Masyarakat Indonesia masih berduka atas bencana yang terjadi di beberapa titik Pulau Sumatra. Hingga kini keadaan masih memilukan. Data terbaru dari BNPB per 9 Desember 2025 menyebutkan 961 jiwa meninggal dunia, 293 orang masih hilang, 5,7 ribu luka-luka, 994,8 ribu mengungsi dan menderita, 52 kabupaten/kota terdampak. Data itu kemungkinan masih terus bertambah mengingat kondisi lapangan yang belum stabil.
Pascabencana, luka yang tertinggal tidak hanya fisik tetapi juga permasalahan mental. Trauma, rasa takut, dan kehilangan seringkali membayangi para penyintas, terutama kelompok rentan. Melakukan upaya pemulihan kesehatan mental menjadi kebutuhan mendesak selain pemulihan fisik. Upaya pemulihan ini bukan sekadar mengobati rasa trauma tetapi sebuah langkah untuk membangun kembali harapan dan menumbuhkan rasa aman bagi para korban.
Bentuk terapi trauma pasca bencana bisa dilakukan dengan memberi dukungan psikologis lewat berbagai cara. Aktivitas kreatif dan relaksasi dalam trauma healing pasca bencana merupakan salah satu pendekatan yang paling efektif untuk membantu korban menyalurkan emosi mereka. Setelah mengalami bencana, banyak orang merasa sulit mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Di sinilah seni, musik, permainan, dan tulisan menjadi media yang efektif untuk mengekspresikan diri.
Namun, dengan catatan dukungan praktis pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, obat-obatan, dan tempat tinggal sudah diupayakan terlebih dahulu agar pemulihan secara psikologis bisa terlaksana dengan efektif. Berikut beberapa pilihan trauma healing dan psikososial pasca bencana yang bisa dilakukan. Aktivitas ini juga dapat menjadi pertimbangan para relawan yang menjadwalkan pendampingan kepada warga terdampak, tentunya disesuaikan dengan sumber daya dan situasi yang ada di lapangan.
1. Art Therapy (Terapi Seni)
Art Therapy bisa dilakukan dengan mewarnai pola-pola geometris atau mandala untuk membantu menenangkan pikiran, melatih fokus, dan mengurangi kecemasan.
Aktivitas ini cocok untuk semua usia. Bagi anak-anak terapi bisa dilakukan lewat melukis atau bermain peran sebagai cara simbolis untuk mengatasi rasa takut.
2. Music Therapy (Terapi Musik)
Musik juga bisa dijadikan pilihan. Mendengarkan lagu yang menenangkan atau bernyanyi bersama mampu menurunkan ketegangan sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas.
Musik bisa membantu menurunkan hormon stres (kortisol) dan meningkatkan hormon kebahagiaan (endorfin). Lagu-lagu yang dipilih bisa variatif, mulai dari lagu-lagu pop, tradisional hingga religius.
3. Play Therapy (Terapi Bermain)
Aktivitas ini digunakan khusus untuk anak-anak. Permainan bisa dilakukan dalam bentuk permainan peran, boneka, atau permainan kelompok. Bermain peran dalam drama memungkinkan para penyintas bisa menyalurkan emosi secara simbolis, sekaligus membangun rasa percaya diri dan kebersamaan.
Play Therapy sangat berguna untuk membantu anak mengatasi rasa takut dan cemas juga bisa menjadi media memupuk semangat dan harapan bagi anak-anak. Terapi bermain tidak hanya membuat mental lebih sehat tetapi juga memberikan kebahagiaan karena dilakukan sambil bermain.
4. Writing Therapy (Terapi Menulis)
Terapi ini bisa dilakukan dalam bentuk menulis jurnal, puisi, atau cerita tentang pengalaman. Aktivitas ini bisa membantu korban mengorganisasi pikiran dan mengurangi beban emosional. Korban juga bisa diajak untuk menyusun cerita secara kolektif.
Aktivitas ini memperkuat solidaritas, menumbuhkan harapan, dan menciptakan rasa kebersamaan.
5. Kerajinan Tangan (Handicraft)
Membuat origami, anyaman, atau prakarya sederhana bisa memberi fokus pada hal positif dan produktif. Para penyintas bisa mengalihkan kecemasan dengan media karya yang memungkinkan untuk dibuat.
6. Menari atau Gerakan Tubuh
Gerakan bebas atau tarian sederhana bisa membantu melepaskan ketegangan fisik dan emosional. Kegiatan ini juga memberi rasa lega dan kebebasan. Menari bersama tidak hanya bisa ditujukan pada anak-anak tetapi juga orang dewasa.
7. Mural Komunitas
Melukis mural bersama-sama bisa menjadi simbol pemulihan kolektif. Aktivitas ini memungkinkan untuk memperkuat ikatan sosial dan ruang edukasi bagi masyarakat.
Selain aktivitas kreatif, relaksasi menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Latihan pernapasan dalam, meditasi, atau yoga sederhana membantu korban menenangkan tubuh dan pikiran, sehingga bisa mengurangi kecemasan. Relaksasi bisa dilakukan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual.
Doa bersama atau dzikir juga bisa dilakukan untuk memberikan rasa aman, harapan, dan kekuatan batin, terutama di komunitas yang religius juga bisa menjadi pilihan. Dengan berbagai pilihan yang telah disajikan di atas, korban tidak hanya mendapatkan ketenangan sesaat, tetapi juga dukungan moral dan spiritual yang memperkuat daya tahan mereka.
Kombinasi antara aktivitas kreatif dan relaksasi bisa menjadikan trauma healing yang memberi manfaat bagi mental para korban. Seni dan permainan membuka ruang tersalurkannya ekspresi emosi, sementara relaksasi membantu menenangkan tubuh dan pikiran. Ketika keduanya digabungkan, korban bencana dapat menemukan kembali rasa kendali atas hidup mereka, mengurangi gejala stres pasca trauma, dan membangun solidaritas dengan sesama.
Lebih dari sekadar kegiatan, psikososial dan trauma healing melalui kreativitas dan relaksasi adalah proses pemulihan yang mencakup aspek tubuh, pikiran, dan jiwa, sehingga membuat para korban mampu melangkah kembali dengan penuh harapan.
Editor: Kendi Setiawan


