Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah bertemu orang yang merasa selalu benar. Itu ditandaia misalnya dalam percakapan, mereka cenderung mendominasi, sulit mendengarkan, dan menolak pendapat orang lain yang berbeda.
Orang-orang yang merasa benar sendiri, seperti memiliki 'filter otomatis' yang hanya menerima argumen yang mendukung keyakinannya sendiri. Kita dibuat kesal dengan sikap seperti itu.
Di dunia yang semakin kompleks ini, fenomena merasa paling benar sendiri memang menjadi tantangan dalam membangun komunikasi yang sehat, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun media sosial.
Pertanyaannya, mengapa seseorang bisa terus-menerus bersikap demikian? Bagaimana psikologi memandang orang yang merasa benar sendiri? Berikut ulasannya:
1. Egocentrisme dan Ketidakmampuan Melihat dari Perspektif Orang Lain
Salah satu pendekatan awal dalam psikologi perkembangan menyebutkan bahwa anak-anak pada tahap tertentu bersifat egosentris, yaitu belum mampu memahami bahwa orang lain bisa memiliki sudut pandang yang berbeda.
Tokoh yang mengangkat knsep ini adalah Jean Piaget dalam teori perkembangan kognitifnya. Meskipun sifat egosentris ini akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, sebagian orang dewasa masih terbawa oleh pola pikir ini.
Dalam kasus orang yang merasa paling benar sendiri, egosentrisme tidak lagi bersifat alami seperti pada anak-anak, tetapi menjadi hambatan dalam relasi sosial. Mereka mungkin sulit menerima bahwa orang lain memiliki cara pandang, pengalaman, atau kebenaran yang sah meskipun berbeda dari dirinya.
2. Bias Kognitif: Ketika Pikiran Memihak Diri Sendiri
Dalam psikologi kognitif, perilaku merasa benar sendiri sering kali diperkuat oleh berbagai bias kognitif. Salah satu yang paling umum adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk mencari, mengingat, dan menafsirkan informasi sedemikian rupa agar sesuai dengan keyakinan yang sudah dimiliki.
Dalam kasus orang yang selalu merasa benar sendiri, seseorang secara tidak sadar menyaring informasi yang mendukung opininya dan mengabaikan informasi yang berlawanan.
Misalnya, seseorang yang yakin bahwa satu metode parenting adalah yang paling efektif, akan cenderung mencari artikel, bukti, atau pakar yang mendukung metode itu, sambil menolak kritik atau alternatif yang bertentangan, meskipun valid.
Bias ini bukan hanya terjadi pada individu tertentu, tetapi bisa jadi merupakan bagian dari cara kerja otak manusia secara umum. Namun, orang yang merasa benar sendiri biasanya sangat rentan terhadap bias ini karena mereka tidak memiliki keinginan atau kebiasaan untuk menguji kembali pandangan mereka secara objektif.
3. Self-Serving Bias dan Pertahanan Harga Diri
Dalam psikologi sosial, terdapat konsep yang disebut self-serving bias, yaitu kecenderungan untuk mengatribusikan keberhasilan kepada faktor internal (yakni diri sendiri) dan kegagalan kepada faktor eksternal (lingkungan, orang lain, nasib buruk, dan sebagainya).
Orang yang merasa benar sendiri cenderung mempertahankan citra diri yang unggul atau tidak bersalah, dan ini dilakukan melalui mekanisme pertahanan psikologis.
Mereka mungkin takut terlihat lemah, kurang pintar, atau tidak kompeten bila mengakui kesalahan. Dalam hal ini, sikap merasa benar menjadi semacam tameng psikologis untuk melindungi harga diri dari keretakan atau rasa malu. Mereka tidak bisa membedakan antara "salah" dengan "tidak berharga", padahal mengakui kesalahan adalah bagian dari kedewasaan dan kekuatan batin.
4. Ketidakamanan dan Kebutuhan Akan Kendali
Ironisnya, di balik sikap merasa paling benar sering tersembunyi rasa tidak aman (insecurity) yang dalam. Orang yang tidak merasa cukup aman dengan dirinya sendiri cenderung mengembangkan sikap defensif dengan selalu membela diri, tidak terbuka terhadap kritik, dan sulit mengakui kelemahan diri.
