Oleh: Ade Yamin
"Bapa demam panggung saya. Disuruh perkenalkan diri pakai bahasa daerah, tapi demam panggung…sangat sedih karena tidak memberikan yang terbaik," tulis Fifin Iba pada kotak pesan grup WhatsApp yang kami bentuk untuk memudahkan koordinasi selama pelaksanaan KKN Moderasi.
Pesan dari Fifin itu kemudian langsung ditimpali oleh Wandaruni: "Keren kok keren, pas Fifin maju perwakilan dari Papua, hampir semua dalam ruangan bersorak memberi semangat dan dukungan."
Tulisan mereka itu menjadi komunikasi pertama yang terjadi sebagai bentuk laporan apa yang sudah mulai Wandaruni dan Fifin telah lakukan di hari kedua mengikuti KKN moderasi di Kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
Muhibah moderasi yang dilakukan oleh Fifin dan Wandaruni, jika dicermati sebenarnya hanyalah sebuah tapak tilas pembanding dari apa yang telah mereka jalani sehari-hari. Fifin misalnya, di marga besar “Iba” di belakang namanya itu, dijumpai fakta bahwa telah berbilang tahun perbedaan keyakinan dalam satu marga bukanlah satu penghalang untuk menyatu dalam ikatan kekerabatan yang berdiri di atas filosofi atanamisia (mengkonfirmasi/tabayun), aroamisia (bijaksana), faneka misia (toleran), dan awkawai fafia (jujur).
Semua itu kemudian dipatronase menjadi satu tungku tiga batu sebagai filosofi pembangunan Kabupaten Fak-Fak. Realitas ini juga memampukan masyarakat untuk dapat hidup berdampingan dalam ideologi PKI (Protestan Katolik Islam).
Demikian pula dengan Wandaruni Iha yang lahir dari persilangan budaya dan agama. Ayahnya adalah turunan Maluku-Papua yang beragama Nasrani dan kemudian memeluk Islam. Sementara ibunya yang mewarisinya kulit yang terang adalah turunan Jawa tulen.
Hal itu telah menjadikannya satu contoh betapa indahnya hidup dan berasal dari perbedaan. Jika dapat dikelola dengan baik, pasti akan melahirkan kecantikan alami yang lahir dari alam bawah sadar, tanpa polesan dan juga pencitraan. Karena sejatinya moderasi itu harusnya berasal dari alam bawah sadar bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan dan dikelola sebagai penguat identitas kebangsaan.
Keberadaan Wandaruni dan Fifin di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat makin mengokohkan apa yang menjadi salah satu filosofi pembentukan bangsa Indonesia yaitu "Bhinneka" yang bermakna perbedaan. Perbedaan itu kemudian dihimpun dalam satu ikatan persamaan nasib, persamaan keinginan, membentuk satu harmoni keragaman etnis, keyakinan, karakter, hingga ciri fisik manusianya.
Seperti juga harmoni dalam kehidupan masyarakat Cigugur yang mau dan mampu menerima perbedaan sebagai satu kekayaan yang dapat melahirkan kebajikan dalam bertutur dan bersikap. Ini jugalah filosofi hidup yang terkandung dalam pitutur tilu; silih asah, silih asih dan silih asuh. Pitutur ini mencerminkan adanya nilai saling membantu, perasaan yang sama, serta solidaritas yang kuat dalam kehidupan sehari-hari antarwarga telah menumbuhkan harmonisasi hubungan sesama manusia, manusia dengan alam, juga manusia dengan penciptanya.
Poin ini sekaligus menjadi pantulan dari apa yang terkandung dalam Al-Qur’an Surat Al Hujurat ayat 13, tentang alasan sesungguhnya dari perbedaan penciptaan manusia, yang tidak lain adalah untuk saling kenal dan belajar menerima perbedaan yang ada, karena memang begitulah ketentuan Sang Pencipta.
Gambaran tentang moderasi yang tertera pada uraian di atas, sebenarnya tidak berbeda dari realitas PTKIN yang ada di Indonesia yang ternyata memang berwarna. PTKIN di Indonesia juga memiliki sejarah, karakter, keunggulan, tantangan, hambatan dan juga masalah yang beragam, yang seharusnya dapat menjadi inspirasi bahwa penyeragaman, sekaligus pemerataan itu sesuatu yang sangat memaksa yang dapat berpotensi merusak.
Jika dipaksa, alih-alih PTKIN itu akan bermutu, justru jangan-jangan ia akan bermusuh dan berpotensi melemahkan, karena semua terpaksa matang sebelum waktunya. Akibatnya, tindakan manipulatif selalu menjadi jalan alternatif tercepat yang dibiasakan serta dianggap benar dan wajar, untuk memenuhi syarat dari pemerataan itu.
Ade Yamin, Penangungjawab LPPM IAIN Fattahul Muluk Papua.
Editor: Kendi Setiawan


