Dark
Light
Dark
Light

Jeddah: Simpul Laut, Doa, dan Diaspora

Jeddah: Simpul Laut, Doa, dan Diaspora

Andai sejarah adalah jaring laba-laba, maka Jeddah adalah titik-titik simpul yang menyatukan arah angin dari Zanzibar, Hadhramaut, Gujarat, Istanbul, dan Aceh. Kota ini bukan sekadar gerbang ke Makkah, bukan sekadar pelabuhan. Ia adalah nadi tempat Islam menjadi bukan hanya doktrin, tetapi juga komoditas, jaringan, bahasa, dan rumah sementara bagi mereka yang terus berpindah. 

Dalam nafas malam Jeddah yang asin, tercium aroma kopi dari Harar, dupa dari Malabar, dan desah zikir yang diselipkan ke dalam riuh tawar-menawar para pedagang kain. Ulrike Freitag, sejarawan dengan ketajaman mata seperti penenun kamitua yang tahu di mana benang disimpul dan di mana ia retak, menulis Jeddah seperti menulis puisi yang ditanam di arsip, disiram oleh percakapan, dan dituai oleh peziarah yang tidak pernah kembali ke asal.

Buku A History of Jeddah: The Gate to Mecca in the Nineteenth and Twentieth Centuries (2020) bukan sekadar sejarah kota. Ia adalah sejarah cara hidup. Freitag menolak melihat kota ini sebagai pinggiran. Ia menjadikannya pusat—pusat dari perdagangan samudera, pusat dari ritual haji, pusat dari migrasi, pusat dari percakapan tentang identitas, ruang, dan bagaimana kota itu membentuk mereka yang tinggal di dalamnya.

Jeddah adalah kota yang belajar untuk hidup dengan perbedaan. Di masa tatkala negara-negara membangun tembok dan paspor menjadi mantra penolak, Jeddah sudah sejak abad ke-19 menjadi rumah dari mereka yang tak pernah seratus persen diterima di tempat asalnya. Orang Hadhrami membangun rumah di sini, membuka toko, menikahi perempuan lokal, dan perlahan menyulam akar yang tidak pernah tunggal.

Kemudian orang Afrika Timur, orang India, orang Mesir, orang Pattani—semuanya datang, dan kota ini menerima mereka tidak karena kebijakan imigrasi, tetapi karena iman, perdagangan, dan musim. Jeddah tidak punya musim seperti Eropa, tetapi ia punya musim haji: musim ketika kota ini membengkak, menyambut ribuan tubuh yang haus akan penebusan, dan serentak, mendongkrak roda ekonominya.

Freitag meneroka bahwa Jeddah mengalami tiga rezim besar antara 1840 hingga pertengahan abad ke-20: Turki Utsmani, Hashemite, dan Saudi. Ketiganya datang dengan visi tentang bagaimana kota harus diatur. Akan tetapi yang menarik dalam deskripsi Freitag bukan siapa yang berkuasa, melainkan bagaimana kekuasaan itu dirundingkan di jalanan, di rumah-rumah, di masjid, dan di pelabuhan. Kekuasaan bukan sesuatu yang jatuh dari atas, tetapi dibentuk di perbatasan—antara imigran dan penduduk lama, antara negara dan pasar, antara agama dan praktik sehari-hari.

Pusat dari semua ini adalah haji. Haji bukan sekadar rukun Islam kelima. Ia adalah peristiwa logistik terbesar dunia Islam. Setiap tahun, puluhan ribu manusia datang, dan Jeddah menjadi titik masuk. Maka seluruh infrastruktur kota ini—dari rumah sewaan, pelabuhan, toko kain, dapur umum, hingga sistem keamanan—diatur untuk melayani tamu-tamu Tuhan. Namun, seperti yang disiratkan Freitag, Tuhan bukan satu-satunya yang dilayani. Modal pun ikut serta. Haji adalah iman yang menjadi industri. Dan industri ini menghidupi Jeddah dengan cara yang tidak sinis, tetapi juga tak suci. Ia hanya nyata.

Ada kisah rumah di balik kisah-kisah besar itu. Freitag menelusuri bagaimana arsitektur rumah-rumah tua Jeddah—dengan “rawashin” (rawāshiin) kayunya nan cantik dan sistem ventilasi yang cerdas—bukan hanya tempat tinggal, tapi juga pernyataan sosial. Rumah adalah tempat negosiasi gender, tempat perempuan mengatur logistik rumah tangga dan terkadang juga bisnis keluarga. Kosmopolitanisme itu dijalani di dalam rumah: dalam dapur yang memasak rempah dari India, dalam ruang tamu yang menerima tamu dari Afrika Timur, dalam kamar anak-anak yang berbicara dalam tiga bahasa sekaligus.

Namun tidak semua berjalan mulus. Modernisasi datang dengan bulldozer. Tembok kota dihancurkan tahun 1947. Jalan-jalan dibuka untuk mobil. Rumah-rumah tua dijual, ditinggalkan, atau diruntuhkan. Kota ini, seperti kota liyan di dunia, mulai kehilangan suara lamanya. Negara Saudi modern tidak selalu melihat nilai dari rumah-rumah dengan balkon kayu dan dinding karang. Ia ingin jalan lebar, mal besar, hotel bintang lima. Maka Jeddah yang lama mulai menghilang. Akan tetapi, seperti semua kota yang punya jiwa, ia tidak benar-benar mati. Ia hanya pindah ke ingatan.

Freitag sangat peka terhadap yang hilang. Ia menulis bukan hanya sejarah tentang apa yang ada, tapi juga tentang apa yang tak lagi ada. Ia menyisir arsip laksana menyisir pantai setelah badai: mencari yang tertinggal, menanyakan yang lenyap, dan membisikkan nama-nama yang tidak disebut dalam narasi negara. Inilah kekuatan buku ini—dan kekuatan Jeddah itu sendiri. Ia adalah kota yang ditulis dari bawah. Dari langkah kaki peziarah, dari tangan ibu rumah tangga, dari catatan akuntansi toko kecil, dari foto hitam-putih seorang pelaut dari Zanzibar.

Hari ini, ketika dunia Islam dilukiskan secara homogen dalam wacana media global, kisah Jeddah menjadi oase. Ia mengingatkan kita bahwa dunia Islam selalu berlapis, selalu berpindah, selalu merundingkan identitasnya dalam ruang yang terbuka dan kadang rapuh. Jeddah mengajarkan bahwa kota bisa menjadi tempat beriman dan berdagang sekaligus. Bahwa iman bisa hidup dalam hiruk pasar, dalam penginapan murah, dalam pelabuhan yang bising. Kota yang baik bukanlah kota yang steril, tetapi kota yang tahu cara menyambut—bahkan ketika yang datang tak membawa apa-apa selain doa.

Kalakian, di akhir bukunya, Freitag tidak memberikan simpulan besar. Ia hanya membuka jendela, membiarkan kita melihat Jeddah dari pelbagai arah: sebagai pelabuhan, sebagai tempat singgah, sebagai ruang negosiasi, sebagai kota yang terus berubah tapi tetap menjadi jantung dari jaringan global Islam dan ekonomi transnasional. Mungkin di situlah letak kebijaksanaan sejarah—bukan untuk menjelaskan segalanya, tetapi untuk menunjukkan bahwa di antara reruntuhan tembok kota, masih ada ruang untuk pertemuan, untuk ziarah, dan untuk kisah yang tak paripurna.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo