Oleh: M. Zainuddin
Hari santri 2024 menjadi hari pertama bagi Menteri Agama, Prof Nasaruddin Umar, menyampaikan pidato. Dalam pidatonya, ia menyampaikan sejarah peran santri dalam merintis kemerdeknaan RI dengan Resolusi Jihad-nya. Santri, kata Imam Besar Masjid Istiqlal ini, juga punya peran membing umat dan bangsa Indonesia.
Pada pidatonya itu, ia juga menyampaikan pesan kepada santri Gen-Z agar melanjutkan perjuangan para kiai dan ulama terdahulu. Ia menggunakan istilah perjuangan untuk santri Gen Z itu sebagai “Resolusi Jihad Jilid II”. Maksudnya, santri saat ini mesti belajar dengan serius untuk menggapai era keemasan sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama dan intelektual pada era pertengahan, seperti Al-Hawarizmi, Ibn Rusydi, Ibn al-Haitam dan sederetan figur intelektual pada era pertengahan dengan mempelajari seni, sains dan teknologi warisan mereka.
Bahkan Nabi juga disebut oleh Menag sebagai seorang pecinta seni dan atletis yang pernah menjadi juara tinju melawan Rukanah bin Abi Yazid pada masanya. Jika resolusi jihad jilid-I adalah mengangkat senjata melawan para penjajah, maka santri saat ini harus mengangkat pena menjadi profesor.
Santri Era Pertengahan
Adalah benar apa yang dideskripsikan H.A.R Gibb (Abdussalam, 1983: 17), bahwa tumbuh suburnya sains dalam masyarakat Islam lebih banyak tergantung pada dukungan penguasa. Jika masyarakat Islam mengalami kemunduran, di situ sains kehilangan vitalitas dan kekuatan. Tetapi selama di salah satu negara masih terdapat penguasa yang masih memberi dukungan pada sains, maka obor ilmu akan tetap menyala. Sebaliknya, jika tidak maka akan terjadi kemerosotan intelektual.
Indikasi dari situasi ini nampak dalam peristiwa peledakan observatorium bintang di Istambul oleh meriam-meriam angkatan laut atas perintah Sultan Murad III pada abad ke-16. Dengan alasan tugas observatorium untuk mengoreksi jadwal astronomi Ulugh Beg telah selesai, maka observatorium dianggap tak dibutuhkan lagi.
Pertanyaannya, mampukah generasi-Z saat ini menguasai kembali bidang sains? Abdussalam optimis bisa asal masyarakat secara keseluruhan, terutama generasi mudanya, bersedia menerima kenyataan sebagai tujuan yang diidam-idamkan.
Generasi muda harus didorong untuk berpikir ilmiah, mengejar sains dan teknologi dengan menggunakan satu sampai dua persen Pendapatan Nasional untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, paling sedikit sepersepuluhnya. Ini bisa kita lihat di Jepang ketika revolusi Meiji. Kaisar Jepang bersumpah akan mencari ilmu pengetahuan dari manapun datangnya meski dari sudut bumi ini. Pun yang dilakukan Uni Soviet empat puluh tahun lalu. Di mana Akademi Ilmu Pengetahuannya berambisi untuk unggul dalam sains. Langkah ini pulalah yang ditiru secara berencana oleh RRC yang hendak bersaing dengan Inggris Raya.
Persoalan sains dan teknologi begitu penting hingga Sutan Takdir Alisyahbana (1992) menghimbau bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan sains dan teknologi dengan jalan menyediakan dana sebanyak mungkin untuk mengirimkan generasi muda ke luar negeri, ke pusat-pusat ilmu pengetahuan.
Cara lain, menurut Alisyahbana, adalah menterjemahkan karya-karya sains dan dan teknologi tersebut. Dia mencontohkan ketika Jepang belum maju seperti sekarang. Mereka berusaha menterjemahkan buku-buku berbahasa asing. Sejak 150 tahun yang lalu orang Jepang sudah melakukan penterjemahan sekitar 2.000 hingga 2.500 buku setiap tahunnya. Dan sekarang Malaysia memulainya dengan mengirimkan mahasiswanya ke luar negeri. Setiap tahun, Malaysia mengirikan sekitar 7.000 mahasiswanya ke luar negeri.
