Dark
Light
Dark
Light

Belajar dari Cangkul dan Pasar untuk Bekal Melintasi Kehidupan

Belajar dari Cangkul dan Pasar untuk Bekal Melintasi Kehidupan

Perjalanan hidup manusia sudah diatur oleh Allah swt melalui qada dan qadarnya. Nasib manusia sudah diputuskan oleh Allah sejak zaman azali sebagai qada dan qadarnya adalah realisasi Allah atas qadha terhadap diri manusia sesuai dengan kehendak-Nya. 

Namun dengan adanya qada dan qadar, manusia tidak berarti berpangku tangan dan hanya pasrah terhadap perjalanan hidup. Dalam Islam, manusia tetap diperintahkan oleh Allah untuk melakukan ikhtiar (usaha) untuk menjadikan kualitas hidupnya lebih baik. Bukan hanya ikhtiar, upaya lain juga harus ditempuh yakni dengan doa.

Dalam filosofi jawa, keselarasan antara ikhtiar dan doa ini digambarkan dengan pacul (cangkul). Cangkul adalah alat bekerja para petani yang memiliki 2 bagian utama yakni lempengan besi dan pegangannya. Lempengan besi ini mengambarkan ikhtiar untuk menjadikan hidup lebih baik.

“Lempengan besi ini fungsinya untuk ditancapkan ke tanah dan membaliknya agar tanah yang awalnya tandus menjadi subur yang kemudian kita tanami,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Pendidikan Prof. Moh. Mukri saat berdiskusi dengan Arina.id, Jumat (10/8/2024).

Lempengan ini tidak akan bisa berfungsi dengan baik jika tidak dipasang pegangannya yang dalam Bahasa Jawa disebut dengan Doran. Ada makna filosofi dari nama Doran yakni “Doa marang Pangeran” (Doa kepada Tuhan).

“Kita diperintahkan tidak hanya bekerja saja. Semua usaha dan kerja kita harus diikuti dengan doa kepada Allah swt agar memberikan yang terbaik bagi kita,” jelasnya.

“Dari pacul dan doran ini kita bisa belajar bahwa kita harus bekerja dengan maksimal dan semua itu kita pasrahkan kepada Allah melalui doa. Dengan hal ini, maka kehidupan kita di dunia ini akan berkualitas,” imbuh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung ini.

Prof Mukri, juga mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini seperti pergi ke pasar yang di dalamnya banyak orang (pedagang dan pembeli) dan banyak barang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurutnya, selengkap-lengkapnya pasar, sebagus apapun pasar, seramai apapun pasar, pasti orang yang ke pasar akan pulang kembali ke rumahnya masing-masing.

“Dunia ini tempat mencari bekal yang di dalamnya banyak lahwun wa la’ib (permainan dan senda gurau). Nanti kita akan kembali yang dalam Al-Qur’an disebutkan: Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. (Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepadaNyalah kita akan kembali),” katanya.

Oleh karena itu, bekal yang harus disiapkan ini harus diusahakan dengan maksimal dengan cara terus berbuat kebaikan. Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan akan berbuah kebaikan pula dan bisa menjadi bekal yang berkualitas dalam perjalanan hidup. Sebaliknya, jika kita melakukan keburukan, maka keburukanlah yang akan datang menghampiri kehidupan kita.

“Kita harus menjadi pribadi yang mampu memberi kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Kita harus bertekad menjadi orang yang mampu mewujudkan terselenggaranya kebaikan di sekitar kita,” ajaknya.

Rasulullah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain." (HR Ath-Thabari).

Terkait kebaikan dan manfaat dari berbuat baik, serta balasan bagi yang berbuat buruk juga sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Lail ayat 5-10:

فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ ۝٥ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ ۝٦ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ ۝٧ وَاَمَّا مَنْۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنٰىۙ ۝٨ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰىۙ ۝٩ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ ۝١٠

Artinya: “Siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya (balasan) yang terbaik (surga), Kami akan melapangkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan). Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (balasan) yang terbaik, Kami akan memudahkannya menuju jalan kesengsaraan.”


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo