Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dari hutan hujan tropis di Sumatera dan Kalimantan, savana di Nusa Tenggara, pegunungan Papua, hingga terumbu karang dan padang lamun di berbagai wilayah pesisir, hampir setiap sudut negeri ini menyimpan kehidupan yang beragam. Orangutan, komodo, badak Jawa, cenderawasih, anoa, rafflesia, anggrek, mangrove, terumbu karang, hingga berbagai jenis ikan dan tumbuhan merupakan bagian dari kekayaan alam tersebut.
Namun, kekayaan yang selama ini dianggap seolah-olah tidak akan habis ternyata menghadapi tekanan yang semakin besar. Perubahan penggunaan lahan, fragmentasi hutan, eksploitasi berlebihan, pencemaran, perubahan iklim, perburuan, perdagangan satwa, serta masuknya spesies asing menjadi sejumlah ancaman yang dapat mengurangi keanekaragaman hayati Indonesia.
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas sebenarnya tidak hanya berarti banyaknya jenis hewan dan tumbuhan. Dalam ilmu biologi, keanekaragaman hayati mencakup variasi pada tingkat gen, jenis, dan ekosistem. Dua varietas mangga yang berbeda menunjukkan keanekaragaman tingkat gen. Harimau, orangutan, gajah, dan manusia menunjukkan keanekaragaman tingkat jenis.
Sementara itu, hutan hujan, mangrove, terumbu karang, sawah, dan padang rumput menunjukkan keanekaragaman ekosistem. Ketika kita berbicara tentang konservasi keanekaragaman hayati, yang harus dijaga bukan hanya seekor satwa langka, tetapi juga variasi genetik, berbagai spesies, serta tempat hidup yang menopang seluruh kehidupan tersebut.
Indonesia mempunyai posisi penting dalam persoalan ini karena kekayaan hayatinya sangat tinggi. Setiawan dalam artikel Keanekaragaman Hayati Indonesia: Masalah dan Upaya Konservasinya (2022) menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna yang sangat besar. Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tingkat ancaman yang tinggi terhadap sejumlah kelompok tumbuhan dan satwa. Bahkan, masih banyak wilayah Indonesia yang belum dieksplorasi secara memadai sehingga pengetahuan kita tentang seluruh kekayaan hayati negeri ini sebenarnya belum lengkap. Artinya, ada kemungkinan masih terdapat organisme yang belum dikenal secara ilmiah, sementara habitatnya sudah lebih dahulu mengalami perubahan.
Keistimewaan Indonesia juga berkaitan dengan banyaknya spesies endemik. Spesies endemik adalah organisme yang secara alami hanya ditemukan di wilayah geografis tertentu. Komodo, misalnya, merupakan satwa yang secara alami memiliki persebaran sangat terbatas di wilayah Nusa Tenggara.
Demikian pula berbagai jenis tumbuhan dan satwa di Papua, Sulawesi, Maluku, dan pulau-pulau lainnya memiliki persebaran yang khas. Kondisi ini membuat kehilangan habitat di suatu wilayah dapat menjadi persoalan serius karena spesies yang hidup di sana belum tentu memiliki tempat lain untuk berpindah.
Konsep biodiversity hotspot yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Myers dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa wilayah dengan kekayaan spesies endemik yang tinggi sekaligus mengalami kehilangan habitat perlu mendapatkan perhatian konservasi khusus. Dalam artikel Biodiversity Hotspots for Conservation Priorities (Myers et al., 2000), para peneliti menunjukkan bahwa wilayah dengan konsentrasi spesies endemik yang tinggi dapat menjadi prioritas penting dalam upaya konservasi. Konsep ini membantu para ilmuwan memahami bahwa konservasi tidak mungkin dilakukan secara seragam di seluruh dunia karena sumber daya yang tersedia terbatas. Wilayah yang memiliki kekayaan hayati tinggi dan tekanan besar membutuhkan perhatian khusus.
Salah satu ancaman terbesar terhadap keanekaragaman hayati adalah perubahan habitat. Hutan yang berubah menjadi permukiman, perkebunan, jalan, pertambangan, atau kawasan lainnya menyebabkan ruang hidup berbagai organisme menjadi semakin sempit. Persoalannya bukan sekadar luas hutan yang berkurang. Ketika sebuah kawasan hutan terpecah menjadi bagian-bagian kecil, habitat yang sebelumnya menyatu menjadi terisolasi.
