis dalam memilih dan mengkonsumsi makanan, sebab beberapa pangan yang populer ternyata menyimpan risiko yang membahayakan bagi tubuh.
1. Minuman Kemasan
Minuman kemasan terutama yang berlabel "berenergi," "bersoda," atau "berperisa buah" sering mengandung kadar gula tinggi yang bisa mencapai lebih dari batas konsumsi harian yang disarankan. Konsumsi berlebihan sangat tidak disarankan karena dapat menyebabkan berbagai penyakit berbahaya.
Kemenkes lewat laman resminya (20/10/2022) menuliskan bahayanya mengkonsumsi minuman manis secara rutin, diantaranya obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, nyeri sendi, penyakit ginjal, hingga kerusakan gigi.
Selain itu, beberapa minuman kemasan yang mengandung pemanis buatan seperti aspartam atau sakarin dalam jumlah berlebih juga perlu untuk dihindari. Kandungan pengawet dan pewarna buatan turut berisiko menyebabkan gangguan hati serta reaksi alergi pada beberapa orang.
2. Gorengan
Gorengan menjadi salah satu makanan favorit di Indonesia yang langganan hadir dalam berbagai momen. Selain harganya yang terjangkau, gorengan juga menghadirkan cita rasa yang mudah diterima oleh beragam lidah. Hal ini yang membuat gorengan dicintai oleh banyak orang.
Namun sayangnya, kudapan ini ternyata memiliki kandungan lemak trans tinggi yang terbentuk dari minyak yang digunakan berulang kali dalam proses penggorengan. Lemak itu dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Kemenkes dalam laman resminya (12/5/2025) menuliskan bahaya gorengan yang dapat muncul jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih dan intens, diantaranya penyakit jantung, diabetes, obesitas, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terkena diabetes tipe 2, hingga kanker.
3. Saus Kemasan
Saus kemasan seperti kecap, saus tomat, dan mayones seringkali mengandung kadar garam (natrium) yang sangat tinggi. Jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan hipertensi, meningkatkan risiko penyakit ginjal, hingga gangguan kardiovaskular.
Selain itu, saus kemasan yang sering beredar tanpa izin yang jelas sering mengandung pengawet dan penyedap rasa buatan, seperti monosodium glutamat (MSG) yang pada beberapa orang dapat menyebabkan sakit kepala, sensasi terbakar, dan gangguan pencernaan. Saus yang terlalu banyak mengandung gula juga berisiko meningkatkan kadar gula darah yang dapat memperburuk kondisi penderita diabetes.
4. Makanan Cepat Saji
Makanan cepat saji bisa berwujud dalam bentuk pizza, hamburger, donat, keripik kentang, fried chicken, dan beberapa produk lain. Makanan ini konon sering dibuat dengan bahan berkualitas rendah yang dimodifikasi agar terasa lebih lezat dan tahan lama.
Karena rasanya yang enak, cepat, dan murah, banyak masyarakat berbondong-bondong menggemarinya padahal ada bahaya yang mengancam. Kemenkes lewat laman resminya menuliskan dampak mengkonsumsi makanan cepat saji bagi kesehatan, diantaranya obesitas atau kegemukan, meningkatkan faktor risiko tekanan darah tinggi, meningkatkan faktor resiko diabetes, kanker, penyakit jantung, hingga stroke.
5. Mie Instan
Meskipun praktis, mie instan mengandung natrium sangat tinggi yang dapat mempercepat peningkatan tekanan darah dan meningkatkan risiko stroke serta penyakit ginjal jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Selain itu, mie instan seringkali mengandung lemak jenuh, terutama yang berasal dari minyak sawit yang digunakan dalam proses pengeringan.
Konsumsi mie instan secara berlebihan bisa mengganggu keseimbangan nutrisi, karena mie instan rendah protein, serat, serta vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh. Ditambah lagi, pengawet dan zat aditif seperti MSG dalam bumbu mie instan dapat menyebabkan efek samping jika dikonsumsi secara berlebihan, termasuk gangguan pencernaan dan ketidakseimbangan elektrolit.
UIN Alauddin Makassar, jurusan kesehatan masyarakat, dalam laman resminya menuliskan bahwa menurut sejumlah hasil penelitian, terlalu sering mengkonsumsi mie instan bisa meningkatkan risiko timbulnya penyakit kanker hingga ginjal. Pada sejumlah kasus, konsumsi mie instan berlebihan juga dapat menyebabkan kegemukan atau obesitas.
Editor: Kendi Setiawan