Jalan lain untuk menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menjadikan kampus sebagai pusat riset dan pengembangan ilmiah.
Masalah sentral yang perlu segera digarap menyangkut angkatan muda di dunia Islam. Caranya, menurut Hussein Nasr (1989:6): Pertama, bagaimana memberikan bekal yang cukup untuk mereka, memahamkan pesan-pesan Islam secara tepat dan benar; Kedua, memberikan pengertian kepada mereka betapa kaya khazanah intelektual dan tradisi spiritual Islam. Jangan membiarkan mereka terperangkap oleh slogan dan gelombang peradaban Barat yang sekuler. Dengan kata lain, kita mesti dapat mencetak generasi pemikir Islam yang handal berwawasan luas dan jauh ke depan, bukan generasi yang jumud dan fanatis.
Seperti kata Munawar Anees (1991:83), pembaruan-pembaruan pendidikan di seluruh dunia Islam saat ini lebih dipacu untuk membangun tiruan-tiruan tonggak intelektual Barat daripada membentuk kembali sumber akalnya sendiri. Jika umat Islam tidak mendefinisikan kembali konsep pandangan dunia-nya sendiri, maka hanya akan menoreh luka-luka intelektual sebelumnya.
Lantas benar apa yang dikatakan oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, justru Roger Bacon yang disebut-sebut sebagai ahli optic yang dijadikan pioner Barat saat itu ternyata tidak lebih dari seorang plagiat yang menjiplak penuh karya Ibn Haitam dalam kitabnya Al-Manadzir.
Bukankah sains dan teknologi adalah warisan intelektual umat Islam? Oleh sebab itu, umat Islam harus menemukan kembali warisan yang berharga itu. Kita mesti ingat sabda Nabi "Bahwa ilmu pengetahuan (hikmah) adalah perbendaharaan orang mukmin yang telah hilang. Barang siapa menemukannya, maka ia berhak atasnya.” (Al-Qardhawi, 1989: 56).
Kini para santri Gen-Z harus berupaya untuk terus mengembangkan ilmu, lebih-lebih ilmu sebagai proses yang menggambarkan aktivitas manusia dan masyarakat ilmiah yang sibuk dengan kegiatan penelitian, eksperimentasi, eksplorasi dan seterusnya untuk menemukan sesuatu yang baru. Formulasi-formulasi yang telah diperkenalkan oleh para ilmuwan pendahulu harus diaktualisasikan untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut. Oleh sebab itu, proses pendidikan tak boleh tidak harus digalakkan dalam berbagai disiplin ilmu. Proses pendidikan inilah yang oleh Islam selalu ditekankan, dan belajar sepanjang hidup (life long education) adalah merupakan keniscayaan.
Revolusi ilmiah telah dirintis sejak era pertengahan dengan karakteristik Islami, bahkan sudah telah berkembang sejak masa Harun Al-Rasyid hingga memuncak di tangan Al-Ma’mun puteranya, pada masa Daulah ‘Abbasiyyah antara abad 8-12 M. Rekonsiliasi antara sains dan agama secara konseptual justru tidak terjadi pada dunia Barat yang nyata-nyata sekuler.
Hanya memang, untuk tidak sekadar bernostalgia dan terbuai oleh romantisme sejarah, santri saat ini ditunutut untuk mampu mengimplementasikan konsep ideal ilmu dan peradaban Islam tersebut dalam kehidupan riil di masyarakat bagi terwujudnya kesejahteraan umat manusia.
=========
M. Zainuddin adalah Guru Besar Filsafat dan Sosiologi agama, Rektor UIN Maliki Malang
Editor: Muhammad Zunus


