Dark
Light
Dark
Light

Penemuan: Fosil Karnivora Nenek Moyang Buaya Modern Ditemukan di Brasil

Penemuan: Fosil Karnivora Nenek Moyang Buaya Modern Ditemukan di Brasil

Arina.id - Penemuan fosil reptil karnivora baru saja diidentifikasi sebagai nenek moyang buaya modern di Brasil. Penemuan ini diungkap dalam Jurnal Systematic Palaeontology beberapa waktu lalu. Sepintas, reptil tersebut terlihat seperti dinosaurus, tapi para peneliti telah mengkonfirmasi bahwa sebenarnya itu adalah buaya modern awal.

Spesies ini dinamakan Tainrakuasuchus Bellator, hewan dengan kulit keras yang hidup pada 240 juta tahun lalu, sesaat sebelum dinosaurus muncul. Sebagai anggota dari Pseudosuchia (kelompok jenis buaya modern dan pra-modern), ia memiliki kelompok predator dominan yang berkembang di periode Triassic (Periode yang dimulai sekitar 252 juta tahun lalu).

Menurut penelitian, makhluk ini berukuran sekitar 2,4 meter dan beratnya sekitar 60 kilogram. Leher yang panjang dan tubuh lincah memungkinkan menyerang mangsa secara cepat. Saat menggigit, dia menggunakan rahang ramping yang diisi dengan gigi tajam untuk mengamankan targetnya dan mencegah pelarian.

"Hewan ini adalah predator aktif, tapi meskipun ukuran relatif besar, ukurannya masih jauh dari pemburu terbesar pada masanya. Ia berbagi rumah yang sama dalam ekosistem dengan predator kuat lain berukuran tujuh meter," demikian penulis utama Doktor Rodrigo Temp Müller, yang memimpin tim paleontologi di Universidade Federal de Santa Maria di Brasil menjelaskan.

"Pseudosuchia adalah bagian dari ragam kelompok hewan kecil yang mampu mengatasi mangsa kuat, serta pemburu kecil yang spesialis dalam menangkap hewan cepat," demikian Muller melanjutkan, seperti dikutip dari sciencedaly, Jumat 13 November 2025.

"Meskipun penampilannya menyerupai dinosaurus, Tainrakuasuchus Bellator tidak termasuk dalam grup itu. Salah satu cara paling jelas bagi kita untuk membedakannya dari dinosaurus terletak pada struktur panggul di mana karakteristik sendi pinggul dan femur-nya sangat berbeda."

Muller mencatat, penemuan Tainrakuasuchus Bellator ini mewakili kompleksitas ekosistem pada saat itu, dengan spesies pseudosuchia yang berbeda - bervariasi dalam ukuran dan strategi berburu - dalam bidang ekologi tertentu. "Penemuan membantu menerangi momen kunci dalam sejarah kehidupan, periode yang mendahului kebangkitan dinosaurus."

Fosil tersebut ditemukan selama penggalian pada Mei 2025 di Kota Dona Francisca, Brazil Selatan. Tim menemukan sebagian kerangka sudah terbungkus batu yang termasuk bagian rahang bawah, tulang belakang, dan sarung panggul.

Analisis tulang menunjukkan rincian tentang perilaku hewan dan mengkonfirmasi bahwa Tainrakuasuchus Bellator dilindungi oleh pelat kurus yang disebut osteoderms, yang juga ditemukan pada buaya saat ini. Meskipun anggota tubuhnya tidak diawetkan, para peneliti percaya hewan ini bergerak merangkak.

Doktor Muller menggambarkan penemuan tersebut sebagai "sangat langka" dan mengatakan hal ini mengungkap bukti lebih banyak mengenai hubungan kuno antara Brasil dan Afrika selama periode Triassik -- ketika dunia masih terhubung dengan benua lain atau disebut juga sebagai Super Pangaea.

"Meskipun adanya keanekaragaman pseudosuchians, mereka tetap tidak dipahami, karena fosil dari beberapa garis keturunan mereka sangat langka dalam catatan fosil," kata Muller sambil menambahkan kalau penemuan fosil telah diteliti dengan persiapan matang di laboratorium, dengan proses pemindahan batuan secara berhati-hati.

"Setelah rincian anatomi terungkap, kami senang dan benar-benar bersemangat untuk mengungkapkan bahwa spesimen tersebut mewakili spesies yang sebelumnya tidak diketahui oleh ilmu pengetahuan. Apa yang kami temukan adalah bagian dari spesies predator yang erat berhubungan dengan (Mandasuchus Tanyauchen) yang ditemukan di Tanzania.

"Koneksi antara hewan dari Amerika Selatan dan Afrika ini dapat dipahami dalam paleogeografi periode Triassic. Pada waktu itu, benua-benua masih bersatu, yang memungkinkan penyebaran makhluk hidup di daerah yang sekarang dipisahkan oleh lautan. Akibatnya, fauna-fauna Brasil dan Afrika berbagi beberapa elemen umum, mencerminkan keterikatan sejarah evolusi dan ekologi.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo