Kompetisi Sains Madrasah (KSM) dan Madrasah Young Researcher Supercamp (Myres) yang dihelat Direktorat KSKK, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI di Ternate, 2-6 September 2024, sudah berakhir. Gelaran kompetisi tersebut mengirim pesat kuat kepada publik bahwa kini madrasah sudah berubah dan makin berkualitas.
KSM dan Myres melombakan banyak cabang keilmuan, seperti sains, sosial, humaniora dan keagamaan. Pesertanya pun tidak hanya dari kalangan siswa madrasah, tetapi juga diikuti oleh siswa sekolah umum.
Meski masih membutuhkan inovasi dan sejumlah perbaikan tata kelola kompetisi, pelibatan sekolan umum dalam KSM dan Myres ini menandakan bahwa kejuaraan ini bukan bermaksud menjadikan siswa madrasah sebagai jago kandang saja.
Prestasi yang diraih dari lomba yang digelar secara berjenjang dari tingkat sekolah hingga nasional, baik lomba yang diikuti secara individu maupun kelompok ini, patut dicatat dan direkognisi oleh Pusat Prestasi Nasional Kemendikbud.
Keberhasilan dua siswa MTsN 2 Kota Surabaya menemukan alat detektor dini disleksia, misalnya, patut mendapat apresiasi. Sebab melalui alat temuan Fathi Zahiya dan Nur Maisyah Ilmira ini, seorang anak yang mengalami gangguan disleksia— ditandai kesulitan membaca dan menulis—dapat segera diketahui lebih cepat tanpa melalui serangkaian tes yang melelahkan dan membutuhkan biaya mahal.
Keberhasilan lainnya juga ditunjukkan Tim Myres MAN 2 Kota Malang. Dua siswa mereka yakni Bylqhiz Ghanisah Bustomi dan Gaea Alexa Sulthana berhasil meneliti sekumpulan pohon misterius yang ternyata memilik khasiat melawan hipertensi. Salah satu penyakit degeneratif yang muncul akibat menurunnya fungsi organ atau jaringan. Ini penyakit kronis yang penderitanya harus minum obat sepanjang hayat.
Dua contoh di atas sekadar menunjukkan gairah penelitian siswa madrasah yang tumbuh sangat baik dan membanggakan. Dua riset ini pun perlu dikaji dan dikembangkan lebih dalam sehingga dapat berkontribusi nyata bagi dunia kedokteran.
Ajang Pembuktian
Klaim madrasah sudah berubah dan makin berkualitas harus dibuktikan dengan prestasi. Dari prestasi akan melahirkan reputasi dan rekognisi, secara internal maupun eksternal. Tidak sulit mengukur prestasi, reputasi dan rekognisi madrasah, baik melalui common sense maupun secara ilmiah.
Prestasi yang baik berakibat pada reputasi yang juga baik. Begitu seterusnya hingga masyarakat mengakui dan mempercayakan putra-putrinya menuntut ilmu di lembaga pendidikan tersebut.
Prestasi tidak lahir dengan instan. Ibarat membangun rumah, prestasi dibangun setahap demi setahap oleh seluruh komponen yang terlibat, baik pemerintah maupun masyarakat. Mereka berbagi tugas sesuai peran dan fungsinya masing-masing.
Guru, murid, termasuk orang tua, dan lingkungan masyarakat bahu-membahu membangun tradisi akademik yang sehat dan mencerdaskan, yang memungkinkan seluruh potensi sivitas akademika madrasah melejit. Sedang pemerintah menyediakan atmosfer kebijakan yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Membangun madrasah, menciptakan guru-guru inovatif dan murid yang berprestasi tidaklah mudah. Meski demikian, secara teori, kita semua memiliki ilmu dan mekanisme untuk mencapainya. Kadang kala prestasi tidak melulu berkaitan dengan kelengkapan fasilitas dan sarana-prasarana. Cukup banyak bukti yang mendukung tesis ini. Kita bisa menyaksikan sejumlah filsuf dan ilmuwan dunia yang mencapai kematangan intelektualnya, meski fasilitas pendidikan serba terbatas. Tetapi semua orang pasti sepakat bahwa laboratorium yang lengkap dan canggih serta lingkungan sekolah yang nyaman dapat menjadi faktor kunci lahirnya berbagai prestasi di sekolah tersebut.
