Beberapa waktu yang lalu fenomena pinjaman online (pinjol) ilegal semakin meresahkan masyarakat. Salah satu praktik paling mengganggu adalah strategi penagihan yang tak hanya menyasar peminjam, tetapi juga orang-orang di sekitarnya dari teman, rekan kerja, bahkan keluarga.
Tidak sedikit yang menerima pesan intimidatif, ancaman, hingga pencemaran nama baik, padahal mereka sama sekali tidak terlibat dalam pinjaman tersebut.
Mengapa metode ini dilakukan? Apakah ini sekadar taktik bisnis? Atau ada faktor psikologis yang lebih dalam di baliknya?
1. Memainkan rasa malu (shaming strategy)
Secara psikologis, rasa malu adalah salah satu emosi sosial paling kuat yang bisa mendorong seseorang untuk segera bertindak, bahkan di luar logika. Ketika seseorang dipermalukan di depan publik atau orang-orang terdekatnya, ia cenderung mengalami tekanan emosional luar biasa.
Penagih dari pinjol ilegal memanfaatkan ini sebagai alat untuk mendorong peminjam agar cepat membayar. Dengan menghubungi teman-teman di daftar kontak, mereka secara tidak langsung mengatakan: "Kami tahu kamu siapa, dan semua orang juga akan tahu kamu berutang dan tak bertanggung jawab."
Bagi sebagian orang, tekanan sosial semacam ini jauh lebih menakutkan daripada ancaman hukum. Ini adalah bentuk manipulasi emosional yang sengaja dirancang untuk mempermalukan, bukan menyelesaikan masalah.
2. Efek social guilt atau rasa bersalah sosial
Banyak orang punya dorongan untuk menjaga nama baik di lingkungan sosialnya. Ketika utang mereka diketahui orang lain, muncul rasa bersalah karena dianggap mencoreng citra atau membebani orang lain, padahal belum tentu orang lain merasa demikian.
Penagih memanfaatkan potensi rasa bersalah ini. Misalnya, jika ada teman atau rekan kerja yang ditelepon atau dikirimi pesan bernada kasar oleh pihak pinjol, peminjam akan merasa telah “menyeret” orang lain dalam masalah pribadinya.
Perasaan itu bisa menjadi dorongan kuat untuk segera membayar, bukan karena mampu, tapi karena ingin menghentikan rasa bersalah dan tekanan sosial.
3. Tekanan psikologis lewat kepanikan
Menghubungi banyak orang sekaligus adalah cara efektif untuk menciptakan situasi panik. Secara psikologis, kepanikan akan mempercepat pengambilan keputusan, sering kali tanpa berpikir panjang.
Penagih tahu bahwa ketika seseorang panik, ia akan:
Cenderung meminjam dari pihak lain,
Menjual aset apa pun yang tersedia,
Atau bahkan membuat keputusan ekstrem hanya agar situasi cepat selesai.
Metode ini tidak manusiawi, tapi efektif, terutama terhadap orang dengan kondisi psikologis yang labil atau minim dukungan sosial.
4. Pemindahan tekanan: "Jika kamu tidak takut, temanmu mungkin takut"
Sebagian peminjam bisa jadi sudah terbiasa menghadapi penagih utang dan tidak langsung terpengaruh oleh ancaman.
Dalam kasus seperti ini, penagih akan memindahkan tekanan ke orang-orang di sekitarnya, dengan harapan orang-orang tersebut akan menekan si peminjam.
Ini seperti menggunakan kekuatan eksternal untuk menggantikan tekanan internal. Dalam dunia psikologi sosial, ini disebut dengan tekanan normatif, yaitu dorongan untuk berperilaku sesuai harapan sosial demi menghindari penolakan atau konfrontasi.
Ketika seorang teman bertanya, "Kenapa aku dihubungi soal utangmu?" si peminjam akan merasa terpojok. Rasa bersalah itu sering kali lebih berat dibanding tekanan dari penagih sendiri.
5. Dehumanisasi peminjam
Dalam sistem penagihan yang agresif, peminjam tidak lagi dipandang sebagai individu, melainkan sekadar angka atau target pembayaran. Inilah yang disebut dengan dehumanisasi atau proses mental di mana seseorang diperlakukan seperti objek, bukan manusia.
Ketika penagih melakukan teror ke lingkungan sosial peminjam, mereka sebenarnya menunjukkan bahwa mereka tidak peduli terhadap kondisi psikologis atau reputasi pribadi si peminjam. Yang penting hanya satu: utang lunas, apa pun caranya.
Penagih bisa jadi juga mengalami tekanan dari atasan atau sistem insentif yang ketat. Mereka bekerja dengan target harian, dan hal ini menurunkan empati serta meningkatkan agresivitas dalam proses penagihan.
Efek Psikologis Bagi Korban Teror
Praktik ini meninggalkan dampak serius bagi peminjam maupun orang-orang yang dihubungi:
- Rasa malu dan stres berat
- Isolasi sosial, karena teman atau keluarga merasa tidak nyaman
- Gangguan kecemasan, bahkan depresi
- Kehilangan pekerjaan, jika teror sampai ke tempat kerja
- Upaya bunuh diri, yang pernah dilaporkan dalam beberapa kasus ekstrem
Solusi dan Refleksi Sosial
Masalah ini tidak semata-mata soal gagal bayar. Ia mencerminkan celah regulasi, minimnya literasi keuangan, dan eksploitasi psikologis oleh sistem pinjol ilegal.
Penagihan seperti ini harus dicegah lewat:
- Edukasi soal pinjol legal vs ilegal,
- Perlindungan data pribadi yang lebih ketat,
- Penegakan hukum terhadap pinjol ilegal dan metode penagihan melanggar etika.
Lebih jauh, kita juga perlu membangun budaya masyarakat yang tidak mudah menghakimi peminjam, karena tekanan ekonomi bisa menimpa siapa saja.
Editor: Kendi Setiawan


