Dark
Light
Dark
Light

Mengenal Iyas bin Mu'awiyah: Hakim Berintegritas yang Anti Suap

Mengenal Iyas bin Mu'awiyah: Hakim Berintegritas yang Anti Suap

Arina.id- Iyas bin Mu'awiyah al-Muzani adalah nama besar dalam sejarah peradilan Islam. Ia bukan hanya dikenal karena kecerdasannya, tetapi juga karena keteguhannya menjaga integritas. Sebagai qadhi (hakim) di Basrah, Iyas menjadi teladan dalam menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.

Ia dikenal berani menolak suap, tidak tunduk pada tekanan kekuasaan, dan tetap konsisten pada kebenaran. Sosoknya adalah gambaran ideal hakim yang menjunjung tinggi nilai Islam.

Penulis meringkas kisah Iyas ini berdasarkan penjelasan biografi panjang dari Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (Beirut: Darul Alimil Kutub, 2003, juz 13, h. 117).

Sejak usia muda, Iyas sudah menunjukkan kecakapan luar biasa dalam berpikir dan memutuskan perkara. Ia dikenal tajam dalam menganalisis, cepat menyimpulkan, dan selalu objektif dalam setiap keputusan. Meski usianya masih muda, banyak orang tua dan tokoh masyarakat datang kepadanya untuk meminta fatwa atau penyelesaian masalah.

Kematangannya tak hanya intelektual, tapi juga emosional. Inilah yang menjadikannya dipercaya memangku jabatan penting sebagai hakim.

Di masa pemerintahan Bani Umayyah, banyak hakim tunduk pada tekanan politik atau tergoda oleh imbalan. Namun Iyas tetap teguh. Ia menolak segala bentuk pemberian yang dapat memengaruhi keputusannya. Ia pernah berkata, "Orang yang menerima hadiah dari pihak bersengketa tidak bisa dipercaya keadilannya."

Kalimat itu menunjukkan integritasnya sebagai seorang hakim. Baginya, hukum harus bersih dari intervensi dan kepentingan pribadi.

"Suap adalah racun keadilan"

Satu kisah masyhur mencatat keberaniannya ketika berhadapan dengan pejabat tinggi yang hendak memanfaatkan kedudukan dalam sebuah sengketa. Iyas memanggil kedua belah pihak tanpa gelar, hanya menyebut nama.

Ketika sang pejabat keberatan, Iyas menjawab, “Aku memperlakukan kalian sama di pengadilan, sebagaimana Allah memperlakukan manusia sama di sisi-Nya.” Kalimat ini tidak hanya menunjukkan keberanian, tetapi juga semangat egalitarian dalam sistem hukum Islam.

Iyas juga terkenal tidak silau dengan harta. Ketika seseorang mencoba menyuapnya secara halus dengan hadiah, ia langsung menolaknya dan berkata, “Jika engkau benar, tak perlu hadiah. Jika engkau salah, hadiahmu takkan menyelamatkanmu.”

Ia menolak pemberian dari siapa pun yang sedang terlibat perkara. Penolakan itu menjadi bukti bahwa bagi Iyas, kehormatan sebagai hakim lebih tinggi daripada kenikmatan dunia yang fana.

Kecerdasan Iyas dalam menyelesaikan perkara pun tak kalah menakjubkan. Ia bisa menilai kejujuran seseorang hanya dari gaya bicara dan mimik wajah. Dalam satu kasus, dua orang berselisih soal harta, dan Iyas mengajukan satu pertanyaan singkat yang membuat salah satu dari mereka langsung terbongkar kebohongannya. Bukan karena ilmu sihir, tetapi karena ketajaman nalar dan pengalaman dalam membaca karakter manusia.

Meski dikenal tegas, Iyas bukan sosok yang kaku. Ia juga dikenal lembut dan sabar dalam mendengar pendapat. Bahkan terhadap orang awam yang tak mengerti hukum, ia tetap bersikap ramah. Ia menjelaskan hukum dengan bahasa sederhana agar dapat dipahami dengan mudah.

