Arina.id - Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi hingga lupa bahwa hari yang telah kita lewati membawa kita lebih dekat kepada akhir kehidupan yakni kematian. Namun apakah pernah terlintas dibenak pikiran atau hati kita, sudah seberapa siap kita menghadapi kematian dengan berbagai amal ketaatan?
Allah SWT melalui firman-Nya juga berulang kali mengingatkan manusia tentang kematian dan kehidupan setelahnya. Dalam surat Al-Ankabut ayat 57, Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Artinya: "Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan."
Dalam literatur Islam ditemukan keterangan bahwa ternyata Allah tidak hanya memberi peringatan melalui wahyu yang Allah firmankan dalam Al-Qur'an. Bumi, tempat kita berpijak setiap hari, juga mengingatkan kepada manusia tentang kematian dan tujuan akhir dari perjalanan hidup yang fana ini.
Syaikh Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Nasaihul Ibad menulis keterangan dari sahabat Anas Bin Malik bahwa setiap hari bumi memberikan 10 panggilan peringatan kepada manusia agar sadar bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kita akan kembali menghadap sang pencipta untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang pernah kita lakukan.
قال أنسُ بنُ مالكٍ رضيَ اللهُ عنهُ: إنَّ الأرضَ تُنادِي كُلَّ يومٍ بعشرِ كلماتٍ وتقولُ: يا ابنَ آدمَ، تَسعَى على ظهري ومصيرُكَ في بطني، وتَعصي على ظهري وتُعذَّبُ في بطني، وتَضحَكُ على ظهري وتَبكِي في بطني، وتفرَحُ على ظهري وتَحزَنُ في بطني، وتجمَعُ المالَ على ظهري وتَندَمُ في بطني، وتَأكلُ الحرامَ على ظهري وتَأكُلُكَ الديدانُ في بطني، وتَختالُ على ظهري وتُذلُّ في بطني، وتَمشِي مَسرورًا على ظهري وتَقَعُ حزينًا في بطني، وتَمشِي في النُّورِ على ظهري وتَقَعُ في الظلماتِ في بطني، وتَمشِي على المجامعِ على ظهري وتَقَعُ وحيدًا في بطني.
Dari teks ini sahabat Anas bin Malik mengisahkan 10 peringatan bumi kepada manusia yang seharusnya menyadarkan kita akan kehidupan ini. Mari kita renungkan satu per satu;
1. Kamu berjalan di atas punggungku, tapi tujuan akhirnya adalah di dalam perutku.
Kita hidup dan bergerak di atas bumi, namun pada akhirnya kita semua akan kembali ke tanah. Ini mengingatkan kita bahwa hidup ini fana, dan apa pun yang kita capai tidak akan abadi.
2. Kamu bermaksiat di atas punggungku, tapi akan disiksa di dalam perutku.
Banyak orang merasa aman saat berbuat dosa di dunia ini, tetapi hukuman menunggu di akhirat. Tidak ada dosa yang tidak akan diperhitungkan, semuanya akan dibalas.
3. Kamu tertawa di atas punggungku, tapi akan menangis di dalam perutku.
Kesenangan dunia sering membuat kita lupa akan hakikat hidup yang sebenarnya. Di akhirat, mereka yang lupa dan lalai akan merasakan penyesalan mendalam.
4. Kamu bersenang-senang di atas punggungku, tapi akan berduka di dalam perutku.
Hidup ini penuh dengan kesenangan sementara, tetapi kebahagiaan sejati ada di akhirat. Jika hanya mengejar dunia, kita akan sangat merugi di akhirat nanti.
5. Kamu mengumpulkan harta di atas punggungku, tapi akan menyesal di dalam perutku
Harta benda yang kita kumpulkan di dunia tidak akan menemani kita setelah mati. Amal kebaikan di dunia lah yang akan menemani kita menghadapi pertanya malaikat Munkar dan Nakir dalam kubur.
6. Kamu memakan yang haram di atas punggungku, tapi cacing-cacing akan memakanmu di dalam perutku.
Makanan yang haram mungkin terlihat lezat di dunia ini, tetapi pada akhirnya tubuh kita hanya akan menjadi makanan cacing di kuburan.
7. Kamu berbangga diri di atas punggungku, tapi akan dihinakan di dalam perutku.
Kebanggaan yang berlebihan atas apa yang kita miliki atau capai hanya sementara. Di kuburan, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan.
8. Kamu berjalan dengan gembira di atas punggungku, tapi akan jatuh dengan sedih di dalam perutku.
Kebahagiaan dunia tidak sebanding dengan kesedihan di akhirat jika hidup kita hanya terfokus pada hal-hal duniawi.
9. Kamu berjalan dalam cahaya di atas punggungku, tapi akan jatuh dalam kegelapan di dalam perutku.
Cahaya yang kita miliki di dunia haruslah cahaya ketaatan. Jika tidak, kita akan terperosok ke dalam kegelapan di kuburan.
10. Kamu berjalan di atas pertemuan di atas punggungku, tapi akan jatuh sendirian di dalam perutku.
Kematian adalah perjalanan yang kita jalani sendirian. Tidak ada teman atau keluarga yang akan menemani kita di kubur.
Sebagai penutup uraian ini dapat kita ambil pelajaran bahwa hidup di dunia ini bukanlah tujuan sebenarnya. Janganlah tertipu oleh kesenangan dunia yang sementara, karena hakikat istirahat sejati hanya ada di surga. Selama napas masih berhembus, mari kita gunakan waktu untuk mengumpulkan bekal amal kebaikan.
Tiada kata istirahat sebelum kaki ini menginjak tanah surga dan hanya mereka yang berjuang di jalan-Nya dengan ikhlas yang akan merasakan kenikmatan itu. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


