Anak-anak selalu punya cara unik menikmati dunia mereka. Mereka bisa tenggelam begitu saja dalam permainan sederhana seperti membangun istana dari bantal, berlari mengelilingi taman, atau menciptakan cerita imajinatif tanpa henti.
Banyak orang tua mengira bermain hanyalah hiburan, sesuatu yang tidak sepenting belajar formal. Padahal, bagi dunia perkembangan anak, bermain adalah fondasi yang tak tergantikan. Bermain bukan sekadar aktivitas mengisi waktu; bermain adalah cara utama anak memahami dunia dan dirinya sendiri.
Psikolog Klinis Anak sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Efriyani Djuwita melalui interaksi langsung dengan anak-anak, melihat bahwa bermain bukan hanya aktivitas menyenangkan, tetapi juga gerbang bagi psikolog untuk masuk ke dunia internal anak.
Bermain dan Psikologi: Dua Hal yang Tak Terpisahkan
Psikologi mempelajari bagaimana manusia berpikir, merasa, dan berperilaku. Dalam konteks ini, bermain dilihat sebagai aktivitas universal yang muncul di berbagai budaya dan menjadi elemen inti dalam proses manusia berkembang.
"Bermain membantu anak memahami lingkungannya, belajar mengelola emosi, mengembangkan kemampuan berpikir, hingga melatih kecakapan memecahkan masalah. Dengan kata lain, bermain adalah “laboratorium kehidupan,” sebut Ita dikutip dari laman psikologi.ui.ac.id
Lebih jauh lagi, bermain juga menjadi sarana adaptif. Pendekatan terapi seperti play therapy dan theraplay tidak hanya digunakan untuk anak-anak, tetapi juga bagi orang dewasa. Ini menunjukkan bahwa bermain memiliki fungsi psikologis yang dalam, menjadi jendela untuk memahami manusia dan mendukung kesejahteraannya.
Apa yang Dimaksud dengan Psikologi Bermain?
Ita menuturkan psikologi bermain adalah bidang yang mempelajari peran bermain dalam perkembangan manusia. Permainan berkontribusi pada aspek fisik, kognitif, emosional, dan sosial. Dalam praktiknya, bermain menjadi media yang dapat dimanfaatkan psikolog untuk membantu anak berkembang lebih optimal.
Misalnya, melatih atensi dan ingatan tidak harus dilakukan dengan tugas akademik yang kaku; permainan khusus yang dirancang untuk tujuan tertentu sering kali jauh lebih efektif karena lebih menyenangkan bagi anak.
Bermain, dengan segala bentuknya, menjadi alat yang membantu anak mengatasi tantangan psikologis sekaligus menguatkan kemampuan-kemampuan dasar yang diperlukan dalam kehidupan.
Mengapa Bermain Penting?
Bermain merupakan hak anak, sebagaimana tercantum dalam Konvensi Hak Anak PBB. Melalui bermain, anak mengembangkan tubuh, pikiran, dan emosinya secara seimbang. Riset menunjukkan bahwa aktivitas fisik seperti berlari dan memanjat melatih motorik dan koordinasi tubuh.
Bermain bersama teman mengajarkan kerja sama, empati, dan kemampuan memahami perasaan orang lain. Permainan konstruktif seperti balok atau lego membantu anak belajar berpikir logis, kreatif, dan fleksibel.
Penelitian yang dilakukan Ita dan mahasiswa Psikologi UI bahkan menemukan bahwa bermain peran (pretend play) berkaitan dengan peningkatan working memory dan fleksibilitas kognitif anak prasekolah. Selain itu, bermain memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan, sehingga membantu meredakan kecemasan.
Kategori Permainan dalam Perkembangan Anak
Permainan dapat dikelompokkan berdasarkan aspek kognitif maupun sosial. Secara kognitif, terdapat empat jenis utama:
- Motoric play, permainan yang melibatkan gerakan fisik dan sensori
- Constructive play, permainan membangun objek seperti lego atau puzzle.
- Dramatic/pretend play, permainan peran yang melatih kreativitas dan kemampuan sosial.
- Formal games with rules, permainan yang memiliki aturan jelas.
Secara sosial, permainan mencakup:
- Parallel play, bermain berdampingan tanpa interaksi langsung.
- Associative play, bermain dengan interaksi ringan
- Cooperative play, permainan yang melibatkan kerja sama kelompok.
Perkembangan teknologi juga melahirkan kategori digital play, mulai dari video game hingga aplikasi edukatif. Meski begitu, jenis permainan yang dilakukan anak tidak pernah benar-benar terkotak-kotak; satu aktivitas bisa mengandung beberapa bentuk permainan sekaligus.
Kesalahpahaman yang Sering Muncul
Masih banyak orang tua yang menganggap bermain adalah hal sepele atau membuang waktu. Padahal, bermain adalah “pekerjaan utama” anak pada usia dini. Tanpa bermain, anak kehilangan kesempatan emas untuk berkembang.
Anggapan bahwa video game selalu buruk juga tidak tepat. Banyak permainan digital yang terbukti meningkatkan kemampuan kognitif, emosional, bahkan dapat membantu anak mengatasi kecemasan.
Miskonsepsi lain adalah anggapan bahwa bermain harus melibatkan mainan mahal. Faktanya, benda-benda sederhana di rumah bisa menjadi sarana bermain yang kaya manfaat.
Ketika Anak Kurang Bermain
Anak yang kurang mendapatkan waktu bermain berkualitas cenderung lebih mudah bosan, sulit mengelola emosi, dan kesulitan bersosialisasi.
Dalam praktik klinis, Ita sering menemui anak-anak dengan tuntutan akademis tinggi yang mengalami kesulitan mengontrol emosi. Bermain sebetulnya menjadi wadah anak untuk melepas ketegangan dan mengisi ulang energi positifnya.
Peran Orang Tua dalam Kualitas Bermain
Gaya pengasuhan sangat memengaruhi kualitas bermain anak. Orang tua yang terlalu mengontrol dapat menghambat kreativitas anak. Dalam bermain, yang terpenting adalah inisiatif anak.
Orang tua bisa berperan sebagai pendamping, pengarah awal, atau pengamat—tetapi tidak mengambil alih permainan sebagai “sutradara”.
Bermain di Era Digital
Permainan digital membawa manfaat sekaligus tantangan. Ada permainan edukatif yang membantu perkembangan kognitif, ada pula yang kurang menstimulasi fisik.
Keseimbangan menjadi kunci: bermain digital perlu dilengkapi aktivitas fisik dan interaksi sosial langsung.
Apa yang Disebut Bermain yang Sehat?
Bermain yang sehat memenuhi tiga aspek:
- Sesuai usia dan perkembangan
- Durasi yang tepat
- Memberikan manfaat nyata.
Jika aktivitas bermain justru mengganggu fungsi sehari-hari anak, maka itu bukan permainan yang sehat.
Editor: Kendi Setiawan