Prinsipnya, hukum tak boleh menjadi alat menakutkan, tetapi menjadi jalan penerang bagi masyarakat yang mencari keadilan.

Ulama-ulama besar menaruh hormat padanya. Muhammad bin Sirin berkata bahwa Iyas memahami sesuatu sebelum dijelaskan. Ia juga disebut “fahim” (pemaham) oleh Yahya bin Ma’in, dan dinyatakan tsiqah (terpercaya) oleh al-Nasa’i.

Pengakuan ini menunjukkan bahwa integritas Iyas tidak hanya dikenal di ruang pengadilan, tetapi juga di kalangan ilmuwan, perawi hadis, dan ulama fiqih masa itu.

Dalam perjalanan hidupnya, Iyas sempat bertemu dengan beberapa khalifah, termasuk Abdul Malik bin Marwan dan Umar bin Abdul Aziz. Namun kedekatannya dengan kekuasaan tidak membuatnya berubah. Ia tetap menegakkan keadilan meskipun harus mengoreksi kebijakan pejabat atau menolak kehendak orang besar.

Ia berprinsip bahwa hakim adalah pelayan kebenaran, bukan abdi penguasa. Prinsip ini membuatnya semakin disegani.

Tak hanya ahli hukum, Iyas juga dikenal sebagai perawi hadits dan pemikir tajam dalam bidang aqidah. Ia terlibat dalam perdebatan teologis dengan kelompok Qadariyyah dan selalu menempatkan argumen dengan adil. Namun, ia tidak mencampur urusan teologi dengan hukum.

Dalam ruang pengadilan, ia fokus pada bukti dan kesaksian, bukan pada latar ideologi atau kepercayaan seseorang. Ini membuktikan netralitasnya dalam bertugas.

Iyas sangat sederhana dalam hidup. Ia mengenakan pakaian kasar, duduk bersama rakyat jelata, dan tidak memisahkan diri dari masyarakat biasa. Ketika dikritik karena penampilannya yang sederhana, ia berkata, “Aku lebih suka dihormati karena keadilanku, bukan karena bajuku.”

Kalimat ini menegaskan bahwa bagi Iyas, wibawa tidak dibentuk dari simbol-simbol, tapi dari kualitas diri dan perbuatan nyata.

Dalam satu kisah, seseorang menyindirnya karena cepat dalam memberi keputusan. Iyas balik bertanya, “Mana lebih banyak, dua atau tiga?” Penanya menjawab, “Tiga.” Iyas tersenyum dan berkata, “Betapa cepat kau menjawab. Maka aku pun boleh cepat jika aku memahami.”

Dengan kata lain, kecepatan keputusan bukanlah kekurangan jika lahir dari pemahaman mendalam. Ini menjadi pelajaran penting dalam profesionalisme peradilan.

Iyas wafat tahun 122 H di Basrah. Ia meninggalkan warisan keteladanan yang tidak tertulis dalam buku, tetapi hidup dalam ingatan umat. Namanya disebut dalam banyak literatur sejarah Islam. Ia menjadi simbol bahwa sistem hukum Islam bisa dijalankan dengan integritas tinggi, bahkan di tengah kekuasaan politik yang kuat dan godaan harta yang melimpah. Warisannya tak lekang oleh zaman.

Di tengah dunia modern yang penuh korupsi, Iyas bin Mu'awiyah adalah cermin hakim ideal. Ia menunjukkan bahwa keadilan bukan hanya soal putusan hukum, tapi juga keberanian menjaga integritas. Ia menolak suap, tak takut pada penguasa, dan tak tunduk pada tekanan.

Kisahnya relevan untuk siapa pun yang ingin menegakkan keadilan tanpa kompromi. Iyas mengajarkan bahwa hakim sejati adalah penjaga nurani bangsa. Wallahu a'lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo