Pernahkah kamu mendengar berita orang yang terjebak di laut berhari-hari dan kehabisan air minum, mengalami kehausan? Lalu kamu merasa heran dengan berita ini? Lebih heran lagi ketika mendengar, bukan cuma bagian dalam tubuh yang kehausan, bahkan kulit pun mengalami kekeringan.
Bagi sebagian orang, pernyataan bahwa kita bisa menjadi kering setelah nyebur ke laut terdengar seperti guyonan yang tidak masuk akal. Bukankah seharusnya tubuh justru basah ketika bersentuhan dengan air?
Dalam konteks ilmiah, pernyataan ini tidak sepenuhnya salah. Ketika kita berendam dalam air laut, proses alami yang disebut osmosis mulai bekerja, dan justru dapat menyebabkan kulit serta rambut kita menjadi kering. Fenomena inilah yang sering tidak disadari oleh banyak orang, meskipun dampaknya terasa setelah berenang di laut.
Air laut memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan air tawar. Salah satu perbedaannya terletak pada tingkat salinitas atau kadar garam yang sangat tinggi. Air laut mengandung sekitar 3,5% garam terlarut, menjadikannya larutan hipertonik, yaitu larutan dengan konsentrasi zat terlarut (dalam hal ini garam) yang lebih tinggi dibandingkan cairan tubuh manusia.
Sebaliknya, cairan dalam sel-sel tubuh kita memiliki konsentrasi garam yang jauh lebih rendah, atau disebut sebagai larutan hipotonik. Ketika dua larutan dengan konsentrasi berbeda dipisahkan oleh membran semipermeabel, seperti membran sel tubuh kita, maka terjadi perpindahan air dari larutan hipotonik ke hipertonik dalam upaya menyeimbangkan konsentrasi. Inilah yang dikenal sebagai proses osmosis (Solomon et al., 2005).
Ketika kita berendam di laut, air dari dalam sel-sel kulit dan jaringan tubuh kita akan keluar menuju air laut yang lebih pekat. Proses ini berlangsung karena perbedaan tekanan osmotik antara cairan tubuh kita dan air laut. Akibatnya, kulit menjadi dehidrasi dan terasa kering atau bahkan tertarik-tarik. Itulah sebabnya setelah berenang lama di laut, banyak orang merasa kulit mereka kasar, bersisik, bahkan pecah-pecah. Fenomena ini juga menjelaskan mengapa rambut bisa menjadi kusam dan rapuh setelah terkena air laut tanpa perlindungan atau perawatan yang memadai.
Osmosis juga menjelaskan mengapa orang yang terdampar di laut tidak bisa minum air laut meskipun dikelilingi oleh air. Minum air laut justru memperparah dehidrasi. Ketika seseorang mengonsumsi air laut, tubuh akan menarik lebih banyak cairan dari jaringan tubuh ke saluran pencernaan untuk mengencerkan kandungan garam yang tinggi. Ini mengakibatkan sel-sel tubuh kehilangan air lebih banyak dan tubuh menjadi semakin kekurangan cairan (Halliwell & Gutteridge, 2015). Dalam kondisi ekstrem, konsumsi air laut bisa menyebabkan gangguan elektrolit, kejang, gagal ginjal, dan bahkan kematian.
Selain efek pada kulit dan organ tubuh, air laut yang hipertonik juga memberi tekanan pada sistem homeostasis tubuh. Ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyaring kelebihan garam, yang meningkatkan beban pada sistem ekskresi. Dalam jangka panjang, paparan terus-menerus terhadap lingkungan dengan kadar salinitas tinggi dapat merusak keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Oleh karena itu, penting bagi siapa saja yang sering beraktivitas di laut, seperti penyelam, pelaut, atau nelayan, untuk menjaga hidrasi tubuh dan menggunakan pelindung kulit serta rambut.
Fenomena osmosis sendiri sudah lama menjadi bagian dari pengetahuan dasar dalam biologi sel. Semakin tinggi perbedaan konsentrasi antara dua larutan yang dipisahkan oleh membran, semakin besar tekanan osmotik yang terjadi. Menurut Campbell dan Reece (2008), tekanan osmotik adalah kekuatan yang mendorong air menyeberangi membran untuk mencapai keseimbangan, dan ini menjadi dasar dari banyak proses fisiologis dalam tubuh makhluk hidup, termasuk pada manusia. Dalam konteks berendam di laut, osmosis menyebabkan air dalam sel tubuh keluar ke laut, bukan sebaliknya.
Terkait dengan kulit yang terasa kencang atau keriput saat terlalu lama berada dalam air, hal ini juga berkaitan dengan regulasi sistem saraf simpatik, tetapi pada air laut, efek kekeringan terasa lebih nyata dibanding air tawar karena efek hipertonik. Beberapa studi bahkan menyarankan agar setelah berenang di laut, sebaiknya segera membilas tubuh dengan air tawar untuk menghentikan proses osmosis dan mengurangi iritasi kulit (Marieb & Hoehn, 2016).
Proses osmosis juga memiliki manfaat dalam bidang kedokteran dan terapi. Misalnya, larutan garam hipertonik digunakan dalam pengobatan edema otak atau paru-paru, karena dapat menarik cairan keluar dari jaringan tubuh yang bengkak. Namun, jika kondisi hipertonik terjadi secara alami tanpa kendali, seperti saat berendam di laut terlalu lama, dampaknya bisa merugikan kesehatan kulit dan tubuh secara keseluruhan. Itulah sebabnya pemahaman tentang perbedaan tekanan osmotik antara lingkungan luar dan dalam tubuh sangat penting, tidak hanya dalam dunia medis, tetapi juga dalam kegiatan sehari-hari.
Meskipun air laut menyimpan banyak manfaat bagi kesehatan seperti kandungan mineral yang bisa membantu penyembuhan luka ringan dan meningkatkan sirkulasi darah, tetap saja paparan berlebihan tanpa tindakan pencegahan akan menimbulkan masalah. Oleh karena itu, kesadaran akan proses biologis dan fisik seperti osmosis bisa menjadi bekal berharga bagi siapa pun yang ingin menikmati laut dengan tetap menjaga kesehatan kulit dan tubuh.
Dengan demikian, saat seseorang nyebur ke laut dan merasa kering setelahnya, itu bukan hanya sensasi belaka. Sains menjelaskan bahwa air dari dalam tubuh telah "ditarik" keluar oleh kekuatan alamiah yang disebut osmosis. Fenomena ini mengajarkan kita bahwa interaksi tubuh dengan lingkungan ternyata sangat kompleks, dan seringkali bertentangan dengan persepsi awam. Apa yang tampak basah di luar, bisa saja berarti kekeringan di dalam.
Editor: Kendi Setiawan


