Dark
Light
Dark
Light

3 Langkah Membuat Aturan yang Membahagiakan Anak

3 Langkah Membuat Aturan yang Membahagiakan Anak

Hal yang tidak mudah dalam mendampingi tumbuh kembang anak adalah membuat peraturan dan batasan-batasan apa yang boleh dilakukan dan apa yang harus dihindari. Kita ingin anak-anak memahami tujuan hidup mereka, mengekspresikan kebahagiaannya, dan merasakan cinta kasih dari kita. Kendati begitu, secara bersamaan kita juga sadar bahwa anak-anak perlu memahami bagaimana menjadi tahu diri, mematuhi aturan, dan menampakkan empati demi kepentingan orang lain. 

Meski tak gampang, kita tak boleh menyerah, kesabaran dan ketenangan harus menjadi senjata pamungkas saat berkomunikasi dengan anak-anak. Kita perlu meraih rasa saling percaya agar kesadaran muncul sendiri dari benak anak bahwa dalam menjalani kehidupan bersosial mereka perlu memahami pentingnya sebuah aturan. Percakapan atas dasar saling memahami merupakan pola komunikasi yang bermakna dan memiliki kekuatan.

Berikut ini adalah sikap-sikap yang perlu dijalani agar anak tetap bahagia membuat dan melaksanakan sebuah aturan

1. Jadilah Teladan
Kebanyakan dari kita pasti sepakat bahwa anak-anak adalah prioritas. Tapi mari kita lihat faktanya. Kadang-kadang, malah kita sendiri berjibaku mencari celah waktu longgar untuk anak-anak. Pada saat ia tiba, tak jarang kita lupa arti kata prioritas. Saya merasakan betul kondisi itu.

Saat sibuk dengan pekerjaan, kita berharap waktu libur segera datang. Tapi pas momen itu dijalani kita justru nempel ke laptop, ada saja hal yang ingin diselesaikan. Di kota-kota besar, banyak orang tua yang merasakan situasi semacam ini. 

Meskipun demikian, kita tak boleh kalah dalam berjuang memenuhi kebutuhan anak-anak. Kita perlu berupaya mengubah pola hidup dan menunjukkan perilaku baik. Timothy J. Sharp menerangkan bahwa, "sebuah perbuatan positif yang dilakukan terus-menerus secara konsisten bisa mendatangkan kebahagiaan". Jika ini dilakukan, hal ini bisa membantu anak-anak memperoleh kebahagiaan. Caranya, pilih nilai-nilai kebaikan dianut, terapkan dalam perilaku yang sesuai untuk menunjukkan sikap menjunjung nilai-nilai tersebut. 

Anak-anak ibarat bumi yang kita tinggali, mereka menyerap segala yang ada di atasnya. Sebab itu, carilah strategi untuk menunjukkan keteladanan menerapkan nilai-nilai kebaikan seajeg mungkin. Timothy J. Sharp memberikan pertimbangan saran berikut ini saat mencontohkan perilaku yang tepat. Jika anak-anak berteriak pada anda atau orang lain, lebih baik berikan dorongan, saran, atau contoh tentang cara yang lebih berguna dan tidak agresif. Yang demikian itu lebih bermanfaat ketimbang menghukumnya. 

Jika anak-anak tak mau berbagi mainan dengan saudara atau temannya, bantu mereka bernegosiasi sehingga semuanya memiliki sesuatu untuk dimainkan. Tunjukkan kepada anak secara gamblang hal yang benar daripada repot-repot memberitahu tentang kesalahan yang telah dilakukan. 

2. Terapkan Disiplin Positif
Para orang tua sering sekali melakukan kesalahan yang sama, yaitu tidak teguh pada aturan yang telah dibuat. Bahkan, kadangkala aturan yang ada cenderung membabi buta dan tidak masuk akal, di dalamnya terkandung sifat intimidatif. Tidak disarankan bagi orang tua, membuat aturan untuk menegakkan disiplin namun cenderung kaku. 

Disiplin positif adalah sebuah upaya menerapkan aturan kepada anak-anak tanpa mematikan kebebasannya. Caranya? Berikan batasan yang jelas. Misalnya, orang tua melarang anaknya jajan di sekolah karena khawatir jajanan di sana tidak sehat. Semakin dilarang, biasanya anak-anak malah berusaha melanggarnya. Orang tua tidak memberi tahu batasan yang jelas pada larangan itu, padahal di rumah, orang tua seharusnya membangun dulu makna apa itu sehat, makanan seperti apa saja yang termasuk kategori sehat.

Dengan pengetahuan yang melekat itu maka tanpa laranganpun anak-anak akan mampu menilai sendiri jajanan di sekolah. Lagi-lagi Timothy mengingatkan, ternyata anak-anak menikmati lebih banyak kebebasan saat batasannya jelas. 

3. Berikan Pujian yang Proporsional
Anak-anak senang sekali bermain lego, ia membangun rumah-rumahan dan kisah yang menyertainya. Kita juga senang menyaksikan aksi seperti itu, sebab anak-anak menunjukkan kreativitas yang luar biasa. Tapi biasanya, di ujungnya kita sering uring-uringan rumah menjadi berantakan. Ditambah, anak-anak juga kerap kehilangan mainan kepunyaannya. Hal ini tak boleh dibiarkan dan dianggap sepele. Tanpa solusi yang sungguh-sungguh, sifat ceroboh dapat hingga dewasa kelak. 

Hal ini juga menantang, sekadar mengingatkannya berkali-kali agar mengembalikan barang mainan ke tempatnya semula sehabis permainan usai, tidak lantas muncul sebagai sebuah kesadaran bahwa itu penting bagi karakter positif anak-anak.

Setiap kali anak-anak mampu melakukan merapikan kembali barang-barang mainan ke wadah yang semestinya, janganlah pelit memberikan pujian yang wajar. Ucapkan juga rasa terima kasih yang tulus. Apalagi disertai dengan pelukan hangat. Anak-anak sejatinya tidak memerlukan perlakuan istimewa. Mereka ingin diakui telah melakukan sesuatu yang berarti, mereka ingin dihargai berhasil dalam sebuah pekerjaan berguna. 

Sikap orang yang demikian itu jauh lebih baik ketimbang harus terus-menerus mengingatkan, memaksa dengan ancaman, memarahi, atau mengoreksi kesalahan anak. Memberikan pujian dan penghargaan yang proporsional juga dapat meciptakan hubungan yang sehat antara anak dan orang tua. Selamat memetik makna.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo