Mungkin Anda adalah orang tua yang pernah mengalami momen gamang menentukan sikap menghadapi kondisi perilaku anak sehari-hari. Anda merasa bingung ketika anak meledak-ledak mengekspresikan amarah. Bisa jadi anak Anda termasuk yang suka membanting barang-barang di sekitarnya saat meluapkan keputusasaan. Atau, ia adalah anak yang hanya diam membatu dengan ekspresi yang kosong.
Pada dasarnya, anak yang menampilkan tindakan yang meledak-ledak adalah tanda bahwa ia belum mampu meregulasi emosi yang muncul dalam dirinya. Dan, hal semacam itu juga merupakan tanda bahwa anak tidak memiliki ruang aman untuk mendapatkan sandaran yang tepat, nyaman, dan aman bagi jiwanya.
Agar persoalan seperti ini tidak berlarut-larut dan menjelma menjadi penghambat anak menemukan konsep diri yang sungguh penting bagi masa depan mereka, sangat perlu orang tua mengetahui akar masalah untuk memutus rantai perilaku impulsif.
Menurut seorang praktisi pengasuhan anak, Vicky Nastasha, ada tiga pertanyaan yang perlu dijawab sebagai cermin bagi diri orang tua supaya mengetahui akar persoalan yang dialami.
Vicky, dalam bukunya, Anakku Kok Lemah, Sih?, mengatakan bahwa anak yang memiliki masalah regulasi emosi bisa jadi datang dari perasaan tidak aman, tidak didengar, dan tidak dimengerti. Anak tidak mempunyai ruang aman untuk mengekspresikan dan mengomunikasikan emosinya. Untuk itu, Vicky mengajukan dua jenis pertanyaan untuk memetakan dan menggali sumber masalah terkait kelemahan anak.
Pertanyaan jenis pertama adalah untuk mengetahui relasi yang terjadi antara orang tua dan anak.
Pertanyaan itu adalah:
- Apakah pernah saya menyepelekan perasaan anak? Misalnya dengan mengatakan, "Iih lebay… gitu aja kok sedih."
- Apakah saya mendengarkan anak hanya selintas saja? Mendengarkan sambil multitasking atau mengerjakan hal lain, curahan hati anak seakan-akan hanya sambil lalu. Orang tua kurang sungguh-sungguh mendengarkan sepenuh hati
- Apakah saya tidak cukup meluangkan waktu untuk bersamanya?
Menurut Vicky, jika ada jawaban "Ya" pada salah satu, dua, atau bahkan dari ketiga pertanyaan tersebut, dapat dipastikan permasalahan regulasi emosi anak muncul dari kebiasaan dan relasi yang kita bangun dengan anak. Tak pelak, nasihat "tidak ada anak bodoh" menjadi relevan.
Sumber persoalan yang muncul pada diri anak sesungguhnya berasal dari kita sebagai orang tua yang kurang memerhatikan secara mendalam apa yang coba dipahami oleh sang buah hati.
Pertanyaan jenis kedua dapat memandu kita untuk menemuken akar persoalan terkait anak yang kerap kali mengharapkan bantuan setiap mendapatkan kesulitan atau tampak begitu lemah menghadapi tantangan yang dijumpai.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
- Apakah kita percaya bahwa anak akan mampu melakukan semua hal meski perlahan-lahan?
- Apakah kita tidak sabar melihat ia mencoba dan gagal berkali-kali?
- Apakah kita selalu segera menyelamatkan anak ketika ia mengalami kesulitan atau terluka?
Menurut Vicky, jika ada jawaban "Ya" pada salah satu, dua, atau bahkan dari ketiga pertanyaan di atas, maka permasalahan anak yang selalu minta bantuan bisa muncul karena kita sebagai orang tua tidak memberikan kepercayaan penuh kepada anak dan selalu mengambil alih apa yang coba dikerjakan anak. Akhirnya anak terbiasa menyerah, bahkan untuk hal-hal yang tampak sepele.
Lalu, apa yang harus kita lakukan agar anak-anak dalam kondisi mental yang tangguh? Dengan akar persoalannya, maka sudah saatnya kita harus mau dan mampu dengan bijak setiap merespons apa yang ditanyakan, dikemukakan, dan apa yang dimaui anak.
Rasa khawatir, gemas, kecewa, dan marah adalah sikap manusiawi. Kendati begitu, kita tak boleh membela diri di balik kata "manusiawi" tadi. Kita harus terus berlatih memiliki sikap yang proporsional sekaligus menenteramkan untuk hati anak-anak.
Editor: Kendi Setiawan