Kondisi tersebut disebut fragmentasi habitat. Kajian dalam A Review of Forest Fragmentation in Indonesia under the DPSIR Framework for Biodiversity Conservation Strategies (2024) menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan dan fragmentasi hutan merupakan tekanan penting terhadap keanekaragaman hayati Indonesia. Fragmentasi dapat mengubah kondisi habitat dan mengganggu hubungan ekologis antarpopulasi organisme.
Bayangkan sebuah hutan sebagai sebuah kota bagi berbagai makhluk hidup. Pohon merupakan tempat tinggal dan sumber makanan bagi banyak organisme. Sungai menjadi jalur kehidupan bagi ikan dan berbagai organisme air. Serangga membantu penyerbukan. Burung membantu penyebaran biji. Jamur dan bakteri menguraikan sisa makhluk hidup sehingga unsur hara kembali ke tanah.
Jika hutan dipotong-potong, hubungan antara organisme tersebut dapat terganggu. Hewan yang membutuhkan wilayah jelajah luas mungkin kesulitan menemukan makanan atau pasangan. Tumbuhan tertentu mungkin tidak lagi mendapatkan penyerbuk yang sesuai. Dalam jangka panjang, populasi yang kecil dan terisolasi juga lebih rentan terhadap berbagai gangguan.
Ancaman berikutnya adalah eksploitasi berlebihan. Manusia memanfaatkan tumbuhan dan hewan untuk pangan, obat-obatan, bahan bangunan, pakaian, hiasan, maupun berbagai kebutuhan ekonomi. Pemanfaatan sebenarnya bukan sesuatu yang selalu salah. Masalah muncul ketika pengambilan dilakukan lebih cepat daripada kemampuan populasi organisme untuk pulih. Jika ikan ditangkap sebelum sempat berkembang biak dalam jumlah memadai, populasinya dapat menurun. Jika satwa diburu terus-menerus, jumlah individunya dapat semakin sedikit. Jika tumbuhan langka diambil dari alam tanpa pengelolaan, populasinya juga dapat mengalami tekanan.
Pencemaran turut memberikan tekanan. Limbah rumah tangga, industri, pertanian, plastik, pestisida, dan berbagai bahan pencemar lainnya dapat masuk ke tanah, sungai, dan laut. Ekosistem perairan sangat rentan karena pencemaran di daratan pada akhirnya dapat terbawa menuju sungai dan laut. Di wilayah pesisir, kerusakan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang dapat menghilangkan tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai organisme.
Perubahan iklim menambah kompleksitas persoalan. Kenaikan suhu, perubahan pola hujan, perubahan kondisi laut, peningkatan kejadian cuaca ekstrem, serta perubahan kondisi habitat dapat memengaruhi kehidupan berbagai organisme. Spesies yang mampu beradaptasi mungkin dapat bertahan, tetapi organisme dengan kemampuan adaptasi terbatas atau yang hidup pada habitat sangat spesifik dapat menghadapi tekanan yang lebih besar. Karena berbagai ancaman tersebut dapat terjadi secara bersamaan, dampaknya terhadap keanekaragaman hayati tidak selalu sederhana.
Lalu, mengapa kita harus peduli? Bukankah manusia dapat terus hidup meskipun beberapa jenis hewan atau tumbuhan menghilang? Pertanyaan ini penting karena manusia sering memandang alam hanya dari apa yang terlihat secara langsung. Padahal, kehidupan manusia sangat bergantung pada proses ekologis yang berlangsung setiap hari tanpa kita sadari. Tumbuhan menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida. Hutan membantu mengatur tata air. Serangga dan hewan lain membantu penyerbukan. Organisme tanah membantu proses penguraian. Mangrove melindungi wilayah pesisir dan menjadi habitat berbagai organisme. Terumbu karang menyediakan tempat hidup bagi banyak biota laut sekaligus mendukung kehidupan masyarakat pesisir.