Dari pada kita berdebat soal mana yang harus terlebih dulu ada, prestasi atau fasilitas, lebih baik kita memulainya dari mana saja yang mungkin dilakukan. Jika faktor penunjang prestasi berasal dari keluarga, misalnya, maka ayah-ibu harus berbuat lebih untuk kemajuan anaknya.
Pihak guru, madrasah dan pemerintah mendorong agar siswa tersebut terfasilitasi untuk mengikuti berbagai kejuaran dan menghasilkan prestasi. Begitu seterusnya hingga institusi madrasah memiliki tradisi prestasi dan juara yang kuat. Sehingga tidak perlu saling menunggu siapa yang harus memulai lebih dulu.
Senyawa Prestasi
Setiap kali menjumpai seseorang yang berprestasi di bidang apapun, selalu mengagumkan. Kita terdorong untuk mencari tahu, bagaimana mereka belajar dan berlatih, bagaimana peran orang tua, guru atau pembimbing mengawal proses keberhasilan itu.
Hukum di dunia mengatakan, jumlah orang yang hebat lebih sedikit dibanding lainnya. Masuk akal jika yang juara hanya satu orang. Penerima nobel juga tidak banyak jumlahnya.
Lingkungan bisa jadi sama. Begitu pula, jenis lembaga pendidikan dan guru tidak jauh beda. Fasilitas dan perlakuan mungkin serupa atau beda-beda tipis, tapi mengapa ia jagoan dan yang lain biasa-biasa. Ada senyawa unik yang bekerja, yang membuat seseorang menjadi mletik (meloncat) begitu tinggi dan lainnya mendelep tidak berkembang. Ada juga yang dulu saat sekolah biasa-biasa saja, tetapi sekarang berprestasi luar biasa.
Prestasi merupakan sekumpulan senyawa misterius. Tidak berpola pasti, tetapi mudah diidentifikasi. Anak-anak yang berprestasi pada umumnya memiliki ketekunan, fokus dan kedisiplinan di atas rata-rata terhadap bidang yang diminati. Ia tampak menonjol dan jauh lebih cerdas dibanding yang lain. Itu semua karena berkah dari ketekunan, fokus dan kedisiplinannya dalam belajar dan berlatih konsisten dan terus-menerus.
Setiap orang yang memiliki senyawa di atas—bagaimanapun keadaan keluarga dan tempat belajarnya—ia akan memiliki prestasi yang diharapkan. Penggerak utama ketekunan, fokus dan kedisplinannya itu dapat berasal dari berbagai macam hal. Bisa jadi dimotori oleh cita-cita atau keinginannya untuk mengubah nasib dirinya. Atau apapun yang membuat dirinya menjadi yang terbaik.
Ditambah bimbingan dari keluarga dan dukungan sistem dari sekolah/madrasah, potensi yang kecil bisa tumbuh menjadi lebih besar lagi. Tekun, fokus di bidangnya dan disiplin dalam berlatih dan belajar adalah proses yang biasanya dilalui oleh para juara.
Mungkin ia sedikit kehilangan waktu bermain dan bersenang-senang dengan temannya. Masa remajanya dihabiskan untuk belajar dan berlatih. Tetapi ia dipastikan akan memanen dari semua pengorbanannya. Ditambah doa dari orang tua dan keikhlasan para guru, mereka akan menjadi juara pada waktunya nanti. Inilah tirakat sang juara.
Mungkin ada keberuntungan di setiap kesuksesan dan prestasi. Tetapi, hasil tidak akan mengkhianati proses panjang dan rumit. Anak-anak madrasah yang meraih prestasi pada ajang KSM dan Myres sudah membuktikan itu. Selamat untuk para juara KSM dan Myres.
Abu Rokhmad adalah Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI
Abu Rokhmad Musaki
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI
Editor: Muhammad Zunus