Bagi sebagian orang, mengakui bahwa mereka bisa salah sama saja dengan kehilangan kendali atau kekuasaan. Hal ini yang membuat mereka akan selalu berusaha sekuat mungkin untuk menunjukkan bahwa pandangannya adalah satu-satunya yang sahih, bahkan jika itu harus meremehkan atau menolak pendapat orang lain.
5. Kurangnya Kemampuan Metakognitif
Metakognisi adalah kemampuan untuk "berpikir tentang pikiran kita sendiri. Misalnya menyadari bahwa kita bisa keliru, bahwa pendapat kita terbentuk dari pengalaman dan informasi terbatas.
Orang yang memiliki kemampuan metakognitif tinggi cenderung lebih terbuka terhadap refleksi diri dan evaluasi ulang atas pendapatnya.
Sebaliknya, orang yang merasa benar sendiri biasanya tidak terbiasa atau tidak mampu melakukan refleksi ini. Mereka jarang bertanya pada diri sendiri seperti: “Apa mungkin saya salah?”, “Adakah cara pandang lain yang lebih tepat?”, atau “Apakah pendapat saya sudah saya uji dengan cukup data?”
Dalam banyak kasus, kemampuan ini tidak berkembang bukan karena seseorang bodoh, tetapi karena lingkungan dan kebiasaan berpikir mereka tidak mendukung pembelajaran kritis.
6. Lingkungan yang Membentuk dan Menguatkan Sikap Tertutup
Tidak bisa dipungkiri, lingkungan sosial dan budaya juga turut membentuk pola pikir seseorang.
Apabila sejak kecil seseorang dibesarkan di lingkungan yang jarang mempertanyakan pendapat orang tua atau guru, menghukum perbedaan pendapat, menganggap kritik sebagai bentuk pembangkangan, besar kemungkinan ia akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit menerima sudut pandang lain. Bahkan, jika mereka masuk ke lingkungan yang mendukung sikap “kami yang paling benar”, maka keyakinan ini bisa diperkuat dan semakin sulit diubah.
Contoh yang bisa kita lihat adalah di dunia media sosial, di mana seseorang bisa hidup dalam echo chamber; lingkaran pertemanan atau algoritma yang hanya menampilkan konten yang mendukung pandangan mereka. Akibatnya, mereka merasa pandangan merekalah yang umum, masuk akal, dan bahkan satu-satunya yang benar.
7. Kemungkinan Gangguan Kepribadian
Pada tingkat ekstrem, sikap merasa paling benar sendiri bisa menjadi ciri dari gangguan kepribadian tertentu, seperti Narcissistic Personality Disorder (NPD). Orang dengan gangguan ini memiliki rasa superior yang tinggi, sangat sensitif terhadap kritik, dan meyakini bahwa mereka selalu benar.
Mungkin juga orang yang selalu merasa benar sendiri mengalami gangguan Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD). Ini adalah gangguan kepribadian yang membuat seseorang jadi cenderung perfeksionis, kaku, dan percaya bahwa hanya ada satu cara yang benar yaitu cara mereka.
Meski demikian, penting ditekankan bahwa diagnosis ini hanya bisa ditegakkan oleh profesional kesehatan mental, dan tidak semua orang yang merasa benar sendiri mengidap gangguan kepribadian.
Membangun Kesadaran dan Sikap Terbuka
Menghadapi orang yang merasa paling benar memang bukan perkara mudah. Tapi yang lebih penting, kita juga perlu waspada agar tidak menjadi pribadi yang demikian.
Sikap reflektif, keterbukaan terhadap kritik, dan kebiasaan berpikir kritis bisa membantu kita keluar dari perangkap psikologis ini.
Belajar menerima, bahkan menyadari, bahwa kita bisa salah bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan. Karena dari kesalahan, kita belajar. Dari kerendahan hati, kita akan bertumbuh.
Editor: Kendi Setiawan