Hubungan antara keanekaragaman hayati dan keberfungsian ekosistem telah banyak diteliti. Cardinale dan rekan-rekan dalam Biodiversity Loss and Its Impact on Humanity (2012) menjelaskan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati dapat memengaruhi fungsi ekosistem dan kemampuannya menyediakan berbagai manfaat bagi manusia. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa biodiversitas bukan sekadar kumpulan organisme yang indah untuk dilihat, tetapi memiliki hubungan dengan proses ekologis yang menopang kehidupan manusia.
Penelitian Hooper dan rekan-rekan dalam A Global Synthesis Reveals Biodiversity Loss as a Major Driver of Ecosystem Change (2012) juga menunjukkan adanya bukti bahwa kehilangan spesies dapat mengubah proses-proses penting dalam ekosistem. Dengan kata lain, ketika satu demi satu organisme hilang, yang berubah bukan hanya daftar jenis makhluk hidup, tetapi juga cara ekosistem bekerja.
Keanekaragaman hayati juga merupakan sumber pengetahuan dan peluang bagi generasi mendatang. Banyak tumbuhan memiliki senyawa kimia yang berpotensi dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. Berbagai organisme memiliki karakteristik biologis yang dapat menjadi bahan penelitian. Sumber pangan lokal menyimpan keragaman genetik yang penting bagi ketahanan pangan. Karena itu, hilangnya suatu spesies berarti kita mungkin kehilangan informasi biologis yang belum sempat dipelajari atau dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Laporan IPBES dalam Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services (2019) menegaskan bahwa perubahan terhadap biodiversitas dan jasa ekosistem telah berlangsung secara luas dan didorong terutama oleh berbagai aktivitas manusia. Laporan tersebut memperkirakan sekitar satu juta spesies tumbuhan dan hewan menghadapi ancaman kepunahan dalam skala global. Angka tersebut bukan berarti semua spesies itu akan langsung punah, tetapi menunjukkan besarnya tekanan yang sedang berlangsung terhadap kehidupan di bumi.
Karena itulah konservasi menjadi sangat penting. Konservasi bukan berarti manusia dilarang memanfaatkan alam. Konservasi pada dasarnya adalah upaya menjaga agar keanekaragaman hayati tetap ada dan dapat berlangsung dalam jangka panjang. Caranya dapat dilakukan melalui perlindungan habitat, pengelolaan kawasan konservasi, pemulihan ekosistem yang rusak, penangkaran spesies tertentu, pengendalian perdagangan satwa liar, pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, serta penelitian dan pemantauan populasi.
Konservasi juga tidak harus selalu dilakukan di tempat yang jauh. Masyarakat dapat berperan mulai dari lingkungan sekitar. Menanam tumbuhan lokal, mempertahankan pohon yang masih sehat, tidak membuang sampah ke sungai, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membeli satwa liar yang dilindungi, menjaga sumber air, serta ikut merawat lingkungan merupakan bentuk sederhana dari konservasi. Di sekolah, peserta didik dapat mengenali tumbuhan dan hewan di lingkungan sekolah, membuat kebun biodiversitas, melakukan inventarisasi sederhana, atau mempelajari hubungan antara organisme dalam ekosistem.
Dengan begitu, konservasi keanekaragaman hayati bukan hanya tentang menyelamatkan orangutan, komodo, cenderawasih, rafflesia, atau terumbu karang. Konservasi adalah usaha menjaga sistem kehidupan yang memungkinkan manusia juga dapat bertahan. Kita mungkin tidak menyadari jasa seekor serangga kecil, mikroorganisme tanah, pohon di tepi sungai, atau mangrove di pesisir. Namun, keberadaan mereka merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang saling berhubungan.
Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat besar, tetapi kekayaan tersebut bukan berarti tidak terbatas. Setiap spesies yang hilang, setiap habitat yang rusak, dan setiap ekosistem yang mengalami degradasi dapat mengurangi warisan alam yang seharusnya diteruskan kepada generasi berikutnya. Konservasi karena itu bukan sekadar urusan pemerintah, ilmuwan, atau lembaga lingkungan. Konservasi adalah tanggung jawab bersama. Menjaga keanekaragaman hayati berarti menjaga kehidupan hari ini sekaligus mempertahankan pilihan kehidupan bagi anak cucu kita di masa depan.
Editor: Kendi Setiawan


